Jenis-jenis Ikan Baung

Secara biogeografi, marga Hemibagrus diketahui menyebar luas di sebelah timur lembah Sungai Gangga – Brahmaputra dan di selatan aliran Sungai Yangtze. Ragam jenis yang tertinggi berkembang di wilayah Paparan Sunda.

Berikut ini adalah tabel spesies anggota marga Hemibagrus menurut daftar yang disusun Ferraris (2007)

Spesies Author Penyebaran Nama umum
Hemibagrus baramensis (Regan, 1906). Endemik di Sungai Baram, Serawak.
H. bongan (Popta, 1904) Endemik di aliran sungai-sungai Kapuas, Rajang dan Baram, Kalimantan bagian barat.
H. caveatus Ng, Wirjoatmodjo & Hadiaty, 2001 Endemik di sekitar lembah Sungai Alas, Aceh
H. centralus Mai, 1978 Vietnam bagian utara
H. chrysops Ng & Dodson, 1999 Terbatas di aliran sungai-sungai Sadong dan Rajang, Serawak.
H. filamentus (Fang & Chaux, 1949) Lembah sungai Mekong bagian tengah dan hilir
H. fortis (Popta, 1904) Kalimantan
H. furcatus Ng, Martin-Smith & Ng, 2000 Lembah sungai Segama, Sabah
H. gracilis Ng & Ng, 1995 Wilayah Endau-Rompin, Semenanjung Malaya
H. guttatus (La Cepède, 1803) Cina selatan dan Laos
H. hainanensis (Tchang, 1835) Hainan
H. hoevenii (Bleeker, 1846) Sungai-sungai Kapuas dan Baram (Kalimantan bagian barat), Musi dan Batanghari (Sumatra bagian timur), serta lembah sungai Muar, Semenanjung Malaya.
H. hongus Mai, 1978 Vietnam bagian utara
H. imbrifer Ng & Ferraris, 2000 Lembah sungai Salween, Thailand
H. johorensis (Herre, 1940) Semenanjung Malaya dan Sumatra
H. macropterus Bleeker, 1870 Cina selatan
H. major Roberts & Jumnongthai, 1999 Phetchabun, Thailand.
H. maydelli (Rössel, 1964) Sungai Khrisna, India
H. menoda (Hamilton, 1822) Sungai-sungai Gangga, Brahmaputra, Mahanadi dan Godawari di India dan Bangladesh
H. microphthalmus (Day, 1877) Sungai-sungai Manipur (India), Irawadi dan Sittang (Burma), serta Salween (Thailand)
H. nemurus (Valenciennes, 1840) Jawa,Riau (Sungai Siak, Sungai Kampar) dan kemungkinan pula wilayah-wilayah di sekitarnya. Baung putih, Baung Sungai, Baung tikus, baung Murai
H. olyroides (Roberts, 1989) Endemik di aliran Sungai Kapuas, Kalbar
H. peguensis (Boulenger, 1894) Sungai-sungai Irawadi, Sittang dan Pegu (Burma),
H. planiceps (Valenciennes, 1840) Terbatas di Jawa Baung kuning
H. pluriradiatus (Vaillant, 1892) Cina selatan dan Laos
H. punctatus (Jerdon, 1849) Tamil Nadu dan Mysore, India
H. sabanus (Inger & Chin, 1959) Terbatas di sekitar Sungai Kinabatangan, Sabah
H. spilopterus Ng & Rainboth, 1999 Lembah sungai Mekong bagian hilir.
H. variegatus Ng & Ferraris, 2000 Lembah sungai Tenasserim, Burma
H. velox Tan & Ng, 2000 Sungai-sungai di Sumatra tengah
H. vietnamicus Mai, 1978 Laos dan Vietnam bagian utara
H. wyckii (Bleeker, 1858) Lembah sungai Mekong dan Chao Phraya, serta di wilayah Paparan Sunda Baung kunyit
H. wyckioides (Fang & Chaux, 1949) Kamboja, Laos, Thailand dan Cina selatan

Sumber ; https://id.wikipedia.org/wiki

Advertisements

Ikan Baung

Baung adalah nama segolongan ikan yang termasuk ke dalam marga Hemibagrus, suku Bagridae. Ikan yang menyebar luas di India, Cina selatan dan Asia Tenggara ini juga dikenal dengan banyak nama daerah, seperti ikan duri, baong, baon (Malay.), bawon (Betawi.), senggal atau singgah (Sunda.), tagih atau tageh (Jawa.), niken, siken, tiken, tiken bato (Kalteng), dan lain-lain.

