Ini Dia 13 Strain Ikan Nila Unggulan Versi KKP

Budidaya ikan nila berkembang pesat di berbagai daerah. Salah satu indikasinya harga jual ikan introduksi asal Afrika tersebut yang terus menanjak. Nila sudah jadi menu umum yang disajikan mulai dari warung nasi hingga restoran

Meningkatnya budidaya nila, mendorong kebutuhan akan nila unggul. Diceritakan Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Djumbuh Rukmono, pada 2002 upaya perbaikan genetik nila yang berasal dari nila gift mulai dilakukan berbagai pihak. Hingga saat ini sudah ada 13 strain nila  yang resmi dirilis KKP.

Ketigabelas nila tersebut meliputi nila JICA, nila Gesit, nila nirwana, nila Jatimbulan, nila BEST, nila larasati, nila nirwana II, nila sultana, nila srikandi, nila anjani, nila merah nilasa, nila jantan pandu dan kunti, serta nila salina. Nila-nila tersebut dikembangkan oleh balai-balai di bawah KKP serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah dinas perikanan provinsi dan kabupaten/kota.

Pengembangan nila unggul di berbagai daerah, kata Djumbuh, dikoordinasikan melalui broodstock center (pusat induk) nasional yang dikoordinir oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Selain dibudidayakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, lanjut Djumbuh, hasil budidaya semua strain nila tersebut juga diekspor ke luar negeri. Salah satu strain nila yang banyak diekspor ke luar adalah nila nirwana II yang dihasilkan oleh Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat.

Hal yang perlu diingat, kata Djumbuh, setiap indukkan strain baru yang dibuat harus didiseminasikan secara baik oleh unit pelaksana teknis yang ada di daerah.

“Tujuannya agar pembudidaya ikan baik pembenih maupun pembudidaya pembesaran dapat memanfaatkan secara optimal nila unggul yang diproduksi dengan kualitas yang  selalu terjaga,” kata Djumbuh

sumber : @jitunews 22 Desember 2014

Nila GESIT, Ikan Nila Super Jantan Berprotein Tinggi

JAKARTA – Ikan nila banyak disukai orang karena rasa dagingnya yang gurih dan kandungan proteinnya yang tinggi. Salah satu pengembangan pangan yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) difokuskan pada ikan nila (Nile Tilapia) sebagai salah satu komoditi penting yang layak dikembangkan untuk pemenuhan kecukupan pangan protein.

Mudahnya berkembang biak dan kemampuan hidupnya yang mudah beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, menjadikan ikan nila sebagai komoditi prioritas untuk pengembangan usaha dan industri budidaya perikanan yang dikenal dengan julukan “aquatic chicken” atau ikan yang dapat dikembangkan seperti industri ternak ayam.

Sayangnya, selama ini penanganan budidaya ikan nila di masyarakat belum optimal karena pengelolaan pengembangbiakannya yang tidak terkontrol, adanya inbreeding dan penurunan kualitas lingkungan perairan.

Dalam proses budi daya secara alami, biasanya dihasilkan rasio ikan nila jantan dan betina adalah 60:40, sehingga usaha budi daya ikan nila diarahkan pada produksi ikan berkelamin jantan alias monosex.

Melalui teknologi produksi ikan nila jantan super “YY” (supermale) yang dilakukan BPPT sejak 2002 lalu, sudah dihasilkan indukan ikan nila jantan super yang diberi nama ikan nila GESIT. Nila GESIT, kepanjangan dari Genetically Supermale Indonesian Tilapia merupakan jenis unggulan superjantan.  Mengapa disebut superjantan, karena 98-100 persen telur yang dihasilkannya berjenis kelamin jantan.

Jika ikan nila GESIT dikawinkan dengan ikan nila betina biasa, akan menghasilkan 99% ikan nila jantan yang diberi nama ikan nila GMT (Genetically Male Tilapia). Ikan nila GMT ini bisa tumbuh lebih cepat (150%) dibanding betinanya, lebih seragam dan aman dikonsumsi.

Nila gesit memiliki pertumbuhan yang cepat, yakni lima hingga enam bulan untuk mencapai berat 600 gram. Untuk ekspor, ikan nila dituntut memiliki ukuran lebih dari 600 gram per ekor, yang selama ini sangat sulit dipenuhi oleh para pembudi daya.

Hasil riset memperlihatkan bahwa ikan nila berkelamin jantan tumbuh lebih cepat dibanding betinanya. Dengan demikian, produksi ikan nila dapat diarahkan pada produksi ikan nila berkelamin jantan (monosex male) yang dapat tumbuh lebih cepat untuk meningkatkan efisiensi usaha guna memenuhi permintaan ekspor.

