Menyiasati Margin Budidaya Lele

Beragam cara dilakukan pembudidaya untuk menambah margin usaha budidaya lele. Margin keuntungan pembudidaya lele masih belum optimal dari berbagai komponen, baik mata rantai tata niaga yang panjang maupun tingkat efisiensi budidayanya. Masing–masing pembudidaya lele memiliki cara sendiri untuk memperoleh margin keuntungan yang lebih baik.

Margin keuntungan yang diperoleh pembuddidaya lele, tidak lepas dari harga lele. Berdasarakan pengakuan pembudidaya lele di berbagai daerah, saat ini (April 2017) harga lele di pasar berkisar antara Rp 23 – 25 ribu per kg. Namun harga tersebut bukanlah harga lele yang diterima pembudidaya di kolam. Harga lele di kolam masih berkisar antara Rp 15.000 – Rp 16.000 per kg.

Jika dihitung, saat harga bagus seperti sekarang pun pembudidaya lele hanya bisa meraup keuntungan Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg. Terlebih jika harga lele dibawah Rp 15 ribu per kg, bisa-bisa pembudidaya hanya menikmati keuntungan Rp 1.000 – Rp 2.000 per kg atau bahkan kurang dari itu.

Dalam satusiklus budidaya antara 2-3 bulan, kebanyakan pembudidaya mengaku rata-ratamengantongi margin sekitar Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg saat harga bagus. Misalnya saja Suganda Pembudidaya Lele Asal CirebonJawa Barat, mengakui rata-rata margin yang ia dan plasmanya peroleh sekitar Rp 3.000 per kg.

”Saya paling dapat margin sekitar Rp 3.000 per kg kalau harga di kisaran Rp 15.00 per kg, dengan biaya produksi Rp 12.000 per kg, kalau bisa makin kecil biaya produksinya maka keuntunganya bisa lebih besar,” tutur Suganda. Ia menginformasikan saat ini (Akhir Maret) harga lele di kolam untuk wilayah Cirebon sekitar Rp 15.000 – Rp 15.500 per kg, harga ini sudah bertengger cukup lama dari pertengahan 2016 lalu.

Hal yang sama juga dialami Ridwan pembudidaya lele asal Parung, dengan biaya produksi sektar Rp 13.000 – Rp 14.000 per kg dan rata-rata harga di kolam sekitar Rp 16.000 per kg, ia mengantongi margin Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg. ”Kita disini rata-rata HPP sekitar Rp 13.000 per kg, udah hampir setahun harga lumayan bagus di kisaran Rp 16.000 per kg tapi ya keuntungan kami paling masih dikisaran Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg,” ujar Ridwan.

Muhammad Amir pembudidaya lele asal Pekalongan Jawa Tengah yang kini pindah ke Cibinong, menilai margin Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg dirasa belum adil. ”Ini kurang adil bagi pembudidaya, kalau tengkulak atau pedagang di pasar bisa dapat Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg juga padahal ngangkat waktunya satu hari saja, harusnya pembudidaya bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar karena sudah menunggu 2 – 3 bulan sampai panen,” ungkap Amir. Idealnya menurut Amir, pembudidaya bisa menikmati keuntungan Rp 4.000 – Rp 5.000 per kg, agar pembudidaya dapat lebih sejahtera.

Tata Niaga

Tata niaga digadangmenjadi biang keladi yangmemangkas margin keuntungan pembudidaya lele. Harus dicermati bagaimana rantai tata niaga lele yang masih harus melewati beberapa jalur. Diungkapkan Arvian Muhammad Technical Sales Fish Feed SPV  PT Central Pangan Pertiwi (CPP), rantai tata niaga lele saat ini beragam dan rata-rata sekitar 3-4 leveldari mulai pembudidaya sampai ke konsumen akhir.

Lebih jauh ia menjelaskan,rantai tata niaga lele kalau di Parung Bogor biasanya dari pembudidaya itu ke bandar yang bertindak sebagai inti juga merupakan pembudidaya besar, kemudian dari bandar akan diteruskan ke tengkulak atau pengepul. Setelah itu dari pengepul dibawa lagi ke pengecer/pedagang di pasar atau langsung ke pecel lele, dari pedagang dipasar baru dijual ke konsumen ibu rumah tangga atau tukang sayur.

