Daftar harga Obat Perikanan

 

No

NAMA

HARGA (Rupiah)

BERAT BERSIH

KETERANGAN

1

Ovaprim

Rp. 270.000

10 ml

Hormon Perangsang Ovulasi

2

Choluron

Rp. 120.000

5 ml

3

Nusim

Rp. 35.000

50 gr

Pembasmi Bakteri, Virus dan Jamur

4

Premium C Aquatic

Rp. 35.000

100 gr

Vitamin C untuk Ikan

5

Enrofish

Rp. 35.000

100 cc

Pencegahan Penyakit

6

Aqua Simba D

Rp. 50.000

1 liter

Probiotik cair

7

Tiger Bac

Rp. 100.000

500 gr

Pupuk Probiotik untuk media bak terpaldan bak tembok

8

Super Lele

Rp. 50.000

500 ml

Probiotik

9

Repture

Rp. 75.000

1 liter

Probiotik cair

10

Nutrifish

Rp. 75.000

1 liter

Nutrisi tambahan untuk ikan

11

Stabilizer

Rp. 100.000

120 ml

Obat bius untuk benih dan indukan ikan

12

Gold 100

Rp. 15.000

 

Obat anti biotik

13

Elbayu

Rp. 15.000

 

Obat stress ikan khusus untuk Packing

14

Tosim

Rp. 35.000

 

Obat anti jamur

15

Feeding Tub (kateter)

Rp.100.000

 

Selang Pemeriksaan Telur ikan

16

Artemia (pakan)

Rp. 400.000-

Rp. 600.000

 

Pakan alami untuk larva

 

Advertisements

Budidaya Ikan Baung

DESKRIPSI IKAN BAUNG

1.1 SEJARAH SINGKAT

Ikan baung (Mystus nemurus C.V) termasuk ikan asli Indonesia, tetapi namanya tidak populer seperti ikan-ikan air tawar lainnya. Bahkan ikan ini sepertinya dianggap tidak ada, dan tak pernah dilirik orang. Ini wajar karena lidah orang Indonesia belum terbiasa dengan rasa ikan ini. Mereka lebih terbiasa dengan ikan mas, nila, dan lele.

Meski tidak populer, tetapi pasar ikan baung tetap terbuka. Karena ikan ini dapat dijual baik di pasar domestik mapun pasar internasional. Pasokan dari produsen masih belum mampu memenuhi permintaan. Karena jumlah pembudiadayanya masih sedikit. Keadaan ini telah membuka peluang untuk menjadi sebagai lahan usaha.

Di beberapa daerah dan negara, sebutan baung berbeda-beda, atau disebut pula dengan nama lokal. Di Jakarta dan Malaysia ikan baung lebih dikenal dengan tiga sebutan, yaitu ikan bawon, ikan singal, dan ikan senggal. Sementara itu di Jawa Barat disebut ikan singgah, dan di Jawa Tengah terkenal dengan sebutan tagih dan tenggah. Sedangkan ikan baung sendiri berasal dari Sumatra dan Kalimantan.

Sama seperti ikan lain budidaya ikan baung dimulai dengan pembenihan. Pembenihan tidak dilakukan secara alami, tetapi hanya bisa dilakukan secara buatan. Namun cara itu untuk saat ini tidak sulit.

Pada tahap pembesaran juga tidak sulit. Karena ikan baung dapat dipelihara dalam wadah apa saja, termasuk di kolam tanah dan jaring terapung. Sistem pemeliharannya sama dengan ikan-ikan yang lainnya, bisa secara tradisional bisa juga secara intensif. Namun satu hal yang harus dipikirkan. Jangan pernah berhenti di tengah jalan.

1.2 KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI

Ikan dan juga hewan lain bisa dibedakan dari klasifikasinya. Klasifikasi ini di buat oleh para ahli biologi. Seorang ahli bernama Imaki et al. (1978) mengklasifikasikan ikan baung ke dalam

Phylum            : Chordata;

Class                : Pisces;

Sub class          : Teleostei;

Ordo                : Ostariophysi;

Sub ordo          : Siluridea;

Family             : Bagridae;

Genus              : Mytus; dan

Species            : Mytus nemurus C.V

Selain digolongkan melalui klasifikasi, setiap mahluk bisa dibedakan dari tanda-tanda bagian tubuhnya, atau lebih dikenal dengan istilah morfologi. Baung mempunyai bentuk badan memanjang, dengan perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan 4 : 1. Baung juga berbadan bulat dengan perbandinga tinggi badan dan lebar badan 1 : 1. Keadaan itu bisa dibilang badan baung itu bulat. Punggungnya tinggi pada awal, kemudian merendah sampai di bagian ekor.

