Jual benih ikan berkualitas terbaik di Medan

Potensi Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara terdiri dari Potensi Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya, dimana Potensi Perikanan Tangkap terdiri Potensi Selat Malaka sebesar 276.030 ton/tahun dan Potensi di Samudera Hindia sebesar 1.076.960 ton/tahun. Sedangkan Produksi Perikanan Budidaya terdiri Budidaya tambak 20.000 Ha dan Budidaya Laut 100.000 Ha, Budidaya air tawar 81.372,84 Ha dan perairan umum 155.797 Ha, kawasan Pesisir Sumatera Utara mempunyai Panjang Pantai 1300 Km yang terdiri dari Panjang Pantai Timur 545 km, Panjang Pantai Barat 375 Km dan Kepulauan Nias dan Pulau- Pulau Baru Sepanjang 350 Km

Wilayah pengembangan sektor perikanan dibagi menjadi beberapa wilayah kerja dengan potensi wilayah masing-masing. Wilayah tersebut adalah:

  1. a) Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara

Terdiri dari 12 kabupaten/kota yang berada di wilayah Pantai Barat yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara. Dimana Potensi Pengembangan pada wilayah ini adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari Rumput Laut, Kerapu dan kakap, Budidaya tawar yang terdiri dari mas, nila, Lele, Patin, Gurame, Tawes dan Nilam. Budidaya Tambak yang terdiri dari Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng

  1. b) Wilayah Dataran Tinggi Sumatera Utara

Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah dataran tinggi Sumatera Utara adalah Wilayah yang berada di wilayah tengah Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Pakpak Bharat. Sedangkan Potensi Pengembangan pada wilayah ini terdiri dari penangkapan ikan di perairan umum, pengolahan ikan. budidaya air tawar yaitu Nila, Mas, Lele, Patin dan Gurame

  1. c) Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara

Terdapat 11 Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah Pantai Timur Sumatera Utara yang terdiri dari Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, kabupaten Labuhan batu Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Batubara, Kota Medan, Kota Tanjung Balai, Dimana potensi pengembangan di wilayah Timur Sumatera Utara adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari kerapu, kakap, dan kerang hijau, Budidaya Tawar yaitu Mas, Nila, Lele, Patin, Gurame, Grass carp, Lobster air tawar, Bawal tawar dan Ikan hias, Budidaya Tambak yaitu Rumput Laut, Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng, sedangkan Budidaya perairan umum yaitu Mas, Nila dll.

Sumatera utara mempunyai potensi yang sangat bagus untuk budidaya ikan lele, nila, gurami dan ikan air tawar lainnya karena adanya lahan dan sumber air dari sungai-sungai yang sangat melimpah yang dapat dijadikan sebagai media budidaya ikan, serta minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan air tawar yang sangat tinggi

CV. Dejeefish adalah kelompok pembenihan dan pemasok benih ikan lele, gurame, bawal, nila, mas, grasscarp, patin dll yang siap mengirimkan benih ke Medan dan sekitarnya.

Jenis benih ikan dapat dipesan dan kami kirimkan ke Bengkulu diantaranya adalah benih ikan lele, benih ikan bawal, benih ikan nila, benih ikan patin, benih ikan gurame, benih ikan mas, udang vaname, udang galah, dsb. Selain benih ikan konsumsi, kami juga siap menerima pemesanan ikan hias seperti ikan koi, cupang, dan ikan gurame padang dengan berbagai jenis.

Bagi masyarakat Perikanan Medan yang berminat dan membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai pemesanan, harga benih, maupun konsultasi mengenai budidaya ikan, silahkan menghubungi kami melalui telpon di nomor

hub3

Jual Benih Ikan Air Tawar Kualitas Terbaik di Palembang

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Palembang mempunyai potensi yang sangat bagus untuk budidaya ikan lele, nila, gurami dan ikan air tawar lainnya karena adanya lahan dan sumber air dari sungai-sungai yang sangat melimpah yang dapat dijadikan sebagai media budidaya ikan, serta minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan air tawar yang sangat tinggi di daerah Palembang dsk.

CV. Dejeefish adalah kelompok pembenihan dan pemasok benih ikan lele, gurame, bawal, nila, mas, grasscarp, patin dll yang siap mengirimkan benih ke Palembang.

Jenis benih ikan dapat dipesan dan kami kirimkan ke Palembang diantaranya adalah benih ikan lele, benih ikan bawal, benih ikan nila, benih ikan patin, benih ikan gurame, benih ikan mas, udang vaname, udang galah, dsb. Selain benih ikan konsumsi, kami juga siap menerima pemesanan ikan hias seperti ikan koi, cupang, dan ikan gurame padang dengan berbagai jenis.