Menurutnya,fungsi dari bandar yang kebanyakan juga merupakan inti dari pembudidayaplasmanya untuk memastikan ketersediaan stok ikannya. ”Kalau pasar kan maunya kontinu, jadi perlu ada yang memastikan stoknya di kolam, nah ini peran dari bandar, kalau pengepul atau tengkulak perannya lebih ke sortir, karena kan permintaan pasar beda-beda ukurannya, peran mereka membagi permintaan sesuai ukuran,” terang Arvian.

Sehingga jangan heran jika harga lele di konsumen akhir berkisar antara Rp 23 – 25 ribu per kg, padahal harga di kolam hanya Rp 15.000 – Rp 16.000 per kg. Selisih harga antara Rp 7.000 – Rp 9.000 per kg saat ini masih dinikmati oleh bandar, tengkulak/pengepul,dan pengecer (pedagang di pasar) yang rata-rata mengambil keuntungan Rp 1.000 – Rp 3.000 per kg. Alhasil yang bisa dinikmati pembudidaya hanya Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg sebagai keuntungan bersih dari masa budidaya 2-3 bulan.

Lain lagi dengan Ibnu Subroto Ketua Umum Aplesi (Asosiasi Pembudidaya Lele Indonesia), menurutnya jika pembudidaya ingin memperoleh keuntungan yang bagus sebaiknya bisa langsung jual ke pasar. ”Tapi kebanyak gak telaten dan sudah capek produksi,sehingga dijual ke pengepul saja,” ujar Ibnu. Padahal ia yakin jika pembudidaya mau dan telaten bisa diusahakan untuk menjual langsung ke pasar meskipun dalam skala kecil asalkan kontinu.

Adalah Ridwan yang berkeinginan mencoba menjual langsung lelenya ke pasar, dengan membuka lapak di pasar. Namun niat ini belum bisa ia lakukan karena terkendala permintaan yang beragam ukurannya kalau langsung dijual ke pasar, sedangkan dari kolam biasanya ia jual ke pengepul/tengkulak dalam jumlah besar,dan semua ukuran.

’Bagi-bagi rezeki sekalian memang mereka bertugas untuk menyortir ikannya sesuai permintaan pasar, karena beda-beda ukurannya, kalau untuk pecel lele mereka biasanya minta di ukuran se kg isi 6-8 ekor, kalau untuk tukang sayur minta ukuran yang lebih kecil 1kg isi 10, kita punya kesimpulan akhirnya gak mudah juga mengaturnya kalau langsung jual ke pasar,” ujar Ridwan. Meskipun suatu hari nanti ia masih berharap bisa punya lapak di pasar untuk langsung lele hasil panen di kolamnya.

Terkait tata niaga lele, menurut Amir persoalannya ada pada middle man yang berada diantara pembudidaya dan end user. Amir mengungkapkan adanystengkulak atau middle man ini karena pola budidaya yang kurang sehat. ”Yang namanya kebutuhan dipasar kan rutin, pola pembayaran di pasar secara umum tidak cash, tinggal satu nota, kita kirim hari ini baru dibayar yang kemarin. Pasar menuntut jaminan kontuinitas mau bayar setelah ada kiriman lagi, nah masalahnya kan kalau pembudidaya yang punya 4,5 atau 10 kolam tidak bisa panen kontinu tiap hari, seandainya kita bisa panen secara rutin itu bisa memutus middle man,” tukas Amir.

Amir mencoba mengurai permasalahan ini, menurutnya salah satu strategi mengatasinya dengan menerapkan model kawasan. Lanjut dia, konsepnya pembudidaya berkumpul dalam satu kawasan/satu desa atau kampung dengan mengatur tanggal tebar benih agar waktu panennya bisa diatur, jadi setiap hari bisa kontinu panen,” ujar Amir.

Ia menganjurkan menerapkan close sirkuit farming yakni dalam satu kawasan terdapat usaha pembenihan, pendederan, dan pembesaran, bahkan olahan. Dengan sistem ini diharapkan terbentuk satu pola tata niaga yang berpihak pada pelaku usaha budidaya lele serta menaikan posisi tawar pembudidaya terhadap pasar.

Menekan HPP

Tak hanya tata niaga saja yang harus diperbaiki, tugas pembudidaya juga untuk menekan biaya produksi jika ingin memperoleh margin yang lebih baik. Jika ngin menekan biaya produksi tentu harus dilakukan efisinesi atau strategi tertentu.

