SUKSES JUAL 5-7 KUINTAL NILA PER BULAN

Ikan Nila yang saat ini tengah booming sebagai komoditas unggulan di sektor perikanan, mendatangkan celah usaha yang mulai banyak diminati dan menguntungkan. Saat ini mulai banyak petani beralih membudidayakan ikan nila unggulan seperti varietas Sultana karena memiliki harga jual tinggi dibanding jenis ikan konsumsi lain. Sunanto Tjahyadi, salah satu pembudi daya ikan Nila Sultana mampu mendulang omset hingga Rp 13,5 juta. Seperti apa strategi usahanya dan bagai mana perjalanan usahanya.

Sukses-Jual-5-7-Kuintal-Nila-per-Bulan

Ikan Nila sultana merupakan salah satu Ikan konsumsi air tawar dikalang masyarakat dan masuk kategori unggulan. Dagingnya yang gurih dan kenyal menjadi salah satu kelebihan ditambah kandungan protein ikan Nila juga tinggi sehingga baik untuk kesehatan. Banyak pelaku agribisnis perikanan ramai-ramai membudidaya ikan nila. Salah satu pembudidaya asal Subang, Jawa Barat yang cukup sukses mengembangkan Nila adalah Sunanto Tjahyadi. Pria yang akrab disapa sunanto ini meski tak memiliki basic perikanan murni, mampu menghasilkan jenis-jenis nila unggulan seperti Nila Sultana, Nirwana, dan gift. ‘’saya hanya sampai semester dua Universitas Tarumanegara, sayapun dulu mendapatkan pengetahuan beternak bandeng, dan udang alam dari ayah saya dan seputaran biologi ikan nila didapat dari teman-teman para pembudidaya ikan nila. Jadi saya awalnya hanya hobi memancing dan menjadi pembudidaya ikan nila unggulan,’’ kenang pria kelahiran tanggerang , 6 Oktober 1979 ini.

Dalam budidaya Nila Sultana, sunanto meneruskan warisan keluarga dengan mendapatkan 1 – 2 hektar. ‘’Awal mulai perjalanan saya bulan Desember 2013 saya mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta untuk membeli 2 ribu liter nila unggulan (per liter 100-150 ekor), pakan ikan, dan peralatan yang mendukung seperti jaring ,’’ kata Sunanto. Menurutnya, prospek usaha ini kedepan masih sangat bagus, apalagi kebutuhan ikan nila selalu ada meskipun saat ini persaingan terbilang lumayan ketat. Untuk menghadapinya selain menghasilkan ikan nila yang berkualitas, sunanto terus meningkatkan mutu pelayanan.

Nila Sultana dan Keunggulan. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang sangat populer dibudayakan di Indonesia. Saat ini yang sedang populer dibudidayakan para petani adalah jenis kan Nila Sultana. Jenis ikan konsumsi yang ditemukan oleh Balai Benih Ikan Air Tawar Sukabumi ini merupakan hasil penelitian panjang sejak 2001. Ikan Nila Sultana yang beredar di masyarakat merupakan hasil persilangan sepuluhb varietas nila unggul seperti ikan nila Gift,JICA, Gesit, dan Putih.

Nila jenis ini memiliki ciri khas tubuh putih kehitaman dan bagian punggung agak kekuningan. Nila Sultana bisa memiliki berat bobot 420 g/ekor bisa dicapai dalam waktu 120 hari dari penebaran bibit ukuran 2 – 3 cm. “menurut saya jenis ikan Nila Sultana, saat ini paling populer karena paling banyak diminati oleh konsumen. Ikan nila yang saya besarkan ini dagingnya kenyal, gurih dan tidak bau lumpur. Bahkan menjadi komoditi ekspor dan menjadi konsumsi perusahaan besar pengolahan hasil ikan sehingga membuat Nila Sultana mempunyai nilai jual tinggi. Maka itu banyak petani ikan nila termasuk saya membudidayakan ikan Nila Sultana ,’’ ujar Sunanto

