Informasi mengenai Ikan Mas Mustika

Ikan Mas MUSTIKA “Mas Rajadanu Super Tahan Infeksi KHV”

  • Ikan Mas Mustika merupakan strain baru hasil dari peningkatan ketahanan KHV ikan mas Rajadanu yang dilakukan melalui program seleksi berdasarkan marka molekuler  MHC II spesifik pada alel Cyca-DAB1*05.
  • Ikan mas Mustika ini dilepaskan ke masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 24/KEPMEN-KP/2016.

Keunggulan :

  • Persentase marka MHC II sebesar 100%
  • Daya tahan terhadap infeksi KHV tinggi (SR  uji tantang 98,89%)
  • Pertumbuhan relatif cepat (SGR 3,01-3,62 % bobot/hari)
  • Efisiensi pakan tinggi (FCR 1,24-2,38)
  • Produktivitas pembesaran tinggi (lebih tinggi 5-67% dari pembanding)
  • Toleransi terhadap cekaman lingkungan tinggi

Rancangan hilirasi :

  •  Gelar teknologi (Januari – Juni 2017)
  •  Roadshow industri (Juli – Desember 2017)
  •   Kerjasama industri 2018

Potensi Mitra Bisnis / Pemanfaat Produk :

  • Unit pembenihan rakyat (UPR)
  • Unit pembenihan pemerintah (Dinas)
  • Pengusaha / industri perikanan

Sumber : bppisukamandi.kkp.go.id

Advertisements

Informasi mengenai Ikan Lele MUTIARA

lele mutiara bppisukamandi

Ikan Lele MUTIARAmutu tinggi tiada tara

  • Dibentuk dari gabungan persilangan strain ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang dan Dumbo yang diseleksi selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan.
  • Ikan lele mutiara ini dilepaskan ke masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 77/KEPMEN-KP/2015.

Keunggulan :

  • Laju pertumbuhan tinggi: 10-40% lebih tinggi daripada benih-benih lain
  • Lama pemeliharaan singkat: lama pembesaran benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sedangkan pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari.
  • Keseragaman ukuran relatif tinggi: tahap produksi benih diperoleh 80-90% benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80%.
  • Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah: 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran.
  • Daya tahan terhadap penyakit relatif tinggi: sintasan (SR = Survival Rate) pendederan benih berkisar 60-70% pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik).
  • Toleransi lingkungan relatif tinggi: suhu 15-35 oC, pH 5-10, amoniak < 3 mg/L, nitrit < 0,3 mg/L, salinitas 0-10 ‰.
  • Produktivitas relatif tinggi: produktivitas pada tahap pembesaran 20-70% lebih tinggi daripada benih-benih strain lain.

Potensi Mitra Bisnis / Pemanfaat Produk :

  • Unit pembenihan rakyat (UPR)
  • Unit pembenihan pemerintah (Dinas)
  • Pengusaha / industri perikanan

Rancangan hilirasi :

  • Gelar teknologi (Januari – Juni 2017)
  • Roadshow industri (Juli – Desember 2017)
  • Kerjasama industri 2018

Sumber : bppisukamandi.kkp.go.id

Menteri Susi: Ikan Jadi Andalan Utama

Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa proyeksi konsumsi ikan masyarakat Indonesia hingga 2019, mencapai 50 kg per kapita per tahun
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa proyeksi konsumsi ikan masyarakat Indonesia hingga 2019, mencapai 50 kg per kapita per tahun. Pasalnya proyeksi ini ditelusuri oleh KKP mengingat adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih (ikan)
“Ada pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih, maka kita proyeksikan hingga 2019, konsumsi ikan masyarakat Indonesia, mencapai 50 kg per kapita per tahun,” kata Susi Pudjiastuti seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Kamis (18/5)
Lebih lanjut, Ia mengatakan untuk bisa mencapai target pemenuhan konsumsi masyarakat tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dituntut untuk terus mendorong peran yang lebih besar dalam menopang ketahanan pangan nasional.

“Produk pangan berbasis ikan saat ini menjadi andalan utama, seiring mulai terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih,” tegas Menteri Susi.

Menurutnya dengan target tersebut setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak 14,6 juta ton per tahun, dimana angka ini diprediksi sekitar 60 persennya akan bergantung pada hasil produksi budidaya.

Sebelumnya dalam ajang Festival Kuliner Ikan Nusantara, Menteri Susi Pudjiastuti mengimbau masyarakat untuk mulai melirik ikan sebagai sumber pangan dengan membiasakan mengkonsumsi ikan setiap hari.

Susi menilai, tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding negara lain bahkan di level ASEAN sekali pun, padahal menurutnya, ikan merupakan sumber protein yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas kecerdasan generasi bangsa ini.

“Maka program gemar mengkonsumsi ikan, akan terus kita galakan ke masyarakat,” tukasnya.

