Selamat Datang Ikan Mas MANTAP, Pembudidaya Telah Menantimu…

mas

Ikan mas atau Ikan karper (Cyprinus carpio) adalah ikan air tawar yang bernilai ekonomis penting dan sudah tersebar luas di Indonesia. Ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920-an. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Namun ikan mas punten dan ikan mas majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya. Selain memiliki tekstur yang lembut dan mengandung nilai gizi tinggi, Ikan mas juga memiliki nilai potensi ekonomi yang tinggi karena termasuk jenis ikan yang mudah untuk dibudidayakan dan permintaan yang terus meningkat dari pasar.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi memperkenalkan komoditas unggul baru bernama Ikan Mas Mantap (Majalaya Tahan Penyakit). Seperti yang telah kita ketahui, sesuai dengan namanya ikan mas ini berkembang pertama kali di daerah Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ukuran badannya relatif pendek dan punggungnya lebih membungkuk dan lancip dibandingkan dengan ras ikan mas lainnya. Perbandingan antara panjang dan tinggi tubuhnya adalah 3,2:1. Bentuk tubuhnya semakin lancip ke arah punggung dan bentuk moncongnya pipih. Sifat ikan mas ini relatif jinak dan biasa berenang di permukaan air. Sisiknya berwarna hijau keabuan dan bagian tepinya berwarna lebih gelap, kecuali di bagian bawah insang dan di bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. Semakin ke arah punggung, warna sisik ikan ini semakin gelap. Selain itu, Ikan mas majalaya memiliki keunggulan, diantaranya laju pertumbuhannya relatif cepat, tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, rasanya lezat dan gurih, dan tersebar luas di Indonesia. Fekunditas atau jumlah telur yang dihasilkan ikan mas majalaya tergolong tinggi, yakni 84.000—110.000 butir per kilogram induk.

Pelepasan komoditas unggul ini telah ditetapkan pada tanggal 16 April 2015 yang lalu melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 24/Kepmen-KP/2015 Tentang Pelepasan Ikan Mas Mantap. Ini merupakan langkah untuk memperkaya jenis dan varietas Ikan Mas yang beredar di masyarakat yang merupakan hasil seleksi berdasarkan marka molekuler yang dilakukan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Keunggulan tambahan dari Ikan Mas hasil pemuliaan ini adalah memiliki ketahanan penyakit virus KHV sebesar 100% dan bakteri Aeromonas Hydrophylla sebesar 74,44%, serta pertumbuhan yang lebih cepat yakni pertumbuhan mutlak di pembesaran 1,0 – 2,2 gram/ hari. Namun, selain itu ternyata jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan mas mantap ini juga lebih tinggi dari sebelumnya yakni 85.000 – 125.000 butir.

Dengan dilepasnya komoditas unggul baru ini ke masyarakat, diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi Ikan Mas nasional, menunjang peningkatan produksi perikanan budidaya serta pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya ikan di Indonesia. Info lebih lanjut tentang ikan Mas Mantap, dapat dilihat di http://www.djpb.kkp.go.id/index.php/arsip/c/244

Oleh: Ni Putu DK

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_mas#Ikan_Mas_Majalaya

http://www.djpb.go.id

PELEPASAN IKAN MAS MANTAP SEBAGAI PENDUKUNG PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA YANG BERKELANJUTAN

Ikan Mas merupakan komoditas Perikanan Budidaya Air Tawar yang cukup digemari di Indonesia. Selain memiliki tekstur yang lembut dan mengandung nilai gizi tinggi, Ikan Mas juga memiliki nilai potensi ekonomi yang tinggi karena termasuk jenis ikan yang mudah untuk dibudidayakan dan permintaan yang terus meningkat dari pasar.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi memperkenalkan komoditas unggul baru bernama Ikan Mas Mantap (Majalaya Tahan Penyakit) sebagai langkah untuk memperkaya jenis dan varietas Ikan Mas yang beredar di masyarakat. Beberapa keunggulan dari Ikan Mas hasil pemuliaan ini antara lain adalah daya tahan yang tinggi terhadap serangan virus KHV dan bakteri Aeromonas Hydrophyla, serta pertumbuhan yang lebih cepat.