Misalnya saja Suganda bersama dengan plsamanya, yang kini bisa panen sekitar 1,5 ton per hari membuat strategi untuk menghasilkan HPP lele yang rendah agar dapat bersaing sekaligus memperoleh margin keuntungan lebih besar. ”Strategi kami disini dengan menggunakan benih ukuran kecil sekitar 2 cm yang harganya murah sekitar Rp 20 – 25 per ekor, walaupun masa budidayanya jadi lebih panjang harusnya kalau benih besar bisa 2 bulan ini kita baru panen sekitar 2,5 sampai 3 bulan,” ungkap Suganda.

Jurusnya dan kelompok menggunakan benih lele ukuran kecil dia percaya efektif menurunkan biaya produksi. Suganda merinci, jika kita pakai benur ukuran besar misalnya 10 -12 cm yang harganya Rp 300 per ekor, untuk benur kita sudah keluarkan uang Rp 3.000 per kg (kalau mau panen ukuran 1 kg isi 10).

Belum lagi untuk pakan, menurutnya rata-rata FCR(konversi pakan)sekitar 1 – 1,1 kalau harga pakan sekitar Rp 9.000 per kg, pakan dan benur saja sudah hampir Rp 12.000 per kg, belum lagi probiotik, obat-obatan, ongkos tenaga kerja, dan lainnya. ”Kita bisa hitunglah pakan Rp 9.000, benih Rp 3.000, obat-obatan, sama tenaga kerja biaya produksi bisa Rp 13.000 – Rp 14.000 per kg, karena kita disini pakai benih kecil yang harganya murah makanya kita bisa HPP di Rp 11.500 – Rp 12.000 per kg,” ungkap Suganda.

Kalau Suganda mampu mencetak lele dengan biaya produksi Rp 11.500 – Rp 12.000 per kg, lain lagi dengan Ridwan pembudidaya Lele asal Parung. Ia menggunakan benur ukuran besar seperti yang disebutkan Suganda, dengan ukuran benur 9-10 cm atau 11-12 cm. ”Saya mengejar agar perputarannya cepat, kita bisa 2 bulan panen, kalau pakai benur ukuran kecil waktunya lebih lama dan risiko kematiannya juga lebih tinggi apalagi untuk di Parung kami gak bisa menggunakan benur kecil karena lingkungannya gak mendukung, kalau dipaksakan bisa banyak yang mati dan malah gagal budidayanya,” tutur Ridwan.

Starteginya di Parung untuk menekan HPP dengan mengkombinasikan pakan pabrikan dan pakan limbah. ”Kalau kita pakai full pelet biaya produksinya bisa sekitar Rp 13.500 – Rp 14.000 per kg, kalau kita campur dengan pakai pakan limbah HPP-nya bisa Rp 13.000 per kg,” ujar Ridwan.

Menambahkan Ridwan, Amir mengakui kalau HPP lele dipengaruhi berbagai faktor terutama pakan yang memegang komponen biaya terbesar. ”Kalau FCR pembudidaya bisa 0,8 – 0,85 maka HPP nya kita bisa Rp 11.000 – Rp 11.500 per kg, tapi kalau FCR-nya sekitar 1,1 HPP nya sekitar Rp 13.800 per kg itu sudah dihitung biaya penyusutan kolam, dekat rata-rata tingkat kelangsungan hidup (SR) 80%,” ujar Amir.

Sumber : http://www.trobos.com

Advertisements

Benih Lele Masih Kurang Pasokan

Pembenihan lele di Indonesia kebanyakan masih dalam skala UPR, perlu ditingkatkan skala dan kualitasnya. Kalau pakan memegang komponen biaya terbesar, lain lagi dengan benih meski bukan biaya terbesar dalam budidaya namun merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya. ”Kalau kita dengerin cerita di lele banyak kegagalan baik konvensional maupun bioflok khususnya pemain baru yang gagal, yang paling utama kegagalan itu karena faktor benih,” ujar Muhammad Amir pembudidaya lele asal PekalonganJawa Tengah yang kini pindah ke Cibinong.

Menurutnya, rata-rata benih yang beredar di pembudidaya diperoleh dari pemijah/breeding lokal yang tidak mempunyai manajemen broodstock, dan akar masalahnya salah stunya pada ketersediaan induk yang qualified (memiliki kualifikasi baik) yang masih terbatas. “Di Indonesia produsen induk terbatas di 3 Balai, yakni Sukabumi, Sukamandi, dan Lombok, dari tiga produsen induk tidak bisa mengcover kebutuhan pembudidaya,” ujar Amir.