1.3 HABITAT DAN PENYEBARAN

Ikan baung adalah ikan asli Indonesia. Ikan ini banyak hidup di air tawar. Daerah yang paling disukai adalah perairan yang tenang, bukan air yang deras. Karena itu, ikan baung banyak ditemukan di rawa-rawa, danau-danau, waduk dan perairan yang tenang lainnya. Meski begitu, ikan baung tetap memerlukan oksigen yang tinggi untuk kehidupannya.

Ikan baung tumbuh dan berkembang di perairan tropis. Daya adaptasinya tergolong rendah, kurang tahan terhadap perubahan lingkungan, dan serangan penyakit. Ketidaktahanan pada keduanya terutama terjadi pada fase benih yaitu dari ukuran 0,5 – 2 cm.

Ikan baung dapat hidup pada ketinggian sampai 1.000 m di atas permukaan laut, hidup baik pada suhu antara 24 – 29 O C, derajat keasaman (pH) antara 6,5 – 8, kandungan oksigen minimal 4 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk.

Di Sumatra, ikan baung banyak ditemukan di Danau Toba, tetapi populasinya terus berkurang, karena adanya penangkapan yang tidak selektif. Di Danau tondano Sulawesi, ikan baung juga banyak ditemukan, tetapi jumlahnya sudah sangat sedikit. Demikian juga dengan danau-danau, dan rawa-rawa lain yang ada diseluruh Indonesia.

Di Jawa Barat, ikan baung banyak ditemukan di tiga waduk besar, yaitu Waduk Jatiluhur, Saguling dan Cirata. Populasi ikan baung di ketiga waduk itu cukup tinggi, mengingat keadaan perairan yang sesuai dengan habitat hidupnya. Bagi masyarakat sekitar waduk, ikan baung telah menjadi salah satu ikan tangkapan yang dapat menjadi sumber kehidupan.

Selain di danau, rawa dan waduk, ikan baung juga sering ditemukan di sungai-sungai. Tentu saja bukan sungai yang berair deras, tetapi sungai yang arus airnya lambat. Ikan baung banyak ditemukan di sungai-sungai di Propinsi Riau. Selain di sana, ikan baung juga banyak ditemukan di sungai lain di seluruh Indonesia.

Ikan baung termasuk ikan yang penyebarannya cukup luas. Selain di Indonesia, ikan baung juga banyak ditemukan di Hindia Timur, yang meliputi Malaya, Indocina, Singapura dan Thailand. Menurut Sriyusanti, selain di Benua Asia, ikan baung juga banyak ditemukan di Benua Afrika.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

2.1  MANAJEMEN INDUK

Kolam induk ikan baung adalah tempat untuk pematangan gonad induk jantan dan betina, sebelum atau sesudah dipijahkan. Tidak seperti ikan nila dan mas, kolam induk jantan dan betina harus dibuat terpisah, kolam induk Baung bisa disatukan. Karena pada ikan Baung tidak akan terjadi pemijahan liar.

Kolam induk ikan baung sebaiknya dibuat dari beton, atau tembok, agar kuat. Kalau tidak ada kolam beton, bisa juga kolam tanah, karena kolam ini tidak terlalu lama digunakan, dan sewaktu-waktu bisa diperbaiki. Ukuran kolam induk tidak boleh terlalu luas, maksimal 50 m2. Tujuannya agar memudahkan dalam pengeringan sewaktu seleksi.

Seperti kolam-kolam lainnya, kolam-kolam ini dilengkapi dengan lubang pemasukan, dan pengeluaran air. Tujuannya agar memudahkan dalam pengairan kolam, sehingga kualitas air dapat tetap baik. Keadaan dasar kolam harus melandai ke lubang pengeluaran air, agar memudahkan dalam pengeringan

Induk baung dipelihara dengan kepadatan 3-5 ekor/m2. Kolam pemeliharaan induk dapat berupa kolam tanah atau tembok dan memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Kualitas air untuk induk adalah ; suhu 25-30 0C, pH 6,0-8,5 dan kandungan oksigen terlarut >4 mg/L.

Dalam pemberian Pakan Induk Ikan Baung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :

  1. Pemberian pakan disarankan menggunakan pakan alami seperti keong Mas, kerang air tawar, dan lain-lain
  2. Pengistirahatan dilakukan induk setelah menginjak musim kemarau
  3. Jika menggunakan pakan buatan/pellet, memiliki kandungan Protein 30-35%, pemberian Pakan dilakukan setiap hari sebanyak 3 % bobot biomas/hari dengan frekuensi pemberian Pakan 2-3 kali/hari

 

2.2  SELEKSI INDUK

Jantan dan betina setiap hewan, termasuk ikan baung dapat dibedakan dengan jelas. Tentu saja sebelumnya harus dipelajari terlebih dahulu, yaitu dengan melihat dari dekat tanda-tanda pada tubuh ikan tersebut. Bagi yang sudah paham, membedakan jantan dan betina tidak harus dari dekat, tetapi dari jauh saja sudah cukup.

Seperti hewan lain, ikan baung bisa dibedakan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh bagian luar. Untuk membedakan kedua jenis itu dapat dilihat dari bentuk tubuh, warna kulit, dan alat kelamin. Pada organ tubuh itu jelas sekali perbedaannya. Agar lebih paham, seorang pembudidaya harus terjun langsung membedakan sendiri.

Induk jantan ditandai dengan tubuh ramping dan panjang, warna kulit cerah agak kemerahan, serta memiliki satu alat kelamin yang bentuknya panjang. Pada jantan yang matang, warna kelamin memerah dan agak menggembung. Selain itu bila diurut terkadang keluar cairan berwarna putih susu.

Sedangkan induk betina ditandai dengan tubuh gemuk dan pendek, warna kulit agak kusam dan lebih halus, serta memiliki dua alat kelamin, satu untuk mengeluarkan telur, dan satu lagi untuk mengeluarkan air kencing. Pada induk yang sudah matang dapat dicirikan dengan perutnya yang gendut, permukaan kulit lebih lembut, bila diurut terkadang keluar telur berwarna kecoklatan.

 

2.3  PEMIJAHAN

Meski merupakan ikan asli Indonesia, tetapi baung belum dapat dipijahkan secara alami. Ikan baung hanya dapat dipijahkan secara buatan. Yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang keluarnya telur ke dalam tubuh lalu mengeluarkan telur dengan cara mengurut perutnya. Mengingat pengamatan kearah itu jarang dilakukan para ahli. Bisa juga karena pemijahan buatan dianggap lebih praktis.

Pemijahan Buatan yaitu memberikan rangsangan hormon hipophysa untuk mempercepat kematangan gonad serta ovulasinya dilakukan secara buatan dengan tehnik stripping/pengurutan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin :

–          Gametogenesis : Memacu kematangan telur dan sperma, disebut Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur dari jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi, perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat yang baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).

–          Mendorong nafsu sex (libido)

Ekstrak hipofisa dapat berasal dari ikan lele atau ikan mas sebagai donor. Penyuntikan dengan ekstrak hipofisa dilakukan dengan dosis 1 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan lele) atau 2 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan mas). Penyuntikan menggunakan Ovaprim dilakukan dengan dosis 1 ml/kg induk ditambah larutan Aquades  sebanyak 0,5 ml/kg induk.

Penyuntikan dilakukan satu kali secara intramuscular yaitu pada bagian punggung ikan. Rentang waktu antara penyuntikan dengan ovulasi telur 10 – 12 jam tergantung pada suhu inkubasi induk.

Prosedur pemijahan buatan meliputi:

  • Pemeriksaan ovulasi telur pada induk betina,
  • Pengambilan kantung sperma pada ikan jantan,
  • Pengenceran sperma pada larutan fisiologis (NaCl 0,9%) dengan perbandingan 1 : 50 – 100, Pengurutan induk betina untuk mengeluarkan telur
  • Pencampuran telur dan sperma secara merata untuk meningkatkan pembuahan (fertilisasi),
  • Penebaran telur yang sudah terbuahi secara merata pada media Aquarium atau Bak Fiber.

Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir untuk menjamin ke tersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi. Peningkatan kandungan oksigen terlarut dapat pula diupayakan dengan pemberian airasi. Telur Baung menetas 30 – 36 jam setelah pembuahan pada suhu 22 –25 oC. Larva Baung yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang akan diserap sebagai sumber makanan bagi larva sehingga tidak perlu diberi pakan. Penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hapa penetasan. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva umur 4 – 5 hari atau ketika larva sudah dapat berenang bebas dan berwarna hitam

Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan (rGH) part 2

Ikan gurame bisa tumbuh 2 kali lebih cepat dari biasanya

Ikan gurame merupakan salah jenis ikan budidaya yang termasuk dalam 11 jenis yang menjadi target peningkatan produksi perikanan budidaya 353% pada tahun 2014 yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Target produksi ikan gurame pada tahun 2014 adalah 48.900 ton atau meningkat 127% dibandingkan tahun 2009.  Untuk mencapai target produksi yang tidak seperti era sebelumnya tersebut, diperlukan terobosan-terobosan yang juga belum pernah dilakukan sebelumnya.
Peningkatan kecepatan tumbuh diduga merupakan terobosan signifikan dalam membantu pencapaian target produksi ikan gurame. Kecepatan tumbuh ikan dapat ditingkatkan melalui berbagai cara, seperti rekayasa individu/populasi (misal: seleksi individu dan famili) dan rekayasa molekular (yaitu: rekayasa DNA/gen dan protein). Tingkat perbaikan kecepatan tumbuh ikan yang diperoleh dengan menggunakan metode seleksi adalah relatif rendah (rata-rata 10% per generasi) sehingga diperlukan waktu relatif lama untuk mencapai tingkat perbaikan yang signifikan.  Ikan gurame mencapai matang kelamin pertama kali adalah relatif lama, yaitu sekitar 2-3 tahun.  Selain itu, pemijahan ikan gurame belum bisa dikontrol dengan baik sehingga waktu yang diperlukan untuk memperoleh benih melalui persilangan relatif sulit diprediksi.
Sementara itu dengan metode transfer gen, perbaikan kecepatan tumbuh secara spektakuler (sekitar 100 – 3.000%) bisa diperoleh lebih cepat, yaitu pada generasi ketiga.  Tahap awal dalam usaha untuk membuat ikan gurame transgenik telah dilakukan, meliputi isolasi gen pengontrol pertumbuhan, pembuatan vektor ekspresi dan pengembangan metode transfer gen melalui sperma.  Kegiatan tersebut dilakukan bekerjasama dengan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor dan BBPT Serpong sejak 2 tahun yang lalu.  Namun demikian, seperti disebutkan sebelumnya bahwa ikan gurame lambat untuk mencapai matang gonad pertama kali, sehingga diperlukan lebih dari 6 tahun untuk memperoleh ikan gurame transgenik yang tumbuh cepat.
Induksi pertumbuhan ikan menggunakan protein pemacu tumbuh hasil rekayasa protein (rekombinan protein) merupakan metode alternatif yang lebih cepat untuk memperoleh hasil signifikan dibandingkan dengan seleksi dan transfer gen. Beberapa peneliti juga telah melaporkan bahwa peningkatan kecepatan tumbuh yang dihasilkan menggunakan protein rekombinan adalah relatif tinggi, bisa mencapai lebih dari 100%; atau setara dengan 10 generasi melalui metode seleksi.  Sebagai langkah awal untuk memacu pertumbuhan ikan gurame menggunakan protein rekombinan, melalui Hibah Kompetensi DIKTI (No.: 219/SP2H/PP/DP2M/V/2009) a.n. Dr. Alimuddin,  telah dihasilkan 3 jenis protein rekombinan pemacu tumbuh dari tiga jenis ikan, yaitu ikan gurame, ikan mas dan ikan kerapu kertang.
Hasil uji bioaktivitas protein rekombinan pada benih ikan gurame menunjukkan bahwa kecepatan tumbuh ikan gurame hampir 100%, atau sekitar 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan ikan yang tidak diberi protein tersebut.  Ikan yang dihasilkan juga memiliki ukuran relatif seragam (variasi sekitar 5%) dibandingkan dengan ikan kontrol (variasi 30%).  Dengan demikian, melalui penggunaan protein rekombinan, petani ikan gurame bisa panen lebih cepat dan kemungkinan ukuran ikan yang dihasilkan seragam sehingga bisa dijual dalam sekali waktu panen dengan harga relatif sama.
Produk yang telah dikembangkan ini diharapkan menjadi salah satu jalan pintas yang cepat dan signifikan dalam membantu pencapaian target produksi KKP 2014.  Metode pemberian protein rekombinan yang dilakukan dalam pengujian bioaktivitasnya masih tidak praktis bagi petani ikan.  Oleh karena itu, akan dilakukan penelitian aplikatif untuk menghasilkan paket teknologi protein rekombinan yang tepat guna termasuk menentukan skala minimal tingkat produksi yang ekonomis.

Sumber : http://lppm.ipb.ac.id

Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan (rGH) part 1

“Sebuah Harapan Baru Untuk Perikanan Indonesia”

Pertumbuhan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha budidaya perikanan. Pertumbuhan yang lambat akan menyebabkan lamanya waktu pemeliharaan dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan, lamanya waktu pemeliharaan juga akan meningkatkan resiko-resiko dalam pemeliharaan, seperti terserang penyakit, kematian massal, dan sebagainya.

Berbagai upaya penelitian telah dilakukan untuk meningkatan laju pertumbuhan ikan budidaya, khususnya ikan-ikan yang pertumbuhannya lambat, seperti rekayasa lingkungan budidaya dan rekayasa pemberian pakan  atau dengan meningkatkan kandungan protein pakan. Namun kandungan protein pakan yang tinggi dapat meningkatkan kadar amoniak dalam perairan, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan budidaya

Metode transgenesis juga sudah banyak dikembangkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang molekuler. Kajian-kajian rekayasa genetika dalam bidang akuakultur sudah banyak diaplikasikan sejak tahun 1980-an dengan produk ikan transgenik yang pertama kali dilaporkan di Cina pada tahun 1985 . Kemudian hingga saat ini teknologi transgenesis terus berkembang dengan memberikan banyak keuntungan dan kelebihan, di antaranya adalah gen yang diintroduksi dapat terintegrasi dengan genom resipien dan selanjutnya dapat ditransmisikan ke keturunannya

Selain memberikan banyak keuntungan dan kelebihan yaitu salah satunya dapat meningkatkan laju pertumbuhan ikan 30 kali lebih cepat dari ikan normal, seperti yang dilakukan oleh Nam et al. (2001) dengan mengintroduksi gen penyandi hormon pertumbuhan (GH) ke ikan mud loach (Misgurnus mizolepis). Namun demikian, saat ini teknologi transgenesis masih menimbulkan kontroversi dan kekhawatiran akan keamanan dalam mengkonsumsi organisme transgenik tersebut (foodsafety) atau disebut juga dengan GMO (Genetically Modified Organism), sehingga perlu ada cara lain untuk mengatasi masalah tersebut.

Penggunaan Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan (rGH) ikan diduga sebagai salah satu metode alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan ikan budidaya, penggunaan protein rGH ikan dalam meningkatkan produktivitas atau pertumbuhan ikan budidaya dilakukan dengan prosedur yang aman (Willard 2006 dalam Acosta et al. 2007), sehingga ikan yang diberikan rGH bukan merupakan organisme GMO (Acosta et al. 2007) dan rGH tersebut tidak ditransmisikan ke keturunannya.

Pada ikan, seperti juga pada hewan-hewan vertebrata lainnya, pertumbuhan sel somatik diatur oleh adanya poros pertumbuhan, pituitari sebagai tempat penghasil hormon pertumbuhan (GH) merupakan suatu komponen pengatur yang penting dalam poros ini (Reinecke et al. 2005). GH memainkan peranan yang penting dalam mengatur banyak aspek fisiologi, termasuk pertumbuhan (Cavri et al. 1993), metabolisme (Rousseau and Dufour. 2007), osmoregulasi (Sakamoto et al. 1997), fungsi kekebalan tubuh (Yada et al. 1999) dan reproduksi (McLean et al. 1993). Penggunaan hormon pertumbuhan dalam berbagai aplikasi sudah banyak dilakukan, namun prosedur yang ada untuk mendapatkan hormon tersebut sangatlah rumit, selain itu hanya diperoleh dalam jumlah yang sedikit (Kawauchi et al. 1986; Yasuda et al. 1992). Hal ini disebabkan karena konsentrasi hormon pertumbuhan yang dihasilkan secara biologi oleh sel khusus pada kelenjer pituitari sangat kecil. Oleh sebab itu perlu dikembangkan metode yang efisien untuk menghasilkan hormon ini dalam jumlah besar melalui teknologi protein rekombinan.

Sumber : http://lppm.ipb.ac.id