Pelepasan komoditas unggul ini telah ditetapkan pada tanggal 16 April 2015 yang lalu melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 24/Kepmen-KP/2015 Tentang Pelepasan Ikan Mas Mantap.

Dengan dilepasnya komoditas unggul baru ini ke masyarakat, diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi Ikan Mas yang sebelumnya telah mengalami peningkatan yang signifikan dari 282.695 ton tahun 2010 meningkat menjadi 484.110 ton tahun 2014 (data sementara).

Unduh Lampiran :  ikan-mas-mantap-24-kepmen-kp-2015.pdf

Sumber : http://www.djpb.kkp.go.id

IKAN MAS MANTAP SUKABUMI

BBPBAT Andalkan Ikan Mas ‘Mantap’

Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi meluncurkan penelitian terbarunya yang diberi nama ‘Ikan Mas Mantap’ atau Ikan Mas Majalaya yang tahan penyakit. Peluncuran penelitian terbarunya melihat dari kondisi ikan mas yang rentan oleh penyakit virus koi herpers virus (KHV) karena perubahan cuaca.

Penelitian terbaru yang dilaunching pada April 2015 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merupakan varietas baru besutan BBPBAT Sukabumi yang sesuai dengan Keputusan Menteri KP No.24/Kepmen-KP/2015.

Kepala Seksi Kerja Sama Teknik dan Informasi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jaka Trenggana, mengatakan Ikan Mas Majalaya merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia termasuk di Sukabumi.

Menurutnya, sejak 2002 ikan mas sempat mengalami penurunan akibat serangan penyakit, seperti KHV sehingga banyak para petani ikan yang merugi akibat rendahnya ketersediaan induk ikan mas. Upaya pemulihan dari BBPBAT ini pun terus dilakukan salah satunya dengan pemberian antibiotik imunostimulan vitamin, ragi, serbuk bawang putih, dan meniran hingga pada 2014 penyeleksian dengan bantuan marka molekuler Cyca-DAB1*05 yang merupakan kelompok gen major histocompatibility complex (MHC) II untuk ketahanan terhadap penyakit bakterial dan virus.

“Kajian serta penerapan upaya Ikan Mas Majalaya Mantap ini sudah dilakukan sejak 2009 dan berlanjut hingga sekarang dan hasilnya 99 persen ikan mas dapat dikembangkan dengan baik tanpa takut terkena virus,” terang Jaka kepada Radar Sukabumi, kemarin (5/8).
Lebih Lanjut dirinya menerangkan, hasil indukan yang menggunakan mantap ini diklaim memiliki tingkat ketahanan tubuh ikan mas terhadap inveksi bakteri aeromonas hydrophylia sebesar 74,4 persen dan pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. Melihat keberhasilan seperti ini, Jaka berharap dapat mendorong peningkatan produksi ikan mas yang sebelumnya mengalami penurunan akibat terinfeksi virus dan membantu mendorong perekonomian di wilayah Kota Sukabumi. Selain itu dengan adanya program unggulan yang diluncurkan BBPBAT dapat meminimalisir adanya kematian massal ikan mas akibat terkena KHV.

sumber : http://radarsukabumi.com

C14

Foto: widi/radarsukabumi MANTAP : Kepala Seksi Kerja Sama Teknik dan Informasi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Jaka Trenggana bersama salah satu karyawan BBPBAT menunjukan salah satu induk ikan mas yang tahan penyakit

Ikan Mas Majalaya MANTAP

a_5903

Budidaya ikan mas di Indonesia sudah cukup lama terbelenggu serangan penyakit  Koi Herpes Virus (KHV) dan bakteri Aeromonas hydrophila. Serangan penyakit tersebut membuat produksi ikan primadona air tawar ini tertekan. Pembudidaya tidak bisa meningkatkan skala usaha karena terancam kematian masal akibat serangan penyakit ini.

Namun kini hal yang dinanti para pembudidaya ikan mas telah hadir. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi melalui surat keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 24/KEPMEN-KP/2015 tentang pelepasan ikan mas mantap,  pada 16 April 2015 telah merilis indukan ikan mas tahan KHV.