Harga. Saat ini Sunanto menjual ikan nila unggulan berumur 4 bulan keatas (Sultana, Nirwana, dan Gift) dengan harga per kilo Rp 25 ribu. Dari mulai Desember 2013 lalu hingga sekarang sedikitnya Sunanto telah menjual sekitar 5-7 kuintal Nila. ‘’yang saya kembangkan ialah nila jenis Sultana, Nirwana, dan Gift. Di luar varietas nila saya juga menjual jenis ikan patin dan ikan Mas konsumsi,’’ ujar Sunanto. Lebih lanjut Sunanto mengatakan, pembelian ikan nila saat ini hanya dilayani apabila konsumen datang ke tambaknya berada di kawasan Tanggerang Banten.

Pemasaran. Awal usaha, Sunanto sangat mudah memasarkan hasil budidaya ikan nila karena ayahnya sudah ada nama di daerah Pakuhaji, dan seputaran Teluk Naga, Tanggerang, Banten. Selain itu Sunanto memasarkan melalui penyebaran brosur di seputaran Tanggerang.”saat ini konsumen asal tanggerang, Cengkareng, Bogor, dan Serang. Karena ikan nila yang saya budidayakan tidak bau lumpur dan rasa berbeda dari ikan nila lainnya saat dikonsumsi,” ucap Sunanto.

Sunanto tak menerapkan pembelian minimum kepada konsumen khusus yang datang kelahan kolam nilanya, meskipun pembelian berapapun ia layani. Hanya saja jika permintaan dari luar Pulau Jawa< belum bisa dipenuhi.

Melihat kapasitas penjualan 5-7 kuintal nila per bulan, walaupun baru berjalan hampir 2 tahun omset yang diraup Sunanto sebesar Rp 12.500.000 dengan keuntungan bersih 60% atau sekitar Rp 7.500.000. saat ini dalam membudidaya ikan nilanya, ia sudah mempunyai kolam seluas 7 hektar termasuk kolam pembesaran dan pembibitan dibantu dua orang karyawan yang telah dia didik.

Kendala dan Rencana ke Depan. Salah satu faktor penghambat dalam budidaya ikan nila adalah cuaca, apalagi jika terjadi hujan terus-menerus. Ikan nila dapat berkembang dengan baik dalam kondisi suhu air kolam antara 25 hingga 28 derajat, serta pH sekitar 6-8. Di bawah atau diatas suhu tersebut perkembangan nila cukup lambat. “ risiko budidaya ikan nila ini paling fatal adalah kematian. Karenanya diharapkan para petani mengerti cara budidaya yang baik dan benar. menurut saya sih poin budidaya. Yang sukses balik lagi ke feeling masing-masing dan sayangi mahluk hidup dengan pemberi pakan yang mengandung protein pokonya ikan sehatlah,” ujar Sunanto. Kedepan Sunanto ingin segera menambah jumlah kolam yang banyak untuk kolam perkembangangbiakan ikan Nila Sultana

Sumber : http://usahapemula.com

Advertisements

Jual benih ikan berkualitas terbaik di Medan

Potensi Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara terdiri dari Potensi Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya, dimana Potensi Perikanan Tangkap terdiri Potensi Selat Malaka sebesar 276.030 ton/tahun dan Potensi di Samudera Hindia sebesar 1.076.960 ton/tahun. Sedangkan Produksi Perikanan Budidaya terdiri Budidaya tambak 20.000 Ha dan Budidaya Laut 100.000 Ha, Budidaya air tawar 81.372,84 Ha dan perairan umum 155.797 Ha, kawasan Pesisir Sumatera Utara mempunyai Panjang Pantai 1300 Km yang terdiri dari Panjang Pantai Timur 545 km, Panjang Pantai Barat 375 Km dan Kepulauan Nias dan Pulau- Pulau Baru Sepanjang 350 Km