Bagi masyarakat Perikanan Palembang yang berminat dan membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai pemesanan, harga benih, maupun konsultasi mengenai budidaya ikan, silahkan menghubungi kami melalui telpon di nomor

hub3

Kami dengan senang hati dapat bermitra dan bekerja sama dengan masyarakat Perikanan Palembang.

BBPBAT Andalkan Ikan Mas ‘Mantap’

Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi meluncurkan penelitian terbarunya yang diberi nama ‘Ikan Mas Mantap’ atau Ikan Mas Majalaya yang tahan penyakit. Peluncuran penelitian terbarunya melihat dari kondisi ikan mas yang rentan oleh penyakit virus koi herpers virus (KHV) karena perubahan cuaca.

Penelitian terbaru yang dilaunching pada April 2015 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merupakan varietas baru besutan BBPBAT Sukabumi yang sesuai dengan Keputusan Menteri KP No.24/Kepmen-KP/2015.

Kepala Seksi Kerja Sama Teknik dan Informasi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jaka Trenggana, mengatakan Ikan Mas Majalaya merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia termasuk di Sukabumi.

Menurutnya, sejak 2002 ikan mas sempat mengalami penurunan akibat serangan penyakit, seperti KHV sehingga banyak para petani ikan yang merugi akibat rendahnya ketersediaan induk ikan mas. Upaya pemulihan dari BBPBAT ini pun terus dilakukan salah satunya dengan pemberian antibiotik imunostimulan vitamin, ragi, serbuk bawang putih, dan meniran hingga pada 2014 penyeleksian dengan bantuan marka molekuler Cyca-DAB1*05 yang merupakan kelompok gen major histocompatibility complex (MHC) II untuk ketahanan terhadap penyakit bakterial dan virus.

“Kajian serta penerapan upaya Ikan Mas Majalaya Mantap ini sudah dilakukan sejak 2009 dan berlanjut hingga sekarang dan hasilnya 99 persen ikan mas dapat dikembangkan dengan baik tanpa takut terkena virus,” terang Jaka kepada Radar Sukabumi, kemarin (5/8).
Lebih Lanjut dirinya menerangkan, hasil indukan yang menggunakan mantap ini diklaim memiliki tingkat ketahanan tubuh ikan mas terhadap inveksi bakteri aeromonas hydrophylia sebesar 74,4 persen dan pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. Melihat keberhasilan seperti ini, Jaka berharap dapat mendorong peningkatan produksi ikan mas yang sebelumnya mengalami penurunan akibat terinfeksi virus dan membantu mendorong perekonomian di wilayah Kota Sukabumi. Selain itu dengan adanya program unggulan yang diluncurkan BBPBAT dapat meminimalisir adanya kematian massal ikan mas akibat terkena KHV.

sumber : http://radarsukabumi.com

C14

Foto: widi/radarsukabumi MANTAP : Kepala Seksi Kerja Sama Teknik dan Informasi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Jaka Trenggana bersama salah satu karyawan BBPBAT menunjukan salah satu induk ikan mas yang tahan penyakit

Spesies Invasif Ancam Perairan lokal

Berbagai spesies invasif asing menguasai perairan Indonesia. Tanpa upaya pengendalian, keberadaan spesies ini mengancam kekayaan perairan, termasuk memusnahkan spesies lokal. Di sebagian daerah, spesies lokal sudah benar-benar terdesak.

”Untuk ikan asing invasif bersifat predator (karnivora), bereproduksi cepat dan kuat, secara tegas harus dilarang masuk Indonesia, baik untuk ornamen (ikan hias), apalagi budidaya,” kata Slamet Budi Prayitno, Guru Besar Budidaya pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Hal itu dikatakan saat seminar internasional ”Ancaman Spesies Asing Invasif terhadap Kelestarian Sumber Daya Ikan di Indonesia” di Jakarta, Rabu (17/4/2013), yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Seminar dibuka Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo. Menghadirkan pembicara Slamet Budi Prayitno, Arief Yuwono (Kementerian lingkungan hidup), Chandika Yusuf (WWF), John Hansen (USAID), dan Andy Sheppard (CSIRO).

Spesies invasif merupakan makhluk hidup yang masuk/dimasukkan ke ekosistem baru, lalu menguasai ekosistem itu. Spesies itu bisa dari luar negeri, maupun antar-region yang merugikan secara ekonomi ataupun ekologi.

Slamet mencontohkan ikan piranha dari Sungai Amazon, Brasil. Ikan penghias akuarium para penghobi itu berbahaya bila sampai terlepas ke perairan Indonesia. ”Kalau lepas, habis itu semua larva di air. Ini masalah serius yang harus diatasi,” kata mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Tengah itu.