Dijelaskan Perekayasa Ikan Mas dari BBPBAT Sukabumi, Adi Sucipto, ikan mas ini telah teruji tahan terhadap penyakit KHV dan bakteri Aeromonas hydrophila.  Keunggulan lainnya, kata Adi, ikan mas varietas ini pertumbuhan dan konversi pakan yang bagus. Meski memiliki banyak keunggulan, diakui Adi harga jual relatif sama dengan induk ikan mas lainnya.

Hingga kini, lanjut Adi, ikan mas tahan penyakit ini sudah disebarkan ke daerah Jawa Barat, Jambi, Aceh, Sumatera Barat, dan Papua. “Respon pasar sejauh ini bagus. Namun demikian, kami masih harus terus lakukan pemantauan atas produk yang telah kami pasarkan,” jelas Adi.

Sudah Teruji

Adi menjelaskan, dari hasil uji tantang ketahanan ikan mas ini terhadap KHV dan bakteri Aeromonas hydrophyla, maka pembudidaya kini dapat meningkatkan skala produksi. Dan yang tak kalah menarik lagi dari data uji tantang tersebut, pembudidaya memperoleh gambaran presentasi ikan yang hidup jika terjadi serangan penyakit. “Tidak ada metode khusus dalam pemeliharaan induk ikan mas tahan penyakit. Artinya, manajemen pemeliharaannya adalah sama dengan ikan mas yang lain,” ucapnya.

Dipaparkan Adi, uji tantang terhadap KHV juga dilakukan pada ikan mas majalaya MHC⁺ F2 dan kontrol yang berasal dari masyarakat dengan ukuran ikan sekitar 100 gram per ekor. Hasil uji tantang menunjukkan, ikan Majalaya MHC⁺ F2 (kelangsungan hidup 100%) lebih tahan terhadap serangan KHV dibandingkan ikan kontrol (kelangsungan hidup 8,33%) (lihat Gambar 2). Uji tantang dilakukan pada 3 – 24 April 2014 melalui injeksi sebanyak 0,1 ml/ ekor pada konsentrasi 10-2 CFU.

Kajian ikan mas tahan penyakit ini diinisiasi pada 2009 dan secara berkesinambungan dilanjutkan hingga 2014, khususnya pada strain majalaya. Menurut Adi, hasil kajian ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Krzystof L Rakus seperti yang tertuang dalam buku “Major Histocompatibility (MH) Polymorpism of Common Carp: Link with Disease Resistance”.

Dalam kajian ini, kata Adi, para perekayasa di BBPBAT Sukabumi berupaya meningkatkan ketahanan tubuh induk dan benih ikan mas melalui pemberian imunostimulan dan vitamin C, seleksi menggunakan marka Cyca-DABI*05 untuk ketahanan terhadap penyakit bakterial, memperbaiki kualitas lingkungan pemeliharaan, serta terus mencari teknik pemeliharaan yang diduga mampu mengeliminir serangan. Tujuan dari kegiatan pemuliaan ini adalah untuk menghasilkan indukan ikan mas yang tahan penyakit.

Adi memaparkan, respon imun pada ikan mas, terkait dengan adanya Molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas I dan MHC kelas II. “Molekul MHC I secara spesifik terlibat dalam mengeliminir infeksi virus melalui mekanisme sitotoksik, sedangkan MHC II akan mengaktifkan sel-sel fagosit untuk memproduksi antibodi dan mengaktivasi karakter-karakter imun yang terlibat dalam mengeliminasi parasit, bakteri, dan menetralkan virus,” paparnya

Sumber : http://www.trobos.com

hub3

Spesies Invasif Ancam Perairan lokal

Berbagai spesies invasif asing menguasai perairan Indonesia. Tanpa upaya pengendalian, keberadaan spesies ini mengancam kekayaan perairan, termasuk memusnahkan spesies lokal. Di sebagian daerah, spesies lokal sudah benar-benar terdesak.