Wilayah pengembangan sektor perikanan dibagi menjadi beberapa wilayah kerja dengan potensi wilayah masing-masing. Wilayah tersebut adalah:

  1. a) Wilayah Pantai Barat Sumatera Utara

Terdiri dari 12 kabupaten/kota yang berada di wilayah Pantai Barat yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara. Dimana Potensi Pengembangan pada wilayah ini adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari Rumput Laut, Kerapu dan kakap, Budidaya tawar yang terdiri dari mas, nila, Lele, Patin, Gurame, Tawes dan Nilam. Budidaya Tambak yang terdiri dari Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng

  1. b) Wilayah Dataran Tinggi Sumatera Utara

Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah dataran tinggi Sumatera Utara adalah Wilayah yang berada di wilayah tengah Provinsi Sumatera Utara yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Pakpak Bharat. Sedangkan Potensi Pengembangan pada wilayah ini terdiri dari penangkapan ikan di perairan umum, pengolahan ikan. budidaya air tawar yaitu Nila, Mas, Lele, Patin dan Gurame

  1. c) Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara

Terdapat 11 Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah Pantai Timur Sumatera Utara yang terdiri dari Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, kabupaten Labuhan batu Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Kabupaten Batubara, Kota Medan, Kota Tanjung Balai, Dimana potensi pengembangan di wilayah Timur Sumatera Utara adalah penangkapan ikan, pengolahan ikan. Budidaya Laut yang terdiri dari kerapu, kakap, dan kerang hijau, Budidaya Tawar yaitu Mas, Nila, Lele, Patin, Gurame, Grass carp, Lobster air tawar, Bawal tawar dan Ikan hias, Budidaya Tambak yaitu Rumput Laut, Udang Vaname, Udang Windu, Kerapu, Kakap, Bandeng, sedangkan Budidaya perairan umum yaitu Mas, Nila dll.

Sumatera utara mempunyai potensi yang sangat bagus untuk budidaya ikan lele, nila, gurami dan ikan air tawar lainnya karena adanya lahan dan sumber air dari sungai-sungai yang sangat melimpah yang dapat dijadikan sebagai media budidaya ikan, serta minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan air tawar yang sangat tinggi

CV. Dejeefish adalah kelompok pembenihan dan pemasok benih ikan lele, gurame, bawal, nila, mas, grasscarp, patin dll yang siap mengirimkan benih ke Medan dan sekitarnya.

Jenis benih ikan dapat dipesan dan kami kirimkan ke Bengkulu diantaranya adalah benih ikan lele, benih ikan bawal, benih ikan nila, benih ikan patin, benih ikan gurame, benih ikan mas, udang vaname, udang galah, dsb. Selain benih ikan konsumsi, kami juga siap menerima pemesanan ikan hias seperti ikan koi, cupang, dan ikan gurame padang dengan berbagai jenis.

Bagi masyarakat Perikanan Medan yang berminat dan membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai pemesanan, harga benih, maupun konsultasi mengenai budidaya ikan, silahkan menghubungi kami melalui telpon di nomor

hub3

Jual Benih Ikan Air Tawar Kualitas Terbaik di Palembang

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Palembang mempunyai potensi yang sangat bagus untuk budidaya ikan lele, nila, gurami dan ikan air tawar lainnya karena adanya lahan dan sumber air dari sungai-sungai yang sangat melimpah yang dapat dijadikan sebagai media budidaya ikan, serta minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan air tawar yang sangat tinggi di daerah Palembang dsk.

CV. Dejeefish adalah kelompok pembenihan dan pemasok benih ikan lele, gurame, bawal, nila, mas, grasscarp, patin dll yang siap mengirimkan benih ke Palembang.