Diakui Imza Hermawan salah satu pembenih lele asal Bogor, yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), bahwa saat ini walaupun sudah ada indukan lele sangkuriang 2, lele mutiara, dan lainnya tapi itu masih belum cukup. Ia berharap agar pemerintah harus lebih meningkatkan lagi kualitas indukan (Grand Parent Stock) lele yang lebih unggul untuk mendukung benih yang dihasilkan pembudidaya juga memiliki kualitas yang baik. “Saya berharap pemerintah punya program induk unggul yang terus menerus dan massif,” kata Imza berkeinginan.

Ia juga menginformasikan, saat ini untuk pembenihan lele di Indonesia kebanyakan masih dalam skala UPR (Usaha Pembenihan Rakyat) dengan skala rata-rata pembenih produksinya sekitar 100 ribu ekor per siklus. Padahal kebutuhan benih lele jumlahnya sangat besar seiring dengan peningkatan permintaan lele dan tren budidayanya.

Menambahkan Imza, Cecilia Eny Indriastuti Bendahara APCI membenarkan bahwa permintaan benih lele saat ini sangat tinggi. Dari hitung-hitungannya, jika pembudidaya di Parung produksinya total sekitar 60 ton per hari, paling tidak mereka memerlukan benih sekitar 1.250.000 ekor setiap harinya untuk wilayah Parung dan sekitarnya saja.

Padahal diketahui produksi benih masih mengandalkan pembenih UPR yang skala produksinya kecil, sekalipun ada juga perusahaan pakan yang juga memproduksi benih tetap saja masih kurang. ”Banyak benih lele masuk dari daerah lain seperti Boyolali dan Jawa Timur untuk memasok kebutuhan benih di Jawa Barat,” ujar Eny.

Sumber : http://www.trobos.com

Mengatasi air hijau pada kolam

Air  hijau dalam kolam koi adalah momok bagi pengemar Koi, air yang berwarna hijau tidak hanya membuat pemandangan di kolam tidak indah juga membuat Koi tidak bisa dinikmati keindahannya. Problem air kolam berwarna hijau atau Green water sangat biasa terjadi dan dialami para penggemar koi. Air kolam koi yang berwarna hijau disebabkan oleh ledakan populasi ganggang (algae) di dalam kolam atau biasa disebut Algae Booming . Ganggang merupakan fitoplankton yang berukuran sangat kecil dalam orde mikron yang hidup di dalam air kolam koi. Sebagaimana tumbuhan lainnya ganggang mengkonsumsi Ammonia untuk tumbuh dan berkembang, sehingga ganggang akan tumbuh dengan sangat subur jika terdapat Ammonia yang cukup di dalam air. Semakin tinggi kandungan  amonia  di kolam  koi akan membuat kolam menjadi cepat berwarna hijau.

Ammonia di dalam kolam koi dihasilkan dari kotoran ikan koi, sisa makanan, hewan mati dan tumbuh-tumbuhan mati yang membusuk di dalam kolam. Biasanya pertumbuhan ganggang akan berlangsung dengan pesat pada saat suhu di dalam kolam mulai meningkat terutama pada musim panas dan kemarau. Problem air  hijau di kolam koi tidak bisa diatasi dengan menggunakan filter mekanis karena ukuran ganggang yang sangat kecil yang tidak memungkinkan disaring.

Untuk mengatasi masalah air hijau pada kolam koi perlu dicari sebab utamanya. Ada beberapa kondisi ideal yang memungkinkan algae tumbuh dan berkembang dengan baik. Karena itu solusi untuk mengatasinya adalah mengurangi atau menghilangkan kondidi-kondisi ideal ganggang tumbuh dan berkembang. Kondisi ideal untuk algae tumbuh pesat jumlahnya adalah:

  1. Suhu air di dalam Kolam yang hangat, Algae tumbuh dengan baik di suhu  air yang hangat. Pada musim kemarau atau musim panas suhu air di dalam kolam cenderung meningkat sehingga memungkinkan ganggang tumbuh dengan baik.
    2. Sinar Matahari yang penuh di dalam kolam, Sebagaimana halnya tumbuhan lain di , algae memerlukan sinar matahari untuk melakukan fotosintesis. Pada kolam outdoor sinar matahari akan secara penuh masuk ke dalam kolam sehingga Algae dapat tumbuh dengan baik.
    3. Sisa  Makanan Koi yang berlebih, sisa makanan ikan yang berlebih akan  membusuk dan menghasilkan ammonia. Amonia merupakan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan ganggang.
    4. Kotoran Koi menghasilkan Amonia. Kotorabn Koi yang mengandung ammonia akan membuat algae tumbuh dengan subur.