”Untuk ikan asing invasif bersifat predator (karnivora), bereproduksi cepat dan kuat, secara tegas harus dilarang masuk Indonesia, baik untuk ornamen (ikan hias), apalagi budidaya,” kata Slamet Budi Prayitno, Guru Besar Budidaya pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Hal itu dikatakan saat seminar internasional ”Ancaman Spesies Asing Invasif terhadap Kelestarian Sumber Daya Ikan di Indonesia” di Jakarta, Rabu (17/4/2013), yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Seminar dibuka Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo. Menghadirkan pembicara Slamet Budi Prayitno, Arief Yuwono (Kementerian lingkungan hidup), Chandika Yusuf (WWF), John Hansen (USAID), dan Andy Sheppard (CSIRO).

Spesies invasif merupakan makhluk hidup yang masuk/dimasukkan ke ekosistem baru, lalu menguasai ekosistem itu. Spesies itu bisa dari luar negeri, maupun antar-region yang merugikan secara ekonomi ataupun ekologi.

Slamet mencontohkan ikan piranha dari Sungai Amazon, Brasil. Ikan penghias akuarium para penghobi itu berbahaya bila sampai terlepas ke perairan Indonesia. ”Kalau lepas, habis itu semua larva di air. Ini masalah serius yang harus diatasi,” kata mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Tengah itu.

Sementara itu, Sharif Cicip mengatakan, dampak negatif introduksi spesies asing telah dirasakan di Indonesia dan banyak negara. ”Meledaknya populasi ikan sapu-sapu, mujair, dan keong mas di beberapa perairan umum menunjukkan adanya dominasi dan ketidakseimbangan populasi yang dapat menurunkan populasi. Bahkan, kepunahan spesies ikan asli,” kata dia.

Ia mencontohkan, ikan nila (Oreochromis niloticus, asal Afrika, sejak 1969) yang dimasukkan ke Danau Laut Tawar Aceh mendesak populasi ikan depik (Rasbora tawarensis), ikan endemis. Ikan setan merah yang masuk bersama aneka benih ikan di Waduk Sermo, Yogyakarta, memangsa ikan mas, tawes, dan nila.

Sepuluh tahun sejak setan merah masuk waduk, kata Sharif, tangkapan masyarakat menurun. Sekitar 75 persen tangkapan adalah ikan setan merah.

Berdasarkan beberapa kajian, penurunan tangkapan membuat nelayan Sermo berubah profesi jadi tukang bangunan dan pekerja kasar lain. Ironisnya, waduk Cirata (Jabar) dan Kedungombo (Jateng) terancam setan merah.

Di Danau Ayamaru, Papua Barat, ikan mas (Cyprinus carpio) yang diintroduksi dari Jepang/ China menjadi invasif. Ikan itu memangsa ikan pelangi (Melanotaenia ayamaruensis), endemis danau alami itu.

Spesies ikan invasif juga membawa penyakit di perairan. Ada 13 penyakit, di antaranya lernaea cyprinacea pada ikan mas, viral nervous necrosis virus pada kerapu, koi herpesvirus pada ikan koi dan ikan mas, serta taura syndrome virus pada udang.

Antisipasi

Slamet Budi Prayitno menegaskan, ancaman spesies asing invasif itu masalah serius yang harus disikapi. Bila ikan karnivora harus dilarang masuk, ikan omnivor dan berfisik kuat butuh studi lanjut. Izinnya tetap harus diawasi sejak masuk hingga dipelihara dan diperjualbelikan.

Pada ikan berisiko rendah dengan kategori pertumbuhan lambat, reproduksi lamban, dan hanya hidup pada lingkungan tertentu—selama bisa dipastikan tak membawa penyakit—dibolehkan masuk untuk hobi/ornamen.

Slamet berharap Peraturan Menteri KKP No 17/2009 berisi daftar ikan-ikan yang dilarang masuk diperbarui. Penanganan spesies invasif juga perlu didukung lintas sektor.

Sesuai dengan amanat Konvensi Biodiversitas, koordinator soal spesies invasif adalah Kementerian lingkungan hidup bersama Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Dalam Negeri. Kementerian Perhubungan penting terlibat karena ada kasus spesies invasif dibawa air balas kapal laut. (ICH)