Dalam kegiatan ini, BPPT bekerjasama dengan Balai Besar Pengembangan Perikanan Budidaya-Kementerian Kelautan dan Perikanan di Sukabumi dan Institut Pertanian Bogor. Dan untuk saat ini ikan nila GESIT sudah beredar di berbagai daerah di Indonesia terutama Balai Benih Ikan milik pemerintah di propinsi maupun kabupaten/ kota.  (humasBPPT/TAB) (adv)

Sumber : http://techno.okezone.com

SUKSES JUAL 5-7 KUINTAL NILA PER BULAN

Ikan Nila yang saat ini tengah booming sebagai komoditas unggulan di sektor perikanan, mendatangkan celah usaha yang mulai banyak diminati dan menguntungkan. Saat ini mulai banyak petani beralih membudidayakan ikan nila unggulan seperti varietas Sultana karena memiliki harga jual tinggi dibanding jenis ikan konsumsi lain. Sunanto Tjahyadi, salah satu pembudi daya ikan Nila Sultana mampu mendulang omset hingga Rp 13,5 juta. Seperti apa strategi usahanya dan bagai mana perjalanan usahanya.

Sukses-Jual-5-7-Kuintal-Nila-per-Bulan

Ikan Nila sultana merupakan salah satu Ikan konsumsi air tawar dikalang masyarakat dan masuk kategori unggulan. Dagingnya yang gurih dan kenyal menjadi salah satu kelebihan ditambah kandungan protein ikan Nila juga tinggi sehingga baik untuk kesehatan. Banyak pelaku agribisnis perikanan ramai-ramai membudidaya ikan nila. Salah satu pembudidaya asal Subang, Jawa Barat yang cukup sukses mengembangkan Nila adalah Sunanto Tjahyadi. Pria yang akrab disapa sunanto ini meski tak memiliki basic perikanan murni, mampu menghasilkan jenis-jenis nila unggulan seperti Nila Sultana, Nirwana, dan gift. ‘’saya hanya sampai semester dua Universitas Tarumanegara, sayapun dulu mendapatkan pengetahuan beternak bandeng, dan udang alam dari ayah saya dan seputaran biologi ikan nila didapat dari teman-teman para pembudidaya ikan nila. Jadi saya awalnya hanya hobi memancing dan menjadi pembudidaya ikan nila unggulan,’’ kenang pria kelahiran tanggerang , 6 Oktober 1979 ini.

Dalam budidaya Nila Sultana, sunanto meneruskan warisan keluarga dengan mendapatkan 1 – 2 hektar. ‘’Awal mulai perjalanan saya bulan Desember 2013 saya mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta untuk membeli 2 ribu liter nila unggulan (per liter 100-150 ekor), pakan ikan, dan peralatan yang mendukung seperti jaring ,’’ kata Sunanto. Menurutnya, prospek usaha ini kedepan masih sangat bagus, apalagi kebutuhan ikan nila selalu ada meskipun saat ini persaingan terbilang lumayan ketat. Untuk menghadapinya selain menghasilkan ikan nila yang berkualitas, sunanto terus meningkatkan mutu pelayanan.

Nila Sultana dan Keunggulan. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang sangat populer dibudayakan di Indonesia. Saat ini yang sedang populer dibudidayakan para petani adalah jenis kan Nila Sultana. Jenis ikan konsumsi yang ditemukan oleh Balai Benih Ikan Air Tawar Sukabumi ini merupakan hasil penelitian panjang sejak 2001. Ikan Nila Sultana yang beredar di masyarakat merupakan hasil persilangan sepuluhb varietas nila unggul seperti ikan nila Gift,JICA, Gesit, dan Putih.