???????????????????????????????

calon induk

???????????????????????????????

Indukan baung

Baung masih sekerabat dengan lele (bangsa Siluriformes). Nama marganya, Hemibagrus, berasal dari kata bahasa Latin hemi yang berarti “setengah” atau “separuh”, dan bagrus, yang dipungut dari pelafalan Muzarab bagre atas perkataan Yunani pagros, yakni nama sejenis ikan laut (Ingg.: seabream)

Marga Hemibagrus pada mulanya dianggap satu dengan marga Mystus (ikan-ikan keting atau lundu), atau yang sebelumnya dikenal sebagai Macrones. Marga ini dipisahkan, salah satunya ialah karena anggotanya yang dewasa umumnya memiliki tubuh yang berukuran besar. Sejenis baung dari Indocina bagian tengah, H. wyckioides, diketahui sebagai jenis baung terbesar yang dapat mencapai bobot tubuh 80 kg. Bertubuh agak mirip dengan lele, ikan-ikan baung memiliki kepala yang memipih agak mendatar, dengan bagian tulang tengkorak yang kasar di atas kepala tak tertutupi oleh kulit, dan sirip lemak yang berukuran sedang berada di belakang sirip punggung (dorsal). Baung bertubuh licin tanpa sisik di tubuhnya; dan serupa dengan lundu dan patin, baung memiliki tiga duri yang berbisa (patil), yakni pada sepasang sirip dadanya, dan sebuah lagi berada di awal sirip punggungnya.

Baung adalah ikan air tawar yang dapat hidup dari perairan di muara sungai sampai ke bagian hulu. Bahkan di Sungai Musi (Sumatera Selatan), baung ditemukan sampai ke muara sungai di daerah pasang surut yang berair sedikit payau. Selain itu, ikan ini juga banyak ditemui di tempat-tempat yang letaknya di daerah banjir. Secara umum, baung dinyatakan sebagai ikan yang hidup di perairan umum seperti sungai, rawa, situ, danau, dan waduk.

Baung bersifat noktural. Artinya, aktivitas kegiatan hidupnya (mencari makan, dll) lebih banyak dilakukan pada malam hari. Selain itu, baung juga memiliki sifat suka bersembunyi di dalam liang-liang di tepi sungai tempat habitat hidupnya. Di alam, baung termasuk ikan pemakan segala (omnivora). Namun ada juga yang menggolongkannya sebagai ikan carnivora, karena lebih dominan memakan hewan-hewan kecil seperti ikan-ikan kecil (Arsyad, 1973). Pakan baung antara lain ikan-ikan kecil, udang-udang kecil, remis, insekta, molusca, dan rumput

Di Asia Tenggara, baung merupakan ikan konsumsi yang penting. Tekstur dagingnya berwarna lembut, putih, tebal tanpa duri halus, sehingga sangat digemari masyarakat. Berbagai masakan ikan baung yang terkenal enak, di antaranya adalah pindang baung dari Sumatera Selatan dan baung asam padeh dari Riau, serta ikan baung panggang dari Kalimantan. Selain itu, ikan baung juga biasa dijadikan ikan asap.

Salah satu jenisnya, yakni baung putih (H. nemurus), telah berhasil dikembangkan pembenihannya dan dibudidayakan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi semenjak tahun 1998.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki

Perkenalkan : Hemibagrus wyckioides, sang Baung Ekor Merah

Hemibagrus wyckiodes adalah catfish raksasa dari daratan Asia yang mampu tumbuh hingga 180 cm. Berasal dari daerah Thailand dan sekitarnya. Ikan ini hidup dalam satu habitat dengan Mekong Giant Catfish, Siamese Giant Carp & Genghis Khan Catfish.

Karena sirip ekornya yang berwarna merah saat dewasa, maka ikan ini dijuluki Siamese Red Tail Catfish. Saat masih kecil, ikan ini memiliki postur yang sama dengan Baung (Hemibagrus nemurus) hanya saja sungut Siamese Red Tail berwarna putih.