Jika sebagian atau keseluruhan  syarat tersebut  terpenuhi, ganggang di kolam koi akan  tumbuh dengan baik dan air akan menjadi  berwarna hijau (booming algae). Karena itu  Kunci untuk membersihkan air hijau adalah dengan menghilangkan  atau meminimalkan kondisi ideal untuk pertumbuhan mereka.

Untuk mengendalikan pertumbuhan  Algae di kolam ikan koi dapat dilakukann dengan beberapa cara. Bisa dipilih cara yang tepat atau kombinasi  beberapa cara yang paling mungkin dan efisien.

1. Menaungi Kolam Koi

Kehangatan air dan ketersediaan cahaya untuk fotosintesis dipengaruhi  oleh sinar matahari yang masuk ke dalam kolam koi. Menaungi  kolam akan mengurangi cahaya matahari di kolam. Jika cahaya yang masuk berkurang maka pertumbuhan ganggang akan terhambat Menaungi kolam dapat dilakukan dengan memasang atap atau dengan menanam pohon di sekitar kolam. Menanam pohon di sekitar kolam bisa membuat  kolam kotor oleh daun-daunan yang terjatuh.

2. Buang Semua Kotoran Yang menghasilkan Ammonia

Menghilangkan kotoran baik yang bersifat fisik maupun kimia. Pembuangan ini dilakukan dengan memasang sistem filter kolam koi yang baik dan tepat. Sistem Filter fisik menghilangkan sebagian besar bahan organik yang membusuk di kolam. Filter kolam koi harus memiliki kapasitas  tidak kurang dari 10% dari volume kolam koi, idealnya adalah 30% Volume kolam. Air yang sudah masuk ke dalam filter dikembalikan lagi ke dalam kolam dalam bentuk yang sudah bersih menggunakan pompa. Pompa ini  harus mampu mengalirkan seluruh volume air kolam  dalam satu jam/satu siklus putaran dalam satu jam. Misalnya volume kolam adalah 6000 liter, maka kemampuan pompa haruslah 6000 liter/jam dan volume filter 1800 liter.

Filter kolam koi biasanya memiliki beberapa chamber, filter mekanis, filter biologis dan kimia.Material yang tidak mampu di sharing dengan  filter mekanis difilter dengan filter biologi dan kimia. Pada ruang filter biologis bakteri tertentu mengubah amonia menjadi nitrit ini, yang selanjutnya dikonversi oleh bakteri lain ke nitrat. Nitrat kurang berbahaya daripada kedua, tetapi mereka kuat pupuk untuk semua tanaman di dalam kolam, termasuk ganggang.

3. Menambahkan tanaman pada ruang filter

Tanaman akan mengkonsumsi amonia untuk kelangsungan hidupnya. Dengan memberikan tanaman air pada ruang filter akan mengurangi makanan untuk algae sehingga tidak dapat tumbuh dengan  baik.

4. Memberikan Zat Water Cleaner

Water Cleaner menggunakan metode kimia untuk mengendalikan algae, Water cleaner akan membunuh algae  atau menghambat semua jenis ganggang  yang ada dalam air. Karena water cleaner merupakan zat racun , maka perlu berhati-hati dalam menggunakannya. Dalam dosis yang berlebihan akan dapat meracuni ikan koi.

5. Menambahkan Carbon Aktif  dan Batu Zeolit

Karbon aktif dapat menyerap zat-zat kimia berbahaya di dalam kolam koi demikian pula dengan Batu zeolite.

6. Menambahkan Lampu Ultra Violet

Sistem lampu ultraviolet yang dirancang untuk membunuh alga dan membuat mereka menggumpal, selanjutnya algae yang sudah mati dapat disaring dengan filter mekanis. Lampu UV secara efektif dapat  menghilangkan air hijau di kolam koi dalam waktu singkat.

7. Mengganti air sebagian secara periodik.

Mengganti air secara periodik  10-30%  dari volume air kolam akan membantu mengurangi kandungan amonia dalam air , jika diperlukan dapat dilakukan  setiap hari. Jika tidak, Anda bisa  dilakukan penggantian air kolam sebagian setiap minggu. Jangan mengganti air kolam keseluruhan , karena kondisi air yang sudah mature akan kembali dari nol. Ikan perlu beradaptasi lagi dan sistem filter biologis tidak bekerja secara sempurna.

Cara-cara tersebut merupakan beberapa alternatif yang bisa dipilih agar  dapat mengurangi dan menghilangkan air hijau di kolam. Pada dasarnya air hijau di dalam kolam koi dapat diatasi dengan sistem filter kolam yang baik dan mumpuni. Karena itu jika kolam koi berwarna hijau periksa sistem filternya, dari mulai rancangannya, volumenya, kapasitas pompa dan lain-lain.