Sumber : @jitunews

Nila Unggul Asal Sukabumi Ini Hasil Kawin Silang dari 10 Strain

Nila dengan beragam jenisnya merupakan salah satu komoditi perikanan air tawar yang berprospek cerah, karena memiliki nilai jual yang setara dengan ikan konsumsi lainnya

Salah satu varietas nila unggulan telah dirilis dan dikembangkan Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi sejak 2001 lalu. Nila itu bernama Sultana. Varietas nila ini mendapat pengakuan dari KKP dengan keluarnya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.28/MEN/2012 tentang Pelepasan Ikan Nila Sultana pada 7 Juni 2012.

Sultana merupakan singkatan dari seleksi unggul Selabintana, karena seluruh penelitian dan menghasilkan ikan nila varietas baru ini dilakukan di Selabintana, Sukabumi. Ia merupakan ikan hasil perkawinan silang dari 10 ‘strain’ ikan nila yang ada di Indonesia, di mana hasilnya sangat memuaskan

Salah satu keunggulan ikan nila ini adalah kemampuan tumbuhnya lebih cepat 10-15 % dibandingkan dengan ikan nila lainnya. Sementara, keunggulan lainnya adalah tahan dari berbagai penyakit dan cepat menyesuaikan diri di alam barunya.

Budidaya. Budidaya ikan nila Sultana relatif mudah dilakukan di lingkungan rumah seperti pekarangan. Selain berguna untuk mendukung perekonomian keluarga dan memenuhi kebutuhan protein hewani bagi keluarga, memelihara ikan nila juga bisa berguna sebagai kesenangan yang bisa mengurangi ketegangan stress setelah melakukan tugas rutin sehari-hari.

Pemeliharaan ikan nila, terutama pembesarannya tidak sesulit yang dibayangkan orang. Pembesaran ikan nila tidak harus membutuhkan lahan yang luas dan air yang melimpah, di pekarangan yang relatif sempitpun, bahkan dalam drum kita bisa memBudidayakannya.

Ikan nila Sultana ini sangat cocok diBudidayakan monoseks, yang tujuannya agar kandungan gizi dari pakan yang diberikan terserap seutuhnya kepada tubuh ikan tersebut, karena tidak digunakan untuk kawin. Selain itu, ikan nila ini sangat cocok disilangkan dengan ikan nila gesit. Hasilnya dari perkawinan tersebut menghasilkan benih ikan yang sangat baik dan pertumbuhannya lebih cepat sampai 40 %, biasanya ikan nila di panen pada size 4 atau 1 kg berisi empat ikan nila selama tiga bulan, tetapi nila Sultana untuk mencapai bobot tubuh tersebut hanya di bawah tiga bulan. Untuk SR (survival rate) nya sendiri bisa mencapai 95 %.

Saat ini ikan nila Sultana sudah dikembangkan di tiga daerah yakni di Sumatera Selatan, Malang dan Subang.

Tertarik memBudidayakan?

Sumber: http://www.jitunews.com

Ini Dia 13 Strain Ikan Nila Unggulan Versi KKP

Budidaya ikan nila berkembang pesat di berbagai daerah. Salah satu indikasinya harga jual ikan introduksi asal Afrika tersebut yang terus menanjak. Nila sudah jadi menu umum yang disajikan mulai dari warung nasi hingga restoran

Meningkatnya budidaya nila, mendorong kebutuhan akan nila unggul. Diceritakan Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Djumbuh Rukmono, pada 2002 upaya perbaikan genetik nila yang berasal dari nila gift mulai dilakukan berbagai pihak. Hingga saat ini sudah ada 13 strain nila  yang resmi dirilis KKP.

Ketigabelas nila tersebut meliputi nila JICA, nila Gesit, nila nirwana, nila Jatimbulan, nila BEST, nila larasati, nila nirwana II, nila sultana, nila srikandi, nila anjani, nila merah nilasa, nila jantan pandu dan kunti, serta nila salina. Nila-nila tersebut dikembangkan oleh balai-balai di bawah KKP serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah dinas perikanan provinsi dan kabupaten/kota.

Pengembangan nila unggul di berbagai daerah, kata Djumbuh, dikoordinasikan melalui broodstock center (pusat induk) nasional yang dikoordinir oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Selain dibudidayakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, lanjut Djumbuh, hasil budidaya semua strain nila tersebut juga diekspor ke luar negeri. Salah satu strain nila yang banyak diekspor ke luar adalah nila nirwana II yang dihasilkan oleh Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat.

Hal yang perlu diingat, kata Djumbuh, setiap indukkan strain baru yang dibuat harus didiseminasikan secara baik oleh unit pelaksana teknis yang ada di daerah.

“Tujuannya agar pembudidaya ikan baik pembenih maupun pembudidaya pembesaran dapat memanfaatkan secara optimal nila unggul yang diproduksi dengan kualitas yang  selalu terjaga,” kata Djumbuh

sumber : @jitunews 22 Desember 2014