Sifat Hemibagrus whyckiodes cukup territorial, namun bisa ditanggulangi apabila sejak kecil ikan ini dicampur dengan ikan lain yang berukuran lebih besar.
Oleh penduduk sekitar, ikan ini adalah ikan konsumsi, namun bagi para kolektor ikan eksotis ikan ini adalah ikan yang sangat menarik.

This slideshow requires JavaScript.

Sumber :

ffish.asia.com

 Jean-Francois Helias Fishing Adventures Thailand

Budidaya Ikan Baung

DESKRIPSI IKAN BAUNG

1.1 SEJARAH SINGKAT

Ikan baung (Mystus nemurus C.V) termasuk ikan asli Indonesia, tetapi namanya tidak populer seperti ikan-ikan air tawar lainnya. Bahkan ikan ini sepertinya dianggap tidak ada, dan tak pernah dilirik orang. Ini wajar karena lidah orang Indonesia belum terbiasa dengan rasa ikan ini. Mereka lebih terbiasa dengan ikan mas, nila, dan lele.

Meski tidak populer, tetapi pasar ikan baung tetap terbuka. Karena ikan ini dapat dijual baik di pasar domestik mapun pasar internasional. Pasokan dari produsen masih belum mampu memenuhi permintaan. Karena jumlah pembudiadayanya masih sedikit. Keadaan ini telah membuka peluang untuk menjadi sebagai lahan usaha.

Di beberapa daerah dan negara, sebutan baung berbeda-beda, atau disebut pula dengan nama lokal. Di Jakarta dan Malaysia ikan baung lebih dikenal dengan tiga sebutan, yaitu ikan bawon, ikan singal, dan ikan senggal. Sementara itu di Jawa Barat disebut ikan singgah, dan di Jawa Tengah terkenal dengan sebutan tagih dan tenggah. Sedangkan ikan baung sendiri berasal dari Sumatra dan Kalimantan.

Sama seperti ikan lain budidaya ikan baung dimulai dengan pembenihan. Pembenihan tidak dilakukan secara alami, tetapi hanya bisa dilakukan secara buatan. Namun cara itu untuk saat ini tidak sulit.

Pada tahap pembesaran juga tidak sulit. Karena ikan baung dapat dipelihara dalam wadah apa saja, termasuk di kolam tanah dan jaring terapung. Sistem pemeliharannya sama dengan ikan-ikan yang lainnya, bisa secara tradisional bisa juga secara intensif. Namun satu hal yang harus dipikirkan. Jangan pernah berhenti di tengah jalan.

1.2 KLASIFIKASI DAN MORFOLOGI

Ikan dan juga hewan lain bisa dibedakan dari klasifikasinya. Klasifikasi ini di buat oleh para ahli biologi. Seorang ahli bernama Imaki et al. (1978) mengklasifikasikan ikan baung ke dalam

Phylum            : Chordata;

Class                : Pisces;

Sub class          : Teleostei;

Ordo                : Ostariophysi;

Sub ordo          : Siluridea;

Family             : Bagridae;

Genus              : Mytus; dan

Species            : Mytus nemurus C.V

Selain digolongkan melalui klasifikasi, setiap mahluk bisa dibedakan dari tanda-tanda bagian tubuhnya, atau lebih dikenal dengan istilah morfologi. Baung mempunyai bentuk badan memanjang, dengan perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan 4 : 1. Baung juga berbadan bulat dengan perbandinga tinggi badan dan lebar badan 1 : 1. Keadaan itu bisa dibilang badan baung itu bulat. Punggungnya tinggi pada awal, kemudian merendah sampai di bagian ekor.

1.3 HABITAT DAN PENYEBARAN

Ikan baung adalah ikan asli Indonesia. Ikan ini banyak hidup di air tawar. Daerah yang paling disukai adalah perairan yang tenang, bukan air yang deras. Karena itu, ikan baung banyak ditemukan di rawa-rawa, danau-danau, waduk dan perairan yang tenang lainnya. Meski begitu, ikan baung tetap memerlukan oksigen yang tinggi untuk kehidupannya.

Ikan baung tumbuh dan berkembang di perairan tropis. Daya adaptasinya tergolong rendah, kurang tahan terhadap perubahan lingkungan, dan serangan penyakit. Ketidaktahanan pada keduanya terutama terjadi pada fase benih yaitu dari ukuran 0,5 – 2 cm.