Jenis benih ikan dapat dipesan dan kami kirimkan ke Palembang diantaranya adalah benih ikan lele, benih ikan bawal, benih ikan nila, benih ikan patin, benih ikan gurame, benih ikan mas, udang vaname, udang galah, dsb. Selain benih ikan konsumsi, kami juga siap menerima pemesanan ikan hias seperti ikan koi, cupang, dan ikan gurame padang dengan berbagai jenis.

Bagi masyarakat Perikanan Palembang yang berminat dan membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai pemesanan, harga benih, maupun konsultasi mengenai budidaya ikan, silahkan menghubungi kami melalui telpon di nomor

hub3

Kami dengan senang hati dapat bermitra dan bekerja sama dengan masyarakat Perikanan Palembang.

Beberapa Tips Budidaya Ikan Lele

  • Tips memilih benih ikan lele yang baik

Tips Pemilihan Benih Ikan Lele yang Berkualitas – Kualitas dari benih ikan lele yang kemudian akan dibudidayakan memang menentukan tingkat dalam kesuksesan atau keberhasilan dari budidaya ikan lele. Pasalnya jika salah dalam memilih benih, maka usaha budidaya ikan lele dapat mengalami kegagalan.

Lalu bagaimana cara untuk memilih jenis dari benih ikan lele yang benar-benar baik? Terdapat beberapa kriteria penting yang paling tidak harus sangat anda perhatikan sebelum memutuskan untuk membeli benih-benih ikan lele tertentu. Berikut merupakan beberapa cara singkat yang dapat anda gunakan untuk memilih bibit lele berkualitas.

Beli bibit yang berasal dari pembudidayaan benih ikan lele

Anda dapat membeli benih ikan lele dari balai pembudidayaan benih ikan lele yang mengantongi ijin sertifikasi cara pembenihan ikan yang dinilai baik. Hal semacam ini berguna untuk memastikan jika benih yang berasal dari indukan ikan lele yang benar-benar unggul. Tentunya pembudidaya tersebut juga sudah menerapkan cara-cara pembenihan ikan yang tepat dan baik. Dengan begitu maka benih ikan lele yang anda dapatkan juga terjamin kualitasnya, demikian halnya dengan usaha budidaya lele yang anda jalankan.

Amati gerakan dan fisik benih ikan lele

Jika dilihat dari segi fisik, maka benih ikan lele yang benar-benar berkualitas tentu memiliki ukuran tubuh yang berkualitas. Baik itu ukuran tubuh maupun kepala yang seimbang, tidak terdapat cacat, tidak terdapat luka, sungut benih lele tidak pucat dengan warna tubuh yang mengkilap serta cerah. Selain itu, ciri-ciri lainnya dari benih lele yang berkualitas dan sehat memiliki gerakan lincah, aktif serta tidak menggantung maupun menggerombol pada bagian pojok kolam. Karena ikan yang justru memiliki gerakan malas atau lamban menunjukkan jika ada sebuah masalah pada kesehatan maupun fisiknya.

Ukuran yang cenderung lebih seragam

Perhatikan aspek keseragaman dari ukuran benih. Seringkali ditemui ukuran benih lele yang justru tidak seragam. Padahal kondisi tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan ikan lele menjadi tidak serempak pula. Seperti yang sudah anda ketahui, bahwa jenis ikan yang satu ini memang tergolong sebagai ikan yang memiliki sifat kanibal. Oleh karena itu jika merasa lapar maka ikan lele berukuran lebih besar akan memangsa atau memakan ikan lele lain yang memiliki ukuran jauh lebih kecil. Maka dari itu jika kondisi pertumbuhan ikan lele yang anda budidayakan tidak serentak akan menjadikan usaha anda menjadi gagal panen karena sejumlah ikan dengan pertumbuhan lambat habis dimangsa.

Beberapa tips penting yang ada di atas akan sangat berguna pula bagi anda yang sedang berencana memulai usaha pembudidayaan ikan lele. Dengan demikian maka akan semakin mungkin jika usaha yang anda jalankan juga dapat berjalan dengan lebih lancar, selain itu tentunya juga lebih menekan kemungkinan gagal panen setelah menghabiskan sejumlah biaya dengan nilai besar.

