Ikan Mas Majalaya MANTAP

a_5903

Budidaya ikan mas di Indonesia sudah cukup lama terbelenggu serangan penyakit  Koi Herpes Virus (KHV) dan bakteri Aeromonas hydrophila. Serangan penyakit tersebut membuat produksi ikan primadona air tawar ini tertekan. Pembudidaya tidak bisa meningkatkan skala usaha karena terancam kematian masal akibat serangan penyakit ini.

Namun kini hal yang dinanti para pembudidaya ikan mas telah hadir. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi melalui surat keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 24/KEPMEN-KP/2015 tentang pelepasan ikan mas mantap,  pada 16 April 2015 telah merilis indukan ikan mas tahan KHV.

Dijelaskan Perekayasa Ikan Mas dari BBPBAT Sukabumi, Adi Sucipto, ikan mas ini telah teruji tahan terhadap penyakit KHV dan bakteri Aeromonas hydrophila.  Keunggulan lainnya, kata Adi, ikan mas varietas ini pertumbuhan dan konversi pakan yang bagus. Meski memiliki banyak keunggulan, diakui Adi harga jual relatif sama dengan induk ikan mas lainnya.

Hingga kini, lanjut Adi, ikan mas tahan penyakit ini sudah disebarkan ke daerah Jawa Barat, Jambi, Aceh, Sumatera Barat, dan Papua. “Respon pasar sejauh ini bagus. Namun demikian, kami masih harus terus lakukan pemantauan atas produk yang telah kami pasarkan,” jelas Adi.

Sudah Teruji

Adi menjelaskan, dari hasil uji tantang ketahanan ikan mas ini terhadap KHV dan bakteri Aeromonas hydrophyla, maka pembudidaya kini dapat meningkatkan skala produksi. Dan yang tak kalah menarik lagi dari data uji tantang tersebut, pembudidaya memperoleh gambaran presentasi ikan yang hidup jika terjadi serangan penyakit. “Tidak ada metode khusus dalam pemeliharaan induk ikan mas tahan penyakit. Artinya, manajemen pemeliharaannya adalah sama dengan ikan mas yang lain,” ucapnya.

Dipaparkan Adi, uji tantang terhadap KHV juga dilakukan pada ikan mas majalaya MHC⁺ F2 dan kontrol yang berasal dari masyarakat dengan ukuran ikan sekitar 100 gram per ekor. Hasil uji tantang menunjukkan, ikan Majalaya MHC⁺ F2 (kelangsungan hidup 100%) lebih tahan terhadap serangan KHV dibandingkan ikan kontrol (kelangsungan hidup 8,33%) (lihat Gambar 2). Uji tantang dilakukan pada 3 – 24 April 2014 melalui injeksi sebanyak 0,1 ml/ ekor pada konsentrasi 10-2 CFU.

Kajian ikan mas tahan penyakit ini diinisiasi pada 2009 dan secara berkesinambungan dilanjutkan hingga 2014, khususnya pada strain majalaya. Menurut Adi, hasil kajian ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Krzystof L Rakus seperti yang tertuang dalam buku “Major Histocompatibility (MH) Polymorpism of Common Carp: Link with Disease Resistance”.

Dalam kajian ini, kata Adi, para perekayasa di BBPBAT Sukabumi berupaya meningkatkan ketahanan tubuh induk dan benih ikan mas melalui pemberian imunostimulan dan vitamin C, seleksi menggunakan marka Cyca-DABI*05 untuk ketahanan terhadap penyakit bakterial, memperbaiki kualitas lingkungan pemeliharaan, serta terus mencari teknik pemeliharaan yang diduga mampu mengeliminir serangan. Tujuan dari kegiatan pemuliaan ini adalah untuk menghasilkan indukan ikan mas yang tahan penyakit.

Adi memaparkan, respon imun pada ikan mas, terkait dengan adanya Molekul Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas I dan MHC kelas II. “Molekul MHC I secara spesifik terlibat dalam mengeliminir infeksi virus melalui mekanisme sitotoksik, sedangkan MHC II akan mengaktifkan sel-sel fagosit untuk memproduksi antibodi dan mengaktivasi karakter-karakter imun yang terlibat dalam mengeliminasi parasit, bakteri, dan menetralkan virus,” paparnya

Sumber : http://www.trobos.com

hub3

Budidaya Ikan Mas

Produksi ikan mas merupakan produksi terbesar di wilayah Jawa Barat untuk hasil budidaya perikanan terutama dikawasan Waduk Cirata dan Jatiluhur, dimana untuk budidaya ikan mas di kawasan tersebut sangatlah cocok untuk budidaya dan produksi besar besaran untuk ikan Mas. Selain dikawasan bendungan, ikan mas bisa juga dibudidayakan di bantaran sungai, air deras (running water), Kolam tanah dan kolam tembok. Seperti yang lainnya budidaya ikan mas terbagi kedalam 3 fase budidaya yaitu pembenihan, pendederan dan pembesaran.