Ikan baung dapat hidup pada ketinggian sampai 1.000 m di atas permukaan laut, hidup baik pada suhu antara 24 – 29 O C, derajat keasaman (pH) antara 6,5 – 8, kandungan oksigen minimal 4 ppm, dan air yang tidak terlalu keruh dengan kecerahan pada pengukuran alat secchi disk.

Di Sumatra, ikan baung banyak ditemukan di Danau Toba, tetapi populasinya terus berkurang, karena adanya penangkapan yang tidak selektif. Di Danau tondano Sulawesi, ikan baung juga banyak ditemukan, tetapi jumlahnya sudah sangat sedikit. Demikian juga dengan danau-danau, dan rawa-rawa lain yang ada diseluruh Indonesia.

Di Jawa Barat, ikan baung banyak ditemukan di tiga waduk besar, yaitu Waduk Jatiluhur, Saguling dan Cirata. Populasi ikan baung di ketiga waduk itu cukup tinggi, mengingat keadaan perairan yang sesuai dengan habitat hidupnya. Bagi masyarakat sekitar waduk, ikan baung telah menjadi salah satu ikan tangkapan yang dapat menjadi sumber kehidupan.

Selain di danau, rawa dan waduk, ikan baung juga sering ditemukan di sungai-sungai. Tentu saja bukan sungai yang berair deras, tetapi sungai yang arus airnya lambat. Ikan baung banyak ditemukan di sungai-sungai di Propinsi Riau. Selain di sana, ikan baung juga banyak ditemukan di sungai lain di seluruh Indonesia.

Ikan baung termasuk ikan yang penyebarannya cukup luas. Selain di Indonesia, ikan baung juga banyak ditemukan di Hindia Timur, yang meliputi Malaya, Indocina, Singapura dan Thailand. Menurut Sriyusanti, selain di Benua Asia, ikan baung juga banyak ditemukan di Benua Afrika.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

2.1  MANAJEMEN INDUK

Kolam induk ikan baung adalah tempat untuk pematangan gonad induk jantan dan betina, sebelum atau sesudah dipijahkan. Tidak seperti ikan nila dan mas, kolam induk jantan dan betina harus dibuat terpisah, kolam induk Baung bisa disatukan. Karena pada ikan Baung tidak akan terjadi pemijahan liar.

Kolam induk ikan baung sebaiknya dibuat dari beton, atau tembok, agar kuat. Kalau tidak ada kolam beton, bisa juga kolam tanah, karena kolam ini tidak terlalu lama digunakan, dan sewaktu-waktu bisa diperbaiki. Ukuran kolam induk tidak boleh terlalu luas, maksimal 50 m2. Tujuannya agar memudahkan dalam pengeringan sewaktu seleksi.

Seperti kolam-kolam lainnya, kolam-kolam ini dilengkapi dengan lubang pemasukan, dan pengeluaran air. Tujuannya agar memudahkan dalam pengairan kolam, sehingga kualitas air dapat tetap baik. Keadaan dasar kolam harus melandai ke lubang pengeluaran air, agar memudahkan dalam pengeringan

Induk baung dipelihara dengan kepadatan 3-5 ekor/m2. Kolam pemeliharaan induk dapat berupa kolam tanah atau tembok dan memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Kualitas air untuk induk adalah ; suhu 25-30 0C, pH 6,0-8,5 dan kandungan oksigen terlarut >4 mg/L.

Dalam pemberian Pakan Induk Ikan Baung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :

  1. Pemberian pakan disarankan menggunakan pakan alami seperti keong Mas, kerang air tawar, dan lain-lain
  2. Pengistirahatan dilakukan induk setelah menginjak musim kemarau
  3. Jika menggunakan pakan buatan/pellet, memiliki kandungan Protein 30-35%, pemberian Pakan dilakukan setiap hari sebanyak 3 % bobot biomas/hari dengan frekuensi pemberian Pakan 2-3 kali/hari

 

2.2  SELEKSI INDUK

Jantan dan betina setiap hewan, termasuk ikan baung dapat dibedakan dengan jelas. Tentu saja sebelumnya harus dipelajari terlebih dahulu, yaitu dengan melihat dari dekat tanda-tanda pada tubuh ikan tersebut. Bagi yang sudah paham, membedakan jantan dan betina tidak harus dari dekat, tetapi dari jauh saja sudah cukup.