Petani sulap lahan pertanian jadi tambak ikan

ilustrasi Petani membangun lahan tambak baru di bekas kawasan hutan manggrove, Desa Gano, Syiah Kuala, Banda Aceh, Senin (3/2).(ANTARA FOTO/Ampelsa)

Samarinda (ANTARA News) – Petani di Desa Sebakung, Kabupaten Penajam Paseru Utara, Kalimantan Timur, menyulap lahan pertanian menjadi tambak ikan air tawar guna meningkatkan penghasilan.

“Sejak pertengahan tahun lalu sawah seluas 13 hektare saya manfaatkan menjadi tambak ikan tawar. Dua jenis ikan yang saya pelihara yakni ikan nila dan ikan mas,” kata Munirun, salah seorang petani di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, di Penajam, Kamis.

Ia mengatakan sudah memanen ikan nila 600 kg dan hasilnya Rp15 juta. Tidak sulit untuk menjual ikan nila ini karena permintaannya cukup banyak.

Menurut dia, risiko memelihara ikan air tawar relatif kecil. Yang menjadi gangguan utama hanya burung dan biawak, namun hal tersebut bisa diatasi bila rajin mengusir burung yang biasanya memangsa ikan pada siang hari.

Pada awalnya, kata dia, tambak miliknya ini adalah sawah dan sering ditanami padi, tetapi hasilnya kurang memuaskan dan dinilai masih kurang untuk memenuhi kebutuhannya.

Dia mengaku, awalnya ia membeli bibit ikan nila dan emas di Jawa Timur sebanyak 400.000 ekor. Harga bibit ikan relatif murah bila dibandingkan membeli di Penajam Paser Utara. Sekarang ikan nila terus bertelur sehingga jumlahnya terus bertambah.

“Untuk panen awal, hanya ikan nila karena ukuran ikan nila cukup besar, hanya 4 ekor untuk 1 kg. Sementara untuk ikan emas belum besar dan kemungkinan dua bulan lagi baru bisa panen,” ujarnya.

Untuk pakan ikan air tawar, menurut Munirun, tidak kesulitan karena hanya memberikan pupuk agar bisa menyuburkan lumut yang menjadi makanan utama ikan nila dan ikan emas. Sedangkan untuk pemasaran, menurut dia, tidak ada masalah karena banyak pedagang ikan yang datang membeli.

“Bahkan sampai meminta saya menyiapkan 2 ton/hari. Jelas saya tidak mampu memenuhi permintaan mereka karena mau ambil ikan dari mana dalam jumlah banyak,” katanya.

Munirun mengatakan, setelah seluruh ikan sudah dipanen, akan kembali menanam padi. Tambak miliknya itu airnya akan dikurangi dan selanjutnya akan ditanami padi.

Namun, katanya, tanaman padi ini hanya dilakukan setahun sekali dan hanya pada musim hujan saja. Untuk meningkatkan penghasilan, petani harus lakukan seperti itu.

Membuat sendiri pakan lele alternatif

Pakan merupakan komponen paling penting dalam usaha budidaya ikan, termasuk ikan lele. Sialnya, harga pakan lele tidak murah. Sebagian besar bahan bakunya diimpor. Hal ini banyak dikeluhkan para peternak ikan.

Untuk menjawab kendala di atas, ada baiknya kita mengetahui bagaimana cara membuat pakan lele alternatif dan sebagai subtitusi pelet buatan pabrik. Terdapat dua tipe pakan alternatif yang akan dipaparkan di sini, yakni pakan dari bahan-bahan utama dan pakan yang memanfaatkan bahan sisa-sisa.

Pakan dari bahan utama dibuat dari bahan-bahan yang memiliki kandungan nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan lele. Sedangan pakan tambahan didapatkan dari bahan-bahan organik sisa atau yang harganya murah dan ketersediaanya melimpah.

Kandungan nutrisi pakan

Pakan lele yang baik harus memenuhi rasio pemberian pakan dengan penambahan bobot tubuh kurang dari satu (Feed Conversion Ratio/FCR>1). Artinya, setiap pemberian pakan sebanyak 1 kg akan menambah bobot tubuh sebanyak 1 kg. Jadi semakin kecil rasio FCR-nya, semakin baik pakannya.