1.    Pembenihan

Hal yang paling penting dalam pembenihan ialah dalam hal pemeliharaan induk dan seleksi induk. Dibawah ini paparan mengenai pemeliharaan dan seleksi induk

a.    Pemeliharaan Induk

  • Untuk Jantan dan betina dipelihara terpisah
  • Umur dan bobot     : 1.5 – 2 tahun  dengan bobot diatas 2 Kg untuk Betina dan 8 Bulan dengan bobot jantan diatas 0.5 Kg untuk Jantan
  • Media yang bisa dipakai adalah kolam air tenang dan kolam air deras
  • Untuk pakan menggunakan pellet degan kadar protein 28-30%
  • Dosis pemberikan pakan adalah 3% dari bobot tubuh
  • Untuk pemulihan induk betina 2-3 bulan dan untuk jantan 1 bulan

b.    Seleksi Induk

  • Induk harus sesuai deengan standar baik berat maupun umur
  • Tidak sekerabat
  • Jantan yang siap pijah bila distriping keluar sperma putih, namun dalam pemijitan haruslah hati hati jangan sampai sperma yang di keluarkan terlalu banyak yang berakibat pada saat pembuahan persedian sperma berkurang
  • Untuk betina perut buncit bila dipijit terasa lunak
  • Genital kemerahan dan agak membengkak untuk betina
  • Pergerakan lamban untuk betina dikarnakan sedang mengandung telur yang banyak.
Untuk pemijahan ikan mas terbagi kedalam 2 teknik diantaranya secara alami dan pemberian hormon.
a.    Pemijahan alami
Pemijahan secara alami dilakukan bisa dimedia bak ataupun di kolam tanah, dimana kita sediakan kakaban baik itu media bak maupun kolam tanah. Untuk media kolam tanah biasa menggunakan hapa berukuran panjang 6 meter dan lebar 2 meter dimana induk jantan dan betina disatukan dalam hapa yang telah terisi kakaban. Untuk perbanding banyaknya indukan biasanya 1:5 atau 6 dimana betina 1 jantan nya 5 atau 6 ekor, pemijahan/kawin biasa pada malam hari, dan keesokan harinya telur sudah menempel pada kakaban. Untuk tahap selanjutnya adalah pengangkatan induk baik jantan maupun betina diangkat dan dipindahkan pada media kolam tempat pemeliharaan induk.
b.    Pemijahan menggunakan Hormon
Pemijahan menggunakan hormon adalah pemijahan secara buatan dimana induk betina disuntik dengan hormon ovaprim dengan dosis 1 kg menggunakan hormon 0,5 ml dengan 2 kali penyuntikan dimana penyuntikan pertama 1/3 setelah 8 jam penyuntikan dilakukan 2/3 nya.
Setelah telur ada yang keluar dari indukan betina saat itulah dilakukan striping atau pengurutan dimana telur yang keluar diaduk dengan sperma jantan yang telah di campur dengan Nacl. Telur yang telah telah diaduk dengan sperma lalu di tebar pada kakaban/ijuk yang telah di letakan pada media bak atupun media kolam.
2.    Pendederan
Pendederan biasa dilakukan pada media kolam air tenang dimana sebelumnya kolam yang akan dipakai sudah melalui pemupukan dan pengapuran. Ketinggian air pada pase pendederan adalah 40-70 cm. untuk penggunaan media air tenang selain di kolam tanah bisa juga disawah yang belum ditanami padi atau pun padi yang baru tanam. Ada hal yang harus diperhatikan pada persiapan kolam atau sawah dimana kondisi kolam haruslah tidak bocor dan sudah menggunakan kamalir atau parit yang diujungnya telah tersedia kobakan supaya memudahkan pada saat pemanenan. ukuran yang dihasilkan pada masa pendederan biasanya antara 2-3 cm sampai dengan 4-5 cm.
3.    Pembesaran.
Untuk pembesaran media yang dipakai biasanya adalah media kolam jaring apung, kolam air deras  atau di karamba. Media yang menggunakan jaring terapung dengan tebar ukuran berat benih 10 gram untuk kapasitas tebar 100 ekor/m3 dengan lama pemeliharaan 3 bulan dengan pemberiat pellet 3-4% dari bobot tubuh, sedangkan pada media kolam air deras dengan tebar ukuran berat benih 20-30 gram/ekor untuk kapasitas tebar 100 ekor/m3 dengan lama pemeliharaan 4 bulan.
Melihat hal tersebut diatas ada perbedaan percepatan pertumbuhan antara pemeliharaan pembesaran di jarring terapung dengan pemeliharaan di kolam air deras, dimana pembesaran di jaring terapung lebih cepat besar itu dikarnakan suhu dan kadar oksigen dalam air relative stabil dan menunjang untuk percepatan pertumbuhan ikan.

Deny Rusmawan – DeJee Fish – Ketua APPG