Sementara itu, Sharif Cicip mengatakan, dampak negatif introduksi spesies asing telah dirasakan di Indonesia dan banyak negara. ”Meledaknya populasi ikan sapu-sapu, mujair, dan keong mas di beberapa perairan umum menunjukkan adanya dominasi dan ketidakseimbangan populasi yang dapat menurunkan populasi. Bahkan, kepunahan spesies ikan asli,” kata dia.

Ia mencontohkan, ikan nila (Oreochromis niloticus, asal Afrika, sejak 1969) yang dimasukkan ke Danau Laut Tawar Aceh mendesak populasi ikan depik (Rasbora tawarensis), ikan endemis. Ikan setan merah yang masuk bersama aneka benih ikan di Waduk Sermo, Yogyakarta, memangsa ikan mas, tawes, dan nila.

Sepuluh tahun sejak setan merah masuk waduk, kata Sharif, tangkapan masyarakat menurun. Sekitar 75 persen tangkapan adalah ikan setan merah.

Berdasarkan beberapa kajian, penurunan tangkapan membuat nelayan Sermo berubah profesi jadi tukang bangunan dan pekerja kasar lain. Ironisnya, waduk Cirata (Jabar) dan Kedungombo (Jateng) terancam setan merah.

Di Danau Ayamaru, Papua Barat, ikan mas (Cyprinus carpio) yang diintroduksi dari Jepang/ China menjadi invasif. Ikan itu memangsa ikan pelangi (Melanotaenia ayamaruensis), endemis danau alami itu.

Spesies ikan invasif juga membawa penyakit di perairan. Ada 13 penyakit, di antaranya lernaea cyprinacea pada ikan mas, viral nervous necrosis virus pada kerapu, koi herpesvirus pada ikan koi dan ikan mas, serta taura syndrome virus pada udang.

Antisipasi

Slamet Budi Prayitno menegaskan, ancaman spesies asing invasif itu masalah serius yang harus disikapi. Bila ikan karnivora harus dilarang masuk, ikan omnivor dan berfisik kuat butuh studi lanjut. Izinnya tetap harus diawasi sejak masuk hingga dipelihara dan diperjualbelikan.

Pada ikan berisiko rendah dengan kategori pertumbuhan lambat, reproduksi lamban, dan hanya hidup pada lingkungan tertentu—selama bisa dipastikan tak membawa penyakit—dibolehkan masuk untuk hobi/ornamen.

Slamet berharap Peraturan Menteri KKP No 17/2009 berisi daftar ikan-ikan yang dilarang masuk diperbarui. Penanganan spesies invasif juga perlu didukung lintas sektor.

Sesuai dengan amanat Konvensi Biodiversitas, koordinator soal spesies invasif adalah Kementerian lingkungan hidup bersama Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Dalam Negeri. Kementerian Perhubungan penting terlibat karena ada kasus spesies invasif dibawa air balas kapal laut. (ICH)

Konsumsi Ikan di Indonesia Dalam 5 Tahun Terakhir

Image result for gambar makanan dari ikanKonsumsi Ikan di Indonesia Dalam 5 Tahun Terakhir – Berdasarkan info dari Kementrian Kelautan dan Perikanan jumlah konsumsi ikan di Indonesia dalam 5 tahun terakhir (2011-2015) menunjukkan kenaikan sebanyak 6,27%. Tepatnya rata-rata jumlah konsumsi ikan di indonesia sekarang ini yaitu 36,12 kg.

Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemar Ikan) bisa di katakan berhasil karena angka yang di dapatkan melebihi target. Pada tahun 2015 tercatat angka konsumsi ikan di indonesia sekarang adalah sebesar 41,11 kg/kap/tahun, angka tersebut bahkan sudah melebihi target yang telah di tentukan sebelum nya yakni 40,90 kg/kap/tahun.

Kabar baiknya adalah peningkatan angka konsumsi ikan juga diikuti dengan peningkatan penyediaan ikan perkapita yang mencapai 51,08 kg/kap/tahun, angka tersebut meningkat dari yang sebelumnya yakni sebesar 8,44 % dibandingkan dengan tahun 2013.

Daerah-daerah dengan konsumsi ikan terbesar pada tahun 2014

  • Maluku : 54,12 kg/kap/tahun
  • Sulawesi Tenggara : 50,77 kg/kap/tahun
  • Maluku Utara : 48,88 kg/kap/tahun
  • Papua Barat : 48,16 kg/kap/tahun
  • Kepulauan Riau : 42,24 kg/kap/tahun

Daerah-daerah dengan pertumbuhan konsumsi ikan tertinggi tahun 2013-2014

  • DI Yogyakarta : 30,96%
  • Bengkulu : 15,05%
  • Jawa Timur : 14,02%
  • Bali : 13,69%
  • Nusa Tenggara Timur : 13,24%

Sumber : http://ilmuikan.com