Penyediaan pakan lele untuk pakan utama harus memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Pakan tersebut harus mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Protein berfungsi sebagai sumber energi utama. Jenis ikan karnivora semacam lele membutuhkan protein yang tinggi yaitu lebih dari 35% dari berat pakan.

Lemak dibutuhkan sebagai sumber energi tambahan penting. Selain sebagai sumber energi, lemak sangat penting untuk kelangsungan hidup ikan, melarutkan beberapa jenis vitamin dan menjaga keseimbangan daya apung ikan dalam air. Penambahan lemak pada pakan juga mempengaruhi rasa dan mutu pakan. Lele membutuhkan lemak dengan kadar 4-5 persen dari berat pakan. Kadar lemak tidak boleh berlebihan karena bisa menyebabkan penimbunan lemak pada usus dan hati ikan, sehingga ikan jadi kurang nafsu makannya.

Karbohidrat terdiri dari senyawa serat kasar dan bahan bebas tanpa nitrogen. Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi. Selain berfungsi sebagai nutrisi, karbohidrat juga bisa menjadi bahan perekat dalam pembuatan pakan lele. Kandungan karbohidrat pada pakan lele sebaiknya ada pada kisaran 4-6 persen.

Vitamin merupakan zat organik yang dibutuhkan ikan dalam jumlah kecil, namun peranannya sangat vital. Perannya untuk mempertahankan kondisi dan daya tahan tubuh. Vitamin umumnya tidak dapat disintesis oleh tubuh ikan, jadi harus dipenuhi dari luar atau pakan. Kebutuhan vitamin akan menurun seiring dengan pertumbuhan besar ikan.

Satu lagi yang dibutuhkan dalam jumlah kecil namun penting, yakni mineral. Mineral ini memainkan peran penting dalam membangun struktur tulang ikan dan dalam fungsi metabolisme. Mineral terdiri dari makromineral dan mikromineral. Makromineral yang terkandung dalam tubuh ikan diantaranya kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K), fosfor (K), klorida (Cl) dan sulfur (S). Sedangkan mikromineral antara lain besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), iodium (I), kobalt (Co), nikel (Ni) fluor (F), krom (Cr), silikon (Si) dan selenium (Se).

Membuat pakan lele alternatif

Pakan alternatif pengganti pelet bisa kita buat dari berbagai bahan. Kandungan utama pelet yang paling dominan adalah tepung ikan. Tepung ikan digunakan karena kandungan proteinnya yang tinggi dan gizi lainnya. Namun harga tepung ikan ini mahal, oleh karena itu kita bisa mencampurnya dengan bahan-bahan lain yang lebih murah tanpa mengurangi kandungan protein yang ada.

Pakan lele alternatif yang kita buat harus disesuaikan dengan kebutuhan standar ikan lele untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dan cepat (lihat kembali tabel di atas). Untuk itu, ada banyak bahan alternatif yang bisa kita dapatkan, sebaiknya yang menjadi acuan adalah kandungan protein. Berikut tabel berbagai bahan beserta kandungannya dalam satuan persen (%):

Bahan Protein Lemak
Tepung Ikan 62.99 8.4
Tepung Kedelai 36,6 14.30
Bungkil Kelapa 18.46 15.73
Tepung Jagung 10.40 0.53
Dedak Halus 15.58 6.8
Tepung Tapioka 2.6 2.6

Misalnya, kita ingin membuat pakan lele dari campuran 50 kg tepung ikan (kandungan protein 62,9%) dengan 50 kg dedak halus (15,58%), apakah campuran tersebut memenuhi kebutuhan protein ikan lele?

  • Jumlah protein dalam tepung ikan = 62,9% x 50 kg = 31,45 kg
  • Jumlah protein dalam dedak halus = 15,58 x 50 kg = 7,79 kg
  • Jumlah total protein dari tepung ikan dan dedak halus = 39,24 kg
  • Artinya dari total berat bahan baku 100 kg didapat protein 39,24 kg atau 39,24% dari adonan tersebut adalah protein. Hal ini mencukupi untuk pakan lele dimana minimal tersedia kandungan protein kasar sebanyak 30%.
  • Untuk memperkaya kandungan nutrisi, kita bisa menambahkannya dengan berbagai vitamin ikan yang tersedia di pasaran.

