PELEPASAN IKAN MAS MANTAP SEBAGAI PENDUKUNG PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA YANG BERKELANJUTAN

Ikan Mas merupakan komoditas Perikanan Budidaya Air Tawar yang cukup digemari di Indonesia. Selain memiliki tekstur yang lembut dan mengandung nilai gizi tinggi, Ikan Mas juga memiliki nilai potensi ekonomi yang tinggi karena termasuk jenis ikan yang mudah untuk dibudidayakan dan permintaan yang terus meningkat dari pasar.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi memperkenalkan komoditas unggul baru bernama Ikan Mas Mantap (Majalaya Tahan Penyakit) sebagai langkah untuk memperkaya jenis dan varietas Ikan Mas yang beredar di masyarakat. Beberapa keunggulan dari Ikan Mas hasil pemuliaan ini antara lain adalah daya tahan yang tinggi terhadap serangan virus KHV dan bakteri Aeromonas Hydrophyla, serta pertumbuhan yang lebih cepat.

Pelepasan komoditas unggul ini telah ditetapkan pada tanggal 16 April 2015 yang lalu melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 24/Kepmen-KP/2015 Tentang Pelepasan Ikan Mas Mantap.

Dengan dilepasnya komoditas unggul baru ini ke masyarakat, diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi Ikan Mas yang sebelumnya telah mengalami peningkatan yang signifikan dari 282.695 ton tahun 2010 meningkat menjadi 484.110 ton tahun 2014 (data sementara).

Unduh Lampiran :  ikan-mas-mantap-24-kepmen-kp-2015.pdf

Sumber : http://www.djpb.kkp.go.id

IKAN MAS MANTAP SUKABUMI

Advertisements

Informasi mengenai Ikan Mas Mustika

Ikan Mas MUSTIKA “Mas Rajadanu Super Tahan Infeksi KHV”

  • Ikan Mas Mustika merupakan strain baru hasil dari peningkatan ketahanan KHV ikan mas Rajadanu yang dilakukan melalui program seleksi berdasarkan marka molekuler  MHC II spesifik pada alel Cyca-DAB1*05.
  • Ikan mas Mustika ini dilepaskan ke masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 24/KEPMEN-KP/2016.

Keunggulan :

  • Persentase marka MHC II sebesar 100%
  • Daya tahan terhadap infeksi KHV tinggi (SR  uji tantang 98,89%)
  • Pertumbuhan relatif cepat (SGR 3,01-3,62 % bobot/hari)
  • Efisiensi pakan tinggi (FCR 1,24-2,38)
  • Produktivitas pembesaran tinggi (lebih tinggi 5-67% dari pembanding)
  • Toleransi terhadap cekaman lingkungan tinggi

Rancangan hilirasi :

  •  Gelar teknologi (Januari – Juni 2017)
  •  Roadshow industri (Juli – Desember 2017)
  •   Kerjasama industri 2018

Potensi Mitra Bisnis / Pemanfaat Produk :

  • Unit pembenihan rakyat (UPR)
  • Unit pembenihan pemerintah (Dinas)
  • Pengusaha / industri perikanan

Sumber : bppisukamandi.kkp.go.id

Ikan Mas Majalaya MANTAP

a_5903

Budidaya ikan mas di Indonesia sudah cukup lama terbelenggu serangan penyakit  Koi Herpes Virus (KHV) dan bakteri Aeromonas hydrophila. Serangan penyakit tersebut membuat produksi ikan primadona air tawar ini tertekan. Pembudidaya tidak bisa meningkatkan skala usaha karena terancam kematian masal akibat serangan penyakit ini.

Namun kini hal yang dinanti para pembudidaya ikan mas telah hadir. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi melalui surat keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 24/KEPMEN-KP/2015 tentang pelepasan ikan mas mantap,  pada 16 April 2015 telah merilis indukan ikan mas tahan KHV.

Dijelaskan Perekayasa Ikan Mas dari BBPBAT Sukabumi, Adi Sucipto, ikan mas ini telah teruji tahan terhadap penyakit KHV dan bakteri Aeromonas hydrophila.  Keunggulan lainnya, kata Adi, ikan mas varietas ini pertumbuhan dan konversi pakan yang bagus. Meski memiliki banyak keunggulan, diakui Adi harga jual relatif sama dengan induk ikan mas lainnya.

Hingga kini, lanjut Adi, ikan mas tahan penyakit ini sudah disebarkan ke daerah Jawa Barat, Jambi, Aceh, Sumatera Barat, dan Papua. “Respon pasar sejauh ini bagus. Namun demikian, kami masih harus terus lakukan pemantauan atas produk yang telah kami pasarkan,” jelas Adi.

