Manajemen Budidaya Ikan Nila Fase Awal

Manajemen budidaya ikan nila fase awal perlu dilakukan supaya ikan nila dapat tumbuh dengan cepat dan efisien
Sebelum masuk dalam fase pembesaran, pembudidaya ikan nila perlu mengetahui prinsip dan aplikasi manajemen pakan nila fase awal. “Bagaimana agar nila cepat besar sehingga frekuensi penebaran bisa lebih rapat. Disisi lain, pembudidaya efisien pakan dan SR (Survival Rate/daya tahan hidup) tinggi,” ungkap Soeprijatno Soebardjo, pembudidaya nila dari Sleman – Yogjakarta.

Pria yang biasa disapa “pak Pri” ini menyatakan, harga nila gelondongan di Jogjakarta cukup menggiurkan, antara Rp 17.000 – Rp 19.000 perkg. Sementara, baby nila juga mulai mendapatkan pasar untuk dibuat baby nila crispy, seharga Rp 21.000/kg. Sementara harga kebul/burayak nila eks BBI (Balai Benih Ikan) berkisar Rp 8 – Rp 10/ekordan benih 1 cm (B1) Rp 20/ekor. Sementara harga pakan tenggelam dengan kadar protein 30% Rp 7.000 dan pakan udang berprotein 38% Rp 13.000/kg.

Pakan Protein Tinggi

Menurut Soepri, pakan protein tinggi diberikan sejak dari bibit berukuran B1 (1 cm). “Pakan udang jenis Do diberikan sejak bibit berumur 7 hari dari burayak (lepas dari mulut induk),” terangnya. Pakan berkadar protein 40% itu diberikan hingga umur 14 hari. Kepadatan tebar bisa mencapai 150 ekor/m2.

Nila berumur 14 hari itu kemudian diberi ransum pakan udang crumble berprotein 38% (pakan tenggelam) hingga genap berumur 1 bulan. Saat itu nila sudah berukuran 5 – 10 gram/ekor. “Di bawah 8 gram sebenarnya termasuk kategori kecil. Sebaiknya dilakukan penyortiran,” ungkapnya.

Nila kecil yang berukuran 5-7 g/ekoritu, menurut Soepri, sudah laku dijual untuk bahan baku pembuatan baby nila crispy yang saat ini sedang berkembang dan kekurangan bahan baku.

Soepri menjelaskan, memasuki masa penggelondongan, kepadatan tebar diturunkan menjadi 75-100 ekor/m2. Untuk memanen nila gelondongan berukuran 40-50 ekor/kg (20g – 25g perekor) perekor, butuh waktu tambahan 40 hari dari size baby nila, jika menggunakan pakan ikan berkadar protein 30% (pakan ikan mas, jenis tenggelam).

Namun, lanjutnya,panen akan maju 7 – 10 hari jika pembudidaya melanjutkan pemberian pakan dengan kadar protein 38% sebagaimana digunakan pada fase sebelumnya. “Bukan hanya maju waktu panennya, tapi FCR (konversi pakan) juga turun dari 0,7 – 0,8 menjadi 0,5 – 0,6,” tegasnya.

Pria yang didaulat sebagai pendamping kelompok-kelompok pembudidaya ikan binaan CSR (Corporate Social Responsibility) Pertamina ini menjelaskan, pakan udang sangat baik untuk memacu pertumbuhan dan mengefisienkan FCR. Sebab pakan udang dirancang memiliki tingkat kecernaan tinggi, disesuaikan dengan sistem pencernaan udang yang pendek dan sederhana. “Sehingga jika diberikan pada ikan yang lebih kompleks seperti nila, hasilnya tentu lebih bagus,” simpulnya.

Manajemen Pakan

Menurut Soepri,frekuensi pemberian pakan nila di kolamnya hanya 2 kali sehari, dengan metode tingkat kekenyangan 90%. “Tidak dibuat kenyang 100% supaya tidak banyak pakan tersisa sehingga lebih efisien,” katanya.

Cara mengkalibrasi kekenyangan 90% adalah dengan memberi pakan yang telah ditimbang, diperkirakan melebihi konsumsi pakan biasanya. Pakan kemudian diberikan hingga ikan tidak mau makan. “Jika memakai pakan apung lebih mudah. Tandanya pakan tak lagi dilahap,”sebutnya. Sedangkan jika memakai pakan tenggelam, tandanya adalah ikan tak lagi mendekat meski pakan ditebarkan. Sisa pakan kemudian ditimbang, dipakai untuk mengurangi timbangan awal. Selisih timbangan itulah yang akan dipakai untuk standar pemberian pakan selama 7 hari ke depan.

sumber: trobos

Marzuki Yang Sukses Budidaya Ikan Nila Dengan Karamba

Marzuki, petani karamba ikan Nila di Desa Aro, Muarabulian, Batanghari sukses dengan usahanya. Berkat kerja kerasnya, pria yang akrab dipanggil Kindul itu kini memiliki ratusan unit kerambah dibantaran Sungai Batanghari. Keberuntungan seseorang tidak akan berubah tanpa dibarengi usaha, kerja keras serta doa. Motto hidup itu benar-benar diterapkan Marzuki ketika menggeluti usahanya. Berawal dari bantuan kerambah dari pemerintah Provinsi Jambi melalui Dinas Perikanan dan Kelautan, Marzuki kini tengah berada di puncak kesuksesan.

Dalam kurun waktu dua tahun, pria yang sehari-hari akrab disapa Kindul itu sudah memiliki 31 unit kerambah. Bahkan, dia sudah mampu membuka lapangan pekerjaan dengan merekrut tiga orang pemuda untuk dijadikan karyawannya.

“Awalnya saya menerima bantuan dua unit kerambah dari Dinas Perikanan Provinsi Jambi pada tahun 2009. Dua tahun kemudian, usaha saya berkembang menjadi 31 unit,” kata Marzuki, ketika ditemui di lokasi kerambah ikan nilanya, Senin (7/10).

Marzuki menyebut, seluruh kerambah miliknya berisi ikan nila. ikan nila dia pilih dengan alasan lebih cepat panen dibandingkan dengan ikan patin. Untuk satu kerambah, berukuran 3×4 meter, diisi dengan delapan ribu bibit nila. Dalam waktu empat bulan, ikan sudah bisa dipanen dengan berat rata-rata lima ons.

“Dalam satu bulan minimal delapan kerambah yang dipanen, hasil dari satu kerambah kalau dihitung bersih setelah gaji karyawan dan pakan ikan mencapai Rp 2 juta,” beber suami Teti itu.

Selain sibuk mengelola kerambah miliknya, Marzuki yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Rizki III selalu memperhatikan kesejateraan anggotanya. 20 orang anggota yang tergabung dalam Kelompok Tani Rizki III rutin diberikan subsidi pakan.

“Anggota saya juga sudah rata-rata sukses. Mereka yang semula hanya memiliki dua unit kerambah bantuan, saat ini sudah memiliki 4-6 unit kerambah,” jelas ayah Fifa dan Billi itu seraya mengusapkan keringat di wajahnya.

Usaha kerambah yang ditekuni Marzuki bersama kelompok taninya merupakan program Dinas Perikanan Provinsi Jambi yang berhasil di Kabupaten Batanghari. Keberhasilan Marzuki bahkan telah mendapat penghargaan pada 2010 lalu. Dia diajak Distributor Comfeed Jambi, Guantoyo, melakukan studi banding di tiga negara ASEAN: Singapura, Thailand dan Malaysia.

Selama mengunjungi tiga negara itