Menteri Susi: Ikan Jadi Andalan Utama

Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa proyeksi konsumsi ikan masyarakat Indonesia hingga 2019, mencapai 50 kg per kapita per tahun
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa proyeksi konsumsi ikan masyarakat Indonesia hingga 2019, mencapai 50 kg per kapita per tahun. Pasalnya proyeksi ini ditelusuri oleh KKP mengingat adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih (ikan)
“Ada pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih, maka kita proyeksikan hingga 2019, konsumsi ikan masyarakat Indonesia, mencapai 50 kg per kapita per tahun,” kata Susi Pudjiastuti seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Kamis (18/5)
Lebih lanjut, Ia mengatakan untuk bisa mencapai target pemenuhan konsumsi masyarakat tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dituntut untuk terus mendorong peran yang lebih besar dalam menopang ketahanan pangan nasional.

“Produk pangan berbasis ikan saat ini menjadi andalan utama, seiring mulai terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih,” tegas Menteri Susi.

Menurutnya dengan target tersebut setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak 14,6 juta ton per tahun, dimana angka ini diprediksi sekitar 60 persennya akan bergantung pada hasil produksi budidaya.

Sebelumnya dalam ajang Festival Kuliner Ikan Nusantara, Menteri Susi Pudjiastuti mengimbau masyarakat untuk mulai melirik ikan sebagai sumber pangan dengan membiasakan mengkonsumsi ikan setiap hari.

Susi menilai, tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding negara lain bahkan di level ASEAN sekali pun, padahal menurutnya, ikan merupakan sumber protein yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas kecerdasan generasi bangsa ini.

“Maka program gemar mengkonsumsi ikan, akan terus kita galakan ke masyarakat,” tukasnya.

Sumber : @jitunews

Advertisements

Nila Unggul Asal Sukabumi Ini Hasil Kawin Silang dari 10 Strain

Nila dengan beragam jenisnya merupakan salah satu komoditi perikanan air tawar yang berprospek cerah, karena memiliki nilai jual yang setara dengan ikan konsumsi lainnya

Salah satu varietas nila unggulan telah dirilis dan dikembangkan Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi sejak 2001 lalu. Nila itu bernama Sultana. Varietas nila ini mendapat pengakuan dari KKP dengan keluarnya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.28/MEN/2012 tentang Pelepasan Ikan Nila Sultana pada 7 Juni 2012.

Sultana merupakan singkatan dari seleksi unggul Selabintana, karena seluruh penelitian dan menghasilkan ikan nila varietas baru ini dilakukan di Selabintana, Sukabumi. Ia merupakan ikan hasil perkawinan silang dari 10 ‘strain’ ikan nila yang ada di Indonesia, di mana hasilnya sangat memuaskan

Salah satu keunggulan ikan nila ini adalah kemampuan tumbuhnya lebih cepat 10-15 % dibandingkan dengan ikan nila lainnya. Sementara, keunggulan lainnya adalah tahan dari berbagai penyakit dan cepat menyesuaikan diri di alam barunya.

Budidaya. Budidaya ikan nila Sultana relatif mudah dilakukan di lingkungan rumah seperti pekarangan. Selain berguna untuk mendukung perekonomian keluarga dan memenuhi kebutuhan protein hewani bagi keluarga, memelihara ikan nila juga bisa berguna sebagai kesenangan yang bisa mengurangi ketegangan stress setelah melakukan tugas rutin sehari-hari.

Pemeliharaan ikan nila, terutama pembesarannya tidak sesulit yang dibayangkan orang. Pembesaran ikan nila tidak harus membutuhkan lahan yang luas dan air yang melimpah, di pekarangan yang relatif sempitpun, bahkan dalam drum kita bisa memBudidayakannya.

Ikan nila Sultana ini sangat cocok diBudidayakan monoseks, yang tujuannya agar kandungan gizi dari pakan yang diberikan terserap seutuhnya kepada tubuh ikan tersebut, karena tidak digunakan untuk kawin. Selain itu, ikan nila ini sangat cocok disilangkan dengan ikan nila gesit. Hasilnya dari perkawinan tersebut menghasilkan benih ikan yang sangat baik dan pertumbuhannya lebih cepat sampai 40 %, biasanya ikan nila di panen pada size 4 atau 1 kg berisi empat ikan nila selama tiga bulan, tetapi nila Sultana untuk mencapai bobot tubuh tersebut hanya di bawah tiga bulan. Untuk SR (survival rate) nya sendiri bisa mencapai 95 %.

Saat ini ikan nila Sultana sudah dikembangkan di tiga daerah yakni di Sumatera Selatan, Malang dan Subang.

Tertarik memBudidayakan?

Sumber: http://www.jitunews.com

Ini Dia 13 Strain Ikan Nila Unggulan Versi KKP

Budidaya ikan nila berkembang pesat di berbagai daerah. Salah satu indikasinya harga jual ikan introduksi asal Afrika tersebut yang terus menanjak. Nila sudah jadi menu umum yang disajikan mulai dari warung nasi hingga restoran

Meningkatnya budidaya nila, mendorong kebutuhan akan nila unggul. Diceritakan Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Djumbuh Rukmono, pada 2002 upaya perbaikan genetik nila yang berasal dari nila gift mulai dilakukan berbagai pihak. Hingga saat ini sudah ada 13 strain nila  yang resmi dirilis KKP.

Ketigabelas nila tersebut meliputi nila JICA, nila Gesit, nila nirwana, nila Jatimbulan, nila BEST, nila larasati, nila nirwana II, nila sultana, nila srikandi, nila anjani, nila merah nilasa, nila jantan pandu dan kunti, serta nila salina. Nila-nila tersebut dikembangkan oleh balai-balai di bawah KKP serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah dinas perikanan provinsi dan kabupaten/kota.

Pengembangan nila unggul di berbagai daerah, kata Djumbuh, dikoordinasikan melalui broodstock center (pusat induk) nasional yang dikoordinir oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Selain dibudidayakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, lanjut Djumbuh, hasil budidaya semua strain nila tersebut juga diekspor ke luar negeri. Salah satu strain nila yang banyak diekspor ke luar adalah nila nirwana II yang dihasilkan oleh Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat.

Hal yang perlu diingat, kata Djumbuh, setiap indukkan strain baru yang dibuat harus didiseminasikan secara baik oleh unit pelaksana teknis yang ada di daerah.

“Tujuannya agar pembudidaya ikan baik pembenih maupun pembudidaya pembesaran dapat memanfaatkan secara optimal nila unggul yang diproduksi dengan kualitas yang  selalu terjaga,” kata Djumbuh

sumber : @jitunews 22 Desember 2014

Nila GESIT, Ikan Nila Super Jantan Berprotein Tinggi

JAKARTA – Ikan nila banyak disukai orang karena rasa dagingnya yang gurih dan kandungan proteinnya yang tinggi. Salah satu pengembangan pangan yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) difokuskan pada ikan nila (Nile Tilapia) sebagai salah satu komoditi penting yang layak dikembangkan untuk pemenuhan kecukupan pangan protein.

Mudahnya berkembang biak dan kemampuan hidupnya yang mudah beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, menjadikan ikan nila sebagai komoditi prioritas untuk pengembangan usaha dan industri budidaya perikanan yang dikenal dengan julukan “aquatic chicken” atau ikan yang dapat dikembangkan seperti industri ternak ayam.

Sayangnya, selama ini penanganan budidaya ikan nila di masyarakat belum optimal karena pengelolaan pengembangbiakannya yang tidak terkontrol, adanya inbreeding dan penurunan kualitas lingkungan perairan.

Dalam proses budi daya secara alami, biasanya dihasilkan rasio ikan nila jantan dan betina adalah 60:40, sehingga usaha budi daya ikan nila diarahkan pada produksi ikan berkelamin jantan alias monosex.

Melalui teknologi produksi ikan nila jantan super “YY” (supermale) yang dilakukan BPPT sejak 2002 lalu, sudah dihasilkan indukan ikan nila jantan super yang diberi nama ikan nila GESIT. Nila GESIT, kepanjangan dari Genetically Supermale Indonesian Tilapia merupakan jenis unggulan superjantan.  Mengapa disebut superjantan, karena 98-100 persen telur yang dihasilkannya berjenis kelamin jantan.

Jika ikan nila GESIT dikawinkan dengan ikan nila betina biasa, akan menghasilkan 99% ikan nila jantan yang diberi nama ikan nila GMT (Genetically Male Tilapia). Ikan nila GMT ini bisa tumbuh lebih cepat (150%) dibanding betinanya, lebih seragam dan aman dikonsumsi.

Nila gesit memiliki pertumbuhan yang cepat, yakni lima hingga enam bulan untuk mencapai berat 600 gram. Untuk ekspor, ikan nila dituntut memiliki ukuran lebih dari 600 gram per ekor, yang selama ini sangat sulit dipenuhi oleh para pembudi daya.

Hasil riset memperlihatkan bahwa ikan nila berkelamin jantan tumbuh lebih cepat dibanding betinanya. Dengan demikian, produksi ikan nila dapat diarahkan pada produksi ikan nila berkelamin jantan (monosex male) yang dapat tumbuh lebih cepat untuk meningkatkan efisiensi usaha guna memenuhi permintaan ekspor.

Dalam kegiatan ini, BPPT bekerjasama dengan Balai Besar Pengembangan Perikanan Budidaya-Kementerian Kelautan dan Perikanan di Sukabumi dan Institut Pertanian Bogor. Dan untuk saat ini ikan nila GESIT sudah beredar di berbagai daerah di Indonesia terutama Balai Benih Ikan milik pemerintah di propinsi maupun kabupaten/ kota.  (humasBPPT/TAB) (adv)

Sumber : http://techno.okezone.com

SUKSES JUAL 5-7 KUINTAL NILA PER BULAN

Ikan Nila yang saat ini tengah booming sebagai komoditas unggulan di sektor perikanan, mendatangkan celah usaha yang mulai banyak diminati dan menguntungkan. Saat ini mulai banyak petani beralih membudidayakan ikan nila unggulan seperti varietas Sultana karena memiliki harga jual tinggi dibanding jenis ikan konsumsi lain. Sunanto Tjahyadi, salah satu pembudi daya ikan Nila Sultana mampu mendulang omset hingga Rp 13,5 juta. Seperti apa strategi usahanya dan bagai mana perjalanan usahanya.

Sukses-Jual-5-7-Kuintal-Nila-per-Bulan

Ikan Nila sultana merupakan salah satu Ikan konsumsi air tawar dikalang masyarakat dan masuk kategori unggulan. Dagingnya yang gurih dan kenyal menjadi salah satu kelebihan ditambah kandungan protein ikan Nila juga tinggi sehingga baik untuk kesehatan. Banyak pelaku agribisnis perikanan ramai-ramai membudidaya ikan nila. Salah satu pembudidaya asal Subang, Jawa Barat yang cukup sukses mengembangkan Nila adalah Sunanto Tjahyadi. Pria yang akrab disapa sunanto ini meski tak memiliki basic perikanan murni, mampu menghasilkan jenis-jenis nila unggulan seperti Nila Sultana, Nirwana, dan gift. ‘’saya hanya sampai semester dua Universitas Tarumanegara, sayapun dulu mendapatkan pengetahuan beternak bandeng, dan udang alam dari ayah saya dan seputaran biologi ikan nila didapat dari teman-teman para pembudidaya ikan nila. Jadi saya awalnya hanya hobi memancing dan menjadi pembudidaya ikan nila unggulan,’’ kenang pria kelahiran tanggerang , 6 Oktober 1979 ini.

Dalam budidaya Nila Sultana, sunanto meneruskan warisan keluarga dengan mendapatkan 1 – 2 hektar. ‘’Awal mulai perjalanan saya bulan Desember 2013 saya mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta untuk membeli 2 ribu liter nila unggulan (per liter 100-150 ekor), pakan ikan, dan peralatan yang mendukung seperti jaring ,’’ kata Sunanto. Menurutnya, prospek usaha ini kedepan masih sangat bagus, apalagi kebutuhan ikan nila selalu ada meskipun saat ini persaingan terbilang lumayan ketat. Untuk menghadapinya selain menghasilkan ikan nila yang berkualitas, sunanto terus meningkatkan mutu pelayanan.

Nila Sultana dan Keunggulan. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang sangat populer dibudayakan di Indonesia. Saat ini yang sedang populer dibudidayakan para petani adalah jenis kan Nila Sultana. Jenis ikan konsumsi yang ditemukan oleh Balai Benih Ikan Air Tawar Sukabumi ini merupakan hasil penelitian panjang sejak 2001. Ikan Nila Sultana yang beredar di masyarakat merupakan hasil persilangan sepuluhb varietas nila unggul seperti ikan nila Gift,JICA, Gesit, dan Putih.

Nila jenis ini memiliki ciri khas tubuh putih kehitaman dan bagian punggung agak kekuningan. Nila Sultana bisa memiliki berat bobot 420 g/ekor bisa dicapai dalam waktu 120 hari dari penebaran bibit ukuran 2 – 3 cm. “menurut saya jenis ikan Nila Sultana, saat ini paling populer karena paling banyak diminati oleh konsumen. Ikan nila yang saya besarkan ini dagingnya kenyal, gurih dan tidak bau lumpur. Bahkan menjadi komoditi ekspor dan menjadi konsumsi perusahaan besar pengolahan hasil ikan sehingga membuat Nila Sultana mempunyai nilai jual tinggi. Maka itu banyak petani ikan nila termasuk saya membudidayakan ikan Nila Sultana ,’’ ujar Sunanto

Harga. Saat ini Sunanto menjual ikan nila unggulan berumur 4 bulan keatas (Sultana, Nirwana, dan Gift) dengan harga per kilo Rp 25 ribu. Dari mulai Desember 2013 lalu hingga sekarang sedikitnya Sunanto telah menjual sekitar 5-7 kuintal Nila. ‘’yang saya kembangkan ialah nila jenis Sultana, Nirwana, dan Gift. Di luar varietas nila saya juga menjual jenis ikan patin dan ikan Mas konsumsi,’’ ujar Sunanto. Lebih lanjut Sunanto mengatakan, pembelian ikan nila saat ini hanya dilayani apabila konsumen datang ke tambaknya berada di kawasan Tanggerang Banten.

Pemasaran. Awal usaha, Sunanto sangat mudah memasarkan hasil budidaya ikan nila karena ayahnya sudah ada nama di daerah Pakuhaji, dan seputaran Teluk Naga, Tanggerang, Banten. Selain itu Sunanto memasarkan melalui penyebaran brosur di seputaran Tanggerang.”saat ini konsumen asal tanggerang, Cengkareng, Bogor, dan Serang. Karena ikan nila yang saya budidayakan tidak bau lumpur dan rasa berbeda dari ikan nila lainnya saat dikonsumsi,” ucap Sunanto.

Sunanto tak menerapkan pembelian minimum kepada konsumen khusus yang datang kelahan kolam nilanya, meskipun pembelian berapapun ia layani. Hanya saja jika permintaan dari luar Pulau Jawa< belum bisa dipenuhi.

Melihat kapasitas penjualan 5-7 kuintal nila per bulan, walaupun baru berjalan hampir 2 tahun omset yang diraup Sunanto sebesar Rp 12.500.000 dengan keuntungan bersih 60% atau sekitar Rp 7.500.000. saat ini dalam membudidaya ikan nilanya, ia sudah mempunyai kolam seluas 7 hektar termasuk kolam pembesaran dan pembibitan dibantu dua orang karyawan yang telah dia didik.

Kendala dan Rencana ke Depan. Salah satu faktor penghambat dalam budidaya ikan nila adalah cuaca, apalagi jika terjadi hujan terus-menerus. Ikan nila dapat berkembang dengan baik dalam kondisi suhu air kolam antara 25 hingga 28 derajat, serta pH sekitar 6-8. Di bawah atau diatas suhu tersebut perkembangan nila cukup lambat. “ risiko budidaya ikan nila ini paling fatal adalah kematian. Karenanya diharapkan para petani mengerti cara budidaya yang baik dan benar. menurut saya sih poin budidaya. Yang sukses balik lagi ke feeling masing-masing dan sayangi mahluk hidup dengan pemberi pakan yang mengandung protein pokonya ikan sehatlah,” ujar Sunanto. Kedepan Sunanto ingin segera menambah jumlah kolam yang banyak untuk kolam perkembangangbiakan ikan Nila Sultana

Sumber : http://usahapemula.com