Nila jenis ini memiliki ciri khas tubuh putih kehitaman dan bagian punggung agak kekuningan. Nila Sultana bisa memiliki berat bobot 420 g/ekor bisa dicapai dalam waktu 120 hari dari penebaran bibit ukuran 2 – 3 cm. “menurut saya jenis ikan Nila Sultana, saat ini paling populer karena paling banyak diminati oleh konsumen. Ikan nila yang saya besarkan ini dagingnya kenyal, gurih dan tidak bau lumpur. Bahkan menjadi komoditi ekspor dan menjadi konsumsi perusahaan besar pengolahan hasil ikan sehingga membuat Nila Sultana mempunyai nilai jual tinggi. Maka itu banyak petani ikan nila termasuk saya membudidayakan ikan Nila Sultana ,’’ ujar Sunanto

Harga. Saat ini Sunanto menjual ikan nila unggulan berumur 4 bulan keatas (Sultana, Nirwana, dan Gift) dengan harga per kilo Rp 25 ribu. Dari mulai Desember 2013 lalu hingga sekarang sedikitnya Sunanto telah menjual sekitar 5-7 kuintal Nila. ‘’yang saya kembangkan ialah nila jenis Sultana, Nirwana, dan Gift. Di luar varietas nila saya juga menjual jenis ikan patin dan ikan Mas konsumsi,’’ ujar Sunanto. Lebih lanjut Sunanto mengatakan, pembelian ikan nila saat ini hanya dilayani apabila konsumen datang ke tambaknya berada di kawasan Tanggerang Banten.

Pemasaran. Awal usaha, Sunanto sangat mudah memasarkan hasil budidaya ikan nila karena ayahnya sudah ada nama di daerah Pakuhaji, dan seputaran Teluk Naga, Tanggerang, Banten. Selain itu Sunanto memasarkan melalui penyebaran brosur di seputaran Tanggerang.”saat ini konsumen asal tanggerang, Cengkareng, Bogor, dan Serang. Karena ikan nila yang saya budidayakan tidak bau lumpur dan rasa berbeda dari ikan nila lainnya saat dikonsumsi,” ucap Sunanto.

Sunanto tak menerapkan pembelian minimum kepada konsumen khusus yang datang kelahan kolam nilanya, meskipun pembelian berapapun ia layani. Hanya saja jika permintaan dari luar Pulau Jawa< belum bisa dipenuhi.

Melihat kapasitas penjualan 5-7 kuintal nila per bulan, walaupun baru berjalan hampir 2 tahun omset yang diraup Sunanto sebesar Rp 12.500.000 dengan keuntungan bersih 60% atau sekitar Rp 7.500.000. saat ini dalam membudidaya ikan nilanya, ia sudah mempunyai kolam seluas 7 hektar termasuk kolam pembesaran dan pembibitan dibantu dua orang karyawan yang telah dia didik.

Kendala dan Rencana ke Depan. Salah satu faktor penghambat dalam budidaya ikan nila adalah cuaca, apalagi jika terjadi hujan terus-menerus. Ikan nila dapat berkembang dengan baik dalam kondisi suhu air kolam antara 25 hingga 28 derajat, serta pH sekitar 6-8. Di bawah atau diatas suhu tersebut perkembangan nila cukup lambat. “ risiko budidaya ikan nila ini paling fatal adalah kematian. Karenanya diharapkan para petani mengerti cara budidaya yang baik dan benar. menurut saya sih poin budidaya. Yang sukses balik lagi ke feeling masing-masing dan sayangi mahluk hidup dengan pemberi pakan yang mengandung protein pokonya ikan sehatlah,” ujar Sunanto. Kedepan Sunanto ingin segera menambah jumlah kolam yang banyak untuk kolam perkembangangbiakan ikan Nila Sultana

Sumber : http://usahapemula.com

Mata Lele Untuk Pakan Lele

(Duckweed, Lemna minor, Kiambang atau Kayambang)

Oleh Hadi Winarto

Mata Lele dalam judul diatas adalah salah satu nama dari tanaman air. Nama lain dari tanaman ini berbeda-beda tiap daerah. Disuku minang Sumatra Barat disebut kiambang. Duckweed dan lemna minor dalam bahasa asing. Wong kito galo Palembang dan Jambi menyebut mata lele

Mata lele banyak digunakan untuk

  • Pakan ternak dan ikan
  • Mengatasi pencemaran lingkungan
  • Untuk hiasan kolam depan rumah
  • Digunakan untuk menyerap logam (timbal) dalam air.
  • Kiambang atau kayambang ini mulai banyak dilirik oleh banyak ilmuwan untuk diteliti lebih mendalam sebagai subsitusi pakan ikan, unggas dan ruminansia.
  • Dijadikan pupuk kompos dan memperbaiki struktur tanah.
  • Mata lele mampu menjaga kwalitas air.

