Teknologi Bioflok Ramah Lingkungan, Tingkatkan Kualitas Daging Lele

KKPNews, Bendungan- Teknologi bioflok telah terbukti ramah lingkungan dan meningkatkan kualitas daging lele yang dipanen. Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat melakukan penebaran benih lele dengan menggunakan teknologi bioflok di saat melakukan percontohan budidaya lele system bioflok di Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Karya Mina Sejahtera Bersama di Desa Duren, Kec. Bandungan, Kab. Semarang.

“Dari pengalaman pembudidaya yang sudah menerapkan teknologi bioflok ini, mengatakan bahwa rasa dagingnya berbeda dengan lele hasil budidaya konvensional, karena lele disamping makan pellet juga makan flock atau gumpalan-gumpalan terdiri dari organisme hidup seperti alga, bakteri dan sebagainya. Sehingga teknologi bioflok ini juga mampu menekan pakan buatan atau pellet”, ungkap Slamet, Kamis (25/8).

Lebih lanjut Slamet menjelaskan, dari hasil percontohan di beberapa tempat, Food Conersion Ratio (FCR) atau perbandingan antara berat pakan yang telah diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total (biomass) yang dihasilkan pada saat itu, pakan dapat ditekan di bawah 1. Di samping itu, air hasil budidaya lele sistem bioflok tidak berbau dan sangat baik sekali untuk pupuk tanaman, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan bahkan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya hortikultur dan buah-buahan.

“Ini karena adanya mikro organisme yang mampu mengurai limbah budidaya itu sendiri dan air budidaya lele banyak mengandung bakteri seperti bacillus yang dapat menyuburkan semua jenis tanaman. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah suplai oksigen tidak boleh kurang. Oksigen ini membantu proses penguraian dan sekaligus mengaduk air kolam untuk meratakan suhu dan pakan”, lanjut Slamet.

Teknologi yang dikembangkan dalam suatu usaha budidaya memang di dorong untuk ramah lingkungan dan mendukung keberlanjutan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Unit Pelaksana Teknisnya akan terus mengembangkan teknologi semacam bioflok untuk mendukung peningkatan produksi dan ramah lingkungan.

“Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, sebagai salah satu UPT DJPB, juga telah menyebarkan teknologi ini ke wilayah lain, seperti di Karawang, Magelang, Malang, Brebes, Pemalang dan Kediri. Ini adalah wujud dari tekad KKP melalui DJPB untuk mewujudkan Perikanan Budidaya yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan”, pungkas Slamet. (MD)

Sumber : http://news.kkp.go.id/index.php/teknologi-bioflok-ramah-lingkungan-tingkatkan-kualitas-daging-lele/

Advertisements

Tingkatkan Produksi Lele Di Lahan Terbatas, KKP Kembangkan Metode Bioflok

KKPNews, Bandungan – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong penyebaran teknologi bioflok untuk budidaya lele. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menjelaskan, teknologi bioflok telah terbukti meningkatkan produksi lele di lahan yang terbatas. Disamping itu, budidaya lele menjadi lebih ramah lingkungan, hemat dalam penggunaan air dan pakan serta dapat dilakukan di lahan yang terbatas.

“Ini adalah wujud dari keselarasan pembangunan perikanan budidaya dengan tiga pilar pembangunan yaitu meningkatkan kedaulatan dalam arti kemandirian pembudidaya, mendukung keberlanjutan dalam hal usaha budidaya dan lingkungan serta mampu meningkatkan kesejahteraan pembudidaya”, ungkap Slamet saat melakukan percontohan budidaya lele system bioflok di Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Karya Mina Sejahtera Bersama di Desa Duren, Kec. Bandungan, Kab. Semarang, Kamis (25/8).

Slamet menambahkan bahwa budidaya lele dengan sistem bioflok ini efektif dan mampu mendongkrak produktifitas lahan. Dengan lahan yang terbatas, produksi lele masih dapat di tingkatkan, disamping itu biaya produksi juga dapat di tekan dan waktu budidaya juga lebih singkat, jika dibandingkan dengan budidaya lele dengan cara konvensional.

“Sebagai gambaran, satu lubang atau satu kolam bioflok dengan kapasitas air 10 m3, dengan modal kurang lebih Rp. 5 juta rupiah, dapat di panen lele kurang lebih sebanyak 1 ton secara parsial selama kurun waktu 2,5 bulan. Apabila harga lele konsumsi adalah Rp. 15 ribu per kilogramnya, maka akan dapat diperoleh hasil kurang lebih Rp. 15 juta. Jadi pembudidaya akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 10 juta, selama kurun waktu 2,5 bulan untuk wadah satu lubang”, papar Slamet.

Produksi lele secara nasional dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2011 – 2015) mengalami peningkatan 21,31 % per tahun. Dari 337.577 ton pada tahun 2011, menjadi 722.623 ton pada 2015. “Peningkatan produksi lele per tahun yang mencapai 21,31 % ini merupakan kenaikan terbesar di bandingkan dengan komoditas air tawar lainnya seperti nila, mas, patin dan gurame. Ini juga menjadi bukti bahwa pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan serta efisien, mampu meningkatkan produksi ikan”, ungkap Slamet. (MD)

sumber : http://news.kkp.go.id/index.php/tingkatkan-produksi-lele-di-lahan-terbatas-kkp-kembangkan-metode-bioflok/

KOLAM BULAT PORTABLE

DIJUAL KOLAM BULAT PORTABEL

PORTABLE CIRCLE POND

Dengan spesifikasi ukuran :

  1. Ukuran diameter 1,72 x 1,05 m kubikasi air maksimal 2,4 m3.
  2. Ukuran diameter 3 m

Bahan :

  • · Kawat baja diameter 4 atau 6
  • · Bahan terpal dari bahan terbaik, tahan selama 3 tahun

Kelebihan : Mudah dipindah dan dibongkar pasang,kuat dan tahan lama,cocok untuk budidaya lele,patin,gurame dan ikan hias,bisa untuk padat tebar tinggi, mudah proses panen dan menghemat ruang.

HARGA SPESIAL BUAT RESELLER ATAU BELI DIATAS 10 pcs

Silahkan… Hubungi Kami Sekarang…

hub3

???????????????????????????????