  • Tips memilih induk lele untuk pembenihan

Ciri-ciri induk lele jantan:
– Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
– Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
– Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.
– Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress).
– Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina.
– Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa).
– Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.

2. Ciri-ciri induk lele betina
– Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
– Warna kulit dada agak terang.
– Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.
– Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
– Perutnya lebih gembung dan lunak.
– Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).

3. Syarat induk lele yang baik:
– Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
– Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil supaya terbiasa hidup di kolam.
– Berat badannya berkisar antara 100-200 gram, tergantung kesuburan badan dengan ukuran panjang 20-5 cm.
– Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan lincah.
– Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina berumur satu tahun.
– Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya bisa memijah lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya mengandung cukup protein.

4. Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang betina. Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam tersendiri untuk dipijahkan.

5. Perawatan induk lele:
– Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pellet). Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif
tinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk lele, karena kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan.
– Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari berat total ikan.
– Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan induk jantan dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru bisa dipindahkan apabila anak-anak lele sudah berumur 2 minggu.
– Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang penyakit untuk segera diobati.
– Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran tidak perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.

  • Tips pemberian rumput azolla untk pembenihan

Azolla microphylla adalah salah satu pakan alternatif yang baik untuk lele, nilai nutrisinya mengandung kadar protein antara 24-30%, kandungan asam amino essensialnya terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibanding dengan konsentrat jagung, dedak dan beras pecah. Untuk pembudidayaannya juga mudah, pada kondisi optimal azolla akan tumbuh baik 35% setiap hari. Bahkan anda bisa mengambil di sawah-sawah yang ditumbuhi azolla.

Cara pemberian pakannya bisa langsung di berikan tapi sebaiknya dalam bentuk kering, kalau diberikan basah akan mengakibatkan lele mengalami keterlambatan pertumbuhan. karena azolla yang basah akan mengakibatkan lele cepat kenyang dan lama untuk lapar.

Cara mengeringkan azolla adalah cukup diangin-anginkan saja, jika dijemur akan merusak nutrisi. Ada juga dengan cara difermentasi terlebih dahulu. bagaimana cara membuatnya? Berikut bahan dan cara pembuatannya.

Bahan-bahan:
Azolla microphylla segar
Dedak / Bekatul /Tepung Ikan
Probiotik starbio f9

Cara membuat fermentasi azolla microphylla:

  1. Timbang azolla microphilla yang segar, kemudian dedak atau bekatul di tambah dengan tepung ikan dengan perbandingan 70% azolla microphylla : 20% Bekatul atau dedak : 10% tepung ikan.
  2. Campur dan mengaduk bahan bahan tersebut hingga homogen.
  3. Tambahkan probiotik STARBIO F9 sebanyak 10 ml untuk 1kg bahan yang sudah dicampur tadi.
  4. Masukan campuran tersebut ke dalam plastik atau karung yang kedap air, kemudian ikat sampai rapat.
  5. Kemudian dibiarkan hingga masa fermentasi selama 3-4 hari.
  6. Bongkar campuran azolla microphilla dan dedak hasil fermentasi.
  7. hasil fermentasi azolla bisa langsung diberikan pada lele sebagai sumber protein tinggi.

 

Spesies Invasif Ancam Perairan lokal

Berbagai spesies invasif asing menguasai perairan Indonesia. Tanpa upaya pengendalian, keberadaan spesies ini mengancam kekayaan perairan, termasuk memusnahkan spesies lokal. Di sebagian daerah, spesies lokal sudah benar-benar terdesak.