Sifat tumbuh mata lele

  • Tumbuh dalam air dengan baik meski tanpa pupuk.
  • Dalam waktu 50 sd 60 hari luas 20 m2 akan menutupi kolam seluas 1 hektar atau akan tumbuh 2 kali lipat dalam waktu 48 jam.
  • Memiliki kadar protein hingga 35% dan mampu meningkat tajam menjadi 50% ketika dilakukan fermentasi dengan menggunakan mikroba dan amino essential. Wajar kalau mata lele       dinobatkan jadi ratu protein. Seperti halnya Azolla, tanaman air lainnya juga berkadar air tinggi (91%) namun Azolla hanya memiliki kadar air 89%.
  • Budidaya mata lele membutuhkan lahan yang luas jika menginginkan duckweed ini dijadikan andalan sebagai pakan ikan air tawar, unggas dan ruminansia. Ini berita buruknya. Berita baiknya duckweed berprotein tinggi dan bisa diandalkan sebagai pengganti tepung nabati lainnya yang belakangan ini semakin hari semakin mahal.

Duckweed atau kiambang adalah tumbuhan akuatik dan jika ditanam dihamparan yang luas dari kejauhan akan terlihat indah dan eksotik disenjakala. Oleh sebagian orang kiambang dianggap tanaman pengganggu (gulma) pertumbuhan ikan, padahal tanaman ini memiliki kandungan gizi yang tinggi untuk pertumbuhan ikan.

Cara mengolah Mata lele untuk pakan lele

Ramuan ini berfungsi untuk mencegah dan mengatasi berbagai penyakit dan untuk membuat lele menjadi kuat, gempal dan tahan penyakit. Ramuan ini dapat diberikan kepada lele setiap 5 hari sekali dan jika demikian dapat dipastikan anda akan menghemat 25% dari biaya pakan ikan lele. Pada saat pemberian ramuan tidak diperlukan pemberian pakan pelet dari pabrik (dipuasakan)

  1. Mata lele                             20%
  2. Daun singkong                 30%
  3. Daun kates                        30%
  4. Tepung tapioka                 10%
  5. Tepung ikan                       10%

Bahan penyangga (berfungsi sebagai antibiotik organik)

  1. Minyak cpo                           1%
  2. Premix                                   0,5%
  3. Enzim                                    1%
  4. Daun sambiloto                   25 lembar
  5. Daun  sirih                            5 lembar
  6. Daun jambu kluthuk            5 lembar
  7. Garam                                    0,01%

Daun kates dan daun singkong dicacah dan campurkan semua bahan, difermentasi anaerob selama 48-72 jam. Hasil dari setelah fermentasi akan mendapatkan kandungan protein 45%. Pemberian pakan ini hasilnya akan lebih maksimal disaat sehari dilakukan grading. Biasanya sehari sebelum grading lele dipuasakan dan setelah grading dipuasakan antara 18 sd 24 jam dan disaat inilah waktu yang tepat dilakukan pemberian ransum special ini kepada lele

Mudahnya Budidaya Mata Lele

Ukuran kolam 1m x 1m x 30cm

  1. Kotoran ayam 0,5 kg
  2. Pupuk sp-36 1 ons
  3. Setelah pada hari ke-3 pemberian pupuk pada media kolam tebarkan bibit mata lele.
  4. Pada pertumbuhan maksimum mata lele bisa tumbuh 2x lipat hanya dalam waktu 20 jam.

sumber : http://boosterfish.com

Nila Sultana Varian Terbaru Sukabumi

Oleh : Happyati

SELEKSI UNGGUL SALABINTANA disingkat SULTANA  adalah strain terbaru  ikan nila yang dihasilkan dari BBPBAT atau Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jawa Barat. Penemuan galur Sultana sebenarnya telah lama sejak tahun 2001 yang lalu namun legalitas pengakuan dari Kementrian Kelautan Perikanan KKP berdasarkan keputusan Menteri No.KEP.28-MEN-2012 pada tanggal 7 juni 2012, dikembangkan dan diterima publik tahun 2013.  Salut dan hormat buat Pimpinan dan  team BBPBAT Sukabumi.

Prospek pasar

Sejak dipublikasikan sebagai strain nila yang terbaik dibandingkan jenis nila merah, nila gift, nila larasati, nila hitam, nila gesit, nila nirwana sontak kebutuhan akan benih nila sultana menjadi tidak terpenuhi. Sultana dianggap sebagai ikan nila masa depan.

Lebih Unggul

Nila sultana didominasi warna hitam, dalam jangka 4 bulan nila sudah memiliki bobot 200gram-250gram sedangkan nila lainnya dibobot yang sama memerlukan pemeliharaan selama 6-7 bulan. Disamping bobot yang besar nila sultana lebih tahan penyakit dan pada indukan lebih banyak menghasilkan larva. Nila sultana mampu diair tawar dan diair payau dengan kadar salinitas dan keasaman yang tinggi.