Sudah Teruji

Adi menjelaskan, dari hasil uji tantang ketahanan ikan mas ini terhadap KHV dan bakteri Aeromonas hydrophyla, maka pembudidaya kini dapat meningkatkan skala produksi. Dan yang tak kalah menarik lagi dari data uji tantang tersebut, pembudidaya memperoleh gambaran presentasi ikan yang hidup jika terjadi serangan penyakit. “Tidak ada metode khusus dalam pemeliharaan induk ikan mas tahan penyakit. Artinya, manajemen pemeliharaannya adalah sama dengan ikan mas yang lain,” ucapnya.

Dipaparkan Adi, uji tantang terhadap KHV juga dilakukan pada ikan mas majalaya MHC⁺ F2 dan kontrol yang berasal dari masyarakat dengan ukuran ikan sekitar 100 gram per ekor. Hasil uji tantang menunjukkan, ikan Majalaya MHC⁺ F2 (kelangsungan hidup 100%) lebih tahan terhadap serangan KHV dibandingkan ikan kontrol (kelangsungan hidup 8,33%) (lihat Gambar 2). Uji tantang dilakukan pada 3 – 24 April 2014 melalui injeksi sebanyak 0,1 ml/ ekor pada konsentrasi 10-2 CFU.

Kajian ikan mas tahan penyakit ini diinisiasi pada 2009 dan secara berkesinambungan dilanjutkan hingga 2014, khususnya pada strain majalaya. Menurut Adi, hasil kajian ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Krzystof L Rakus seperti yang tertuang dalam buku “Major Histocompatibility (MH) Polymorpism of Common Carp: Link with Disease Resistance”.

Dalam kajian ini, kata Adi, para perekayasa di BBPBAT Sukabumi berupaya meningkatkan ketahanan tubuh induk dan benih ikan mas melalui pemberian imunostimulan dan vitamin C, seleksi menggunakan marka Cyca-DABI*05 untuk ketahanan terhadap penyakit bakterial, memperbaiki kualitas lingkungan pemeliharaan, serta terus mencari teknik pemeliharaan yang diduga mampu mengeliminir serangan. Tujuan dari kegiatan pemuliaan ini adalah untuk menghasilkan indukan ikan mas yang tahan penyakit.

Adi memaparkan, respon imun pada ikan mas, terkait dengan adanya Molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas I dan MHC kelas II. “Molekul MHC I secara spesifik terlibat dalam mengeliminir infeksi virus melalui mekanisme sitotoksik, sedangkan MHC II akan mengaktifkan sel-sel fagosit untuk memproduksi antibodi dan mengaktivasi karakter-karakter imun yang terlibat dalam mengeliminasi parasit, bakteri, dan menetralkan virus,” paparnya

Sumber : http://www.trobos.com

hub3

Nila SULTANA

Nila Sultana merupakan varietas Ikan Nila Terbaru singkatan dari Seleksi Unggul Salabintana, ikan nila ini memiliki beberapa keunggulan dari nila-nila lainnya seperti daya tahan tubuh yang bagus, telurnya yang lebih banyak dan pertumbuhannya yang cukup cepat.

Ikan nila Sultana merupakan perkawinan silang dari 10 “strain” ikan nila yang ada di Indonesia

Nila Sultana dikembangkan Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi sejak 2001 lalu. Varietas nila ini mendapat pengakuan dari KKP dengan keluarnya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.28/MEN/2012 tentang Pelepasan Ikan Nila Sultana pada 7 Juni 2012.

Dalam pembesaran ikan nila Sultana ini, sangat cocok dibudidayakan monoseks, yang tujuannya agar kandungan gizi dari pakan yang diberikan terserap seutuhnya kepada tubuh ikan tersebut, karena tidak digunakan untuk kawin. Selain itu ikan nila ini sangat cocok disilangkan dengan ikan nila gesit.

Hasil dari perkawinan tersebut menghasilkan benih ikan yang sangat baik dan pertumbuhannya lebih cepat sampai 40 persen, biasanya ikan nila di panen pada size 4 atau 1 kg berisi empat ikan nila selama tiga bulan, tetapi Nila Sultana untuk mencapai bobot tubuh tersebut hanya di bawah tiga bulan (Abduh Nurhidajat BBPBAT Sukabumi).

Dejeefish selaku Unit Pembenihan yang bersertifikat turut mengembangkan Nila Sultana, Nila SULTANA Betina di pasangkan dengan Nila GESIT menghasilkan anakan GMT (Genetic male Tilapia) dengan kualitas yang terbaik.

Adapun untuk harga benih Nila anakan GESIT dan SULTANA (GMT) kami sertakan dibawah ini  :

  • GMT Ukuran 1 – 2 cm Rp. 35
  • GMT Ukuran 2 – 3 cm Rp. 55
  • GMT Ukuran 3 – 5 cm Rp. 95
  • GMT Ukuran Larva Rp.15

sultana

sultana2