Membuat pakan lele tambahan

Disebut pakan tambahan karena tujuannya untuk melengkapi pemberian pakan utama. Kandungan nutrisi pada pakan lele tambahan tidak bisa ditakar dengan tepat. Namun kandungannya masih bisa kita kira-kira. Pemberian pakan lele tambahan dalam budidaya lele intensif bisa menekan biaya pengeluaran pakan, sehingga peternak bisa menikmati keuntungan yang lebih besar. Bahan-bahan berikut disarikan dari pengalaman-pengalaman para peternak lele.

a. Limbah peternakan unggas

Beruntung bagi peternak yang lokasinya dekat dengan peternakan unggas (ayam atau puyuh). Peternakan unggas biasanya menghasilkan limbah berupa ayam mati dalam jumlah yang kontinyu. Limbah tersebut bisa kita gunakan untuk pakan lele. Karena ikan lele pada hakikatnya adalan hewan karnivora.

Bangkai ayam atau puyuh sebaiknya tidak diberikan begitu saja untuk menghindari terjangkitnya penyakit pada ikan. Bangkai harus dibersihkan terlebih dahulu bulu dengan cara direbus. Selain menghilangkan bulu, proses perebusan berfungsi untuk membunuh bibit penyakit yang mungkin terkandung dalam bangkai. Perebusan bisa dilakukan dalam drum-drum besar.

Setelah direbus diamkan bangkai tersebut sampai dingin, lalu berikan pada ikan lele pada hari yang sama. Pakan diberikan dengan cara digantung dan celupkan pakan dalam air kolam. Setelah habis angkat kerangka yang tersisa jangan sampai menjadi residu dalam kolam.

b. Keong mas atau bekicot

Disebagian tempat, keong mas merupakan hama bagi petani padi. Kita bisa memanfaatkan daging keong yang kaya protein untuk pakan lele tambahan. Keong mas mudah ditemukan di daerah pesawahan. Cara mengumpulkannya pun mudah, apalagi kalau tempat kita ada di pedesaan. Tinggal pasang plang, terima keong mas lalu nego, beres urusan.

Sama seperti bangkai unggas, keog mas hendaknya tidak diberikan secara langsung. Rebus terlebih dahulu keong mas atau bekicot dalam air mendidih selama beberapa menit. Perebusan ini fungsinya untuk mengempukan daging, memudahkan pelepasan cangkang, dan membunuh bibit penyakit yang tidak dikehendaki. Setelah direbus, lepaskan cangkangnya dengan cara dicukil menggunakan garpu. Kemudian, daging keong didinginkan dan dicincang kecil-kecil.

c. Belatung

Belatung (maggot) merupakan sumber protein yang baik buat ikan lele. Belatung dihasilkan dari lalat. Ada beberapa jenis belatung yang cocok untuk dijadikan, salah satunya dari lalat black soldier fly (Hermetia illucens). Mengapa black soldier fly? Karena belatung ini memiliki kandungan protein kasar hingga 40% dan menurut penelitan BBPBAT cocok untuk pakan lele tambahan.

Untuk membiakkan belatung ini cukup sediakan ember, daun pisang, ampas tahu, sisa ikan asin dan bisa ditambahkan kotoran ayam. Caranya masukkan ampas tahu sebagai bahan utama kedalam ember, lalu tambahkan air bersih dan aduk hingga rata. Kemudian tambahkan ikan asin dan kotoran ayam, lalu tutup permukaannya dengan daun pisang kering agar lalat black soldier fly mau bertelur. Tempatkan ember ditempat teduh dan terlindung dari air hujan.

Setelah kira-kira 3 minggu atau bisa saja kurang dari itu, belatung sudah siap dipanen. Caranya campurkan air pada media kultur, lalu saring untuk memisahkan media kultur dari belatung. Belatung siap diberikan sebagai pakan lele. Untuk bahan baku media kultur sebanyak 100 kg kira-kira akan dihasilkan belatung 60 kg. Perhatikan, jangan menyimpan belatung segar terlalu lama karena bisa berubah menjadi lalat.

d. Ikan rucah

Bagi para peternak yang lokasinya berdekatan dengan tempat pelelangan ikan, opsi ini bisa menjadi pilihan yang efektif. Ikan rucah atau ikan sisa tangkaapan yang kecil-kecil yang tidak dikonsumsi manusia biasanya dijual dengan harga murah. Ikan ini bisa kita manfaatkan untuk pakan lele tambahan.

Ikan rucah biasanya tidak banyak mengandung tulang atau duri. Bagi ikan rucah seperti ini tidak memerlukan pengolahan terlebih dahulu. Bisa langsung dicincang dan diberikan pada lele. Namun bagi ikan yang banyak mengandung tulang atau duri, sebaiknya direbus dahulu.

Sumber :alamtani.com