Habitat

Dalam kondisi ekstrim nila sultana mampu bertahan lebih baik dibandingkan varian lain, diair payau dengan tingkat salinitas 5ppt dan tingkat pH-6 nila masih bisa dibudidayakan. Nila ini sangat cocok bagi pemilik lahan bergambut yang banyak terdapat di seluruh kalimantan, Indragiri hulu dan indragiri hilir di propinsi Riau dan sebagian di Sulawesi. Hal ini disebabkan air payau bergambut memiliki kelebihan lain dibandingkan lahan air tawar yaitu memiliki lebih banyak pakan alami yang tersedia dan minim parasit dan bakteri.

Ikan nila akan lebih hidup maksimal ketika dilakukan sistem polikultur dengan ikan bandeng, ikan nila diketahui suka memakan jamur yang tumbuh diperairan dan secara langsung memberi efek positif ketika dibudidayakan bersama ikan bandeng. Hebatnya lagi nila bisa dipelihara dengan tebar padat yang tinggi antara 100-150 ekor permeter persegi untuk ukuran hingga 200ekor-250ekor per-meter.

Contoh sistem tebar (tinggi air 100-125cm)

  • Ukuran larva ukuran 1cm = 700 ekor permeter.
  • Ukuran konsumsi 4 ekor perkg = 100-150ekor permeter.
  • Ukuran konsum 2-3 ekor perkkg = 30 ekor permeter.

Pakan

Pakan untuk ikan nila sultana cukup dengan kandungan protein 25%-27%, hanya dibutuhkan vitamin B12, B17 yang banyak terdapat vada singkong dan seminggu 1x diberikan hormon untuk mempercepat pertumbuhan bobot. Pemberian probiotik dapat diberikan yang memiliki kandungan lactobasilus, enzim protease, fitase, amilase, lumbrokinase dan selulose.

Kolam Ideal

Kolam ideal untuk ikan nila adalah kolam tanah, kolam tanah banyak mengandung jasad renik, lumut dan algae sebagai pakan alami organik bagi kehidupan ikan air tawar. Kolam tanah lebih baik dibandingkan kolam terpal atau bak semen.

Titik Lemah

Titik lemah saat memelihara ikan nila jenis sultana adalah belum terpenuhi jumlah benih sultana yang dihasilkan, kendala ini sekaligus adalah potensi pasar bagi yang berminat terjun menggeluti bisnis peneyedian benih nila sultana yang masih menganga lebar.

Laris Manis di segmen pembenihan

Panggung bisnis benih nila sekarang marak dengan munculnya si Sultana yang memiliki banyak kelebihan dan jika anda menginginkan informasi teknik pembenihan dan analisa biaya dan gambaran luas lahan yang dibutuhkan (anda tinggal membuat kalkulasi yang lebih kecil jika memiliki lahan yang terbatas) kami uraikan secara singkat.

  1. Sediakan lahan seluas 1000m misalnya kolam ukuran 25mx40m atau 20mx50m atau 30mx30m dengan kedalaman minimal 125 cm.
  2. Isi kolam dengan indunkan sultana dengan perbandingan 100 ekor indukan jantan dan 500 ekor indukan betina.
  3. Dengan 2 point diatas akan menghasilkan benih nila sedikitnya 150.000 ekor hingga 220.000 ekor.
  4. Jika harga benih nila ukuran 4-7cm seharga Rp.250 per-ekor akan diperoleh nilai bruto sebesar Rp.37.500.000.
  5. Biaya operasional segmen pembenihan ikan nila sultana ini lebih hemat dibandingkan jika dengan jenis nila lainnya.
  6. Berikan hormon metil testosteron kepada benih ikan agar terjadi monoseks, sistem jantanisasi akan memperpendek waktu ditingkat pendederan dan akan lebih menghemat pakan.
  7. Maintenance bagi indukan nila sultana bisa diberikan pakan yang banyak mengandung lysine dan methionine dan enzim protease.

Improvisasi

Diharapkan ditengah sedang melakukan usaha pembenihan agar selalu melakukan improvisasi, terobosan, inovasi  dan melakukan percobaan-percobaan dengan melakukan cross breeding atau kawin silang misalnya

  • Jantan nila sultana dipijahkan dengan betina nila gesit, nila gift atau lainnya.
  • Betina nila sultana dipijahkan dengan berbagai strain atau varian.