Seperti hewan lain, ikan baung bisa dibedakan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh bagian luar. Untuk membedakan kedua jenis itu dapat dilihat dari bentuk tubuh, warna kulit, dan alat kelamin. Pada organ tubuh itu jelas sekali perbedaannya. Agar lebih paham, seorang pembudidaya harus terjun langsung membedakan sendiri.

Induk jantan ditandai dengan tubuh ramping dan panjang, warna kulit cerah agak kemerahan, serta memiliki satu alat kelamin yang bentuknya panjang. Pada jantan yang matang, warna kelamin memerah dan agak menggembung. Selain itu bila diurut terkadang keluar cairan berwarna putih susu.

Sedangkan induk betina ditandai dengan tubuh gemuk dan pendek, warna kulit agak kusam dan lebih halus, serta memiliki dua alat kelamin, satu untuk mengeluarkan telur, dan satu lagi untuk mengeluarkan air kencing. Pada induk yang sudah matang dapat dicirikan dengan perutnya yang gendut, permukaan kulit lebih lembut, bila diurut terkadang keluar telur berwarna kecoklatan.

 

2.3  PEMIJAHAN

Meski merupakan ikan asli Indonesia, tetapi baung belum dapat dipijahkan secara alami. Ikan baung hanya dapat dipijahkan secara buatan. Yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang keluarnya telur ke dalam tubuh lalu mengeluarkan telur dengan cara mengurut perutnya. Mengingat pengamatan kearah itu jarang dilakukan para ahli. Bisa juga karena pemijahan buatan dianggap lebih praktis.

Pemijahan Buatan yaitu memberikan rangsangan hormon hipophysa untuk mempercepat kematangan gonad serta ovulasinya dilakukan secara buatan dengan tehnik stripping/pengurutan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin :

–          Gametogenesis : Memacu kematangan telur dan sperma, disebut Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam penyuntikan, telur mengalami ovulasi (keluarnya telur dari jaringan ikat indung telur). Selama ovulasi, perut ikan betina akan membengkak sedikit demi sedikit karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat yang baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).

–          Mendorong nafsu sex (libido)

Ekstrak hipofisa dapat berasal dari ikan lele atau ikan mas sebagai donor. Penyuntikan dengan ekstrak hipofisa dilakukan dengan dosis 1 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan lele) atau 2 kg donor/kg induk (bila menggunakan donor ikan mas). Penyuntikan menggunakan Ovaprim dilakukan dengan dosis 1 ml/kg induk ditambah larutan Aquades  sebanyak 0,5 ml/kg induk.

Penyuntikan dilakukan satu kali secara intramuscular yaitu pada bagian punggung ikan. Rentang waktu antara penyuntikan dengan ovulasi telur 10 – 12 jam tergantung pada suhu inkubasi induk.

Prosedur pemijahan buatan meliputi:

  • Pemeriksaan ovulasi telur pada induk betina,
  • Pengambilan kantung sperma pada ikan jantan,
  • Pengenceran sperma pada larutan fisiologis (NaCl 0,9%) dengan perbandingan 1 : 50 – 100, Pengurutan induk betina untuk mengeluarkan telur
  • Pencampuran telur dan sperma secara merata untuk meningkatkan pembuahan (fertilisasi),
  • Penebaran telur yang sudah terbuahi secara merata pada media Aquarium atau Bak Fiber.

Penetasan telur sebaiknya dilakukan pada air yang mengalir untuk menjamin ke tersediaan oksigen terlarut dan penggantian air yang kotor akibat pembusukan telur yang tidak terbuahi. Peningkatan kandungan oksigen terlarut dapat pula diupayakan dengan pemberian airasi. Telur Baung menetas 30 – 36 jam setelah pembuahan pada suhu 22 –25 oC. Larva Baung yang baru menetas memiliki cadangan makanan berupa kantung telur (yolksack) yang akan diserap sebagai sumber makanan bagi larva sehingga tidak perlu diberi pakan. Penetasan telur dan penyerapan yolksack akan lebih cepat terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Pemeliharaan larva dilakukan dalam hapa penetasan. Pakan dapat mulai diberikan setelah larva umur 4 – 5 hari atau ketika larva sudah dapat berenang bebas dan berwarna hitam