”Untuk ikan asing invasif bersifat predator (karnivora), bereproduksi cepat dan kuat, secara tegas harus dilarang masuk Indonesia, baik untuk ornamen (ikan hias), apalagi budidaya,” kata Slamet Budi Prayitno, Guru Besar Budidaya pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Hal itu dikatakan saat seminar internasional ”Ancaman Spesies Asing Invasif terhadap Kelestarian Sumber Daya Ikan di Indonesia” di Jakarta, Rabu (17/4/2013), yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Seminar dibuka Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo. Menghadirkan pembicara Slamet Budi Prayitno, Arief Yuwono (Kementerian lingkungan hidup), Chandika Yusuf (WWF), John Hansen (USAID), dan Andy Sheppard (CSIRO).

Spesies invasif merupakan makhluk hidup yang masuk/dimasukkan ke ekosistem baru, lalu menguasai ekosistem itu. Spesies itu bisa dari luar negeri, maupun antar-region yang merugikan secara ekonomi ataupun ekologi.

Slamet mencontohkan ikan piranha dari Sungai Amazon, Brasil. Ikan penghias akuarium para penghobi itu berbahaya bila sampai terlepas ke perairan Indonesia. ”Kalau lepas, habis itu semua larva di air. Ini masalah serius yang harus diatasi,” kata mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Tengah itu.

Sementara itu, Sharif Cicip mengatakan, dampak negatif introduksi spesies asing telah dirasakan di Indonesia dan banyak negara. ”Meledaknya populasi ikan sapu-sapu, mujair, dan keong mas di beberapa perairan umum menunjukkan adanya dominasi dan ketidakseimbangan populasi yang dapat menurunkan populasi. Bahkan, kepunahan spesies ikan asli,” kata dia.

Ia mencontohkan, ikan nila (Oreochromis niloticus, asal Afrika, sejak 1969) yang dimasukkan ke Danau Laut Tawar Aceh mendesak populasi ikan depik (Rasbora tawarensis), ikan endemis. Ikan setan merah yang masuk bersama aneka benih ikan di Waduk Sermo, Yogyakarta, memangsa ikan mas, tawes, dan nila.

Sepuluh tahun sejak setan merah masuk waduk, kata Sharif, tangkapan masyarakat menurun. Sekitar 75 persen tangkapan adalah ikan setan merah.

Berdasarkan beberapa kajian, penurunan tangkapan membuat nelayan Sermo berubah profesi jadi tukang bangunan dan pekerja kasar lain. Ironisnya, waduk Cirata (Jabar) dan Kedungombo (Jateng) terancam setan merah.

Di Danau Ayamaru, Papua Barat, ikan mas (Cyprinus carpio) yang diintroduksi dari Jepang/ China menjadi invasif. Ikan itu memangsa ikan pelangi (Melanotaenia ayamaruensis), endemis danau alami itu.

Spesies ikan invasif juga membawa penyakit di perairan. Ada 13 penyakit, di antaranya lernaea cyprinacea pada ikan mas, viral nervous necrosis virus pada kerapu, koi herpesvirus pada ikan koi dan ikan mas, serta taura syndrome virus pada udang.

Antisipasi

Slamet Budi Prayitno menegaskan, ancaman spesies asing invasif itu masalah serius yang harus disikapi. Bila ikan karnivora harus dilarang masuk, ikan omnivor dan berfisik kuat butuh studi lanjut. Izinnya tetap harus diawasi sejak masuk hingga dipelihara dan diperjualbelikan.

Pada ikan berisiko rendah dengan kategori pertumbuhan lambat, reproduksi lamban, dan hanya hidup pada lingkungan tertentu—selama bisa dipastikan tak membawa penyakit—dibolehkan masuk untuk hobi/ornamen.

Slamet berharap Peraturan Menteri KKP No 17/2009 berisi daftar ikan-ikan yang dilarang masuk diperbarui. Penanganan spesies invasif juga perlu didukung lintas sektor.

Sesuai dengan amanat Konvensi Biodiversitas, koordinator soal spesies invasif adalah Kementerian lingkungan hidup bersama Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Dalam Negeri. Kementerian Perhubungan penting terlibat karena ada kasus spesies invasif dibawa air balas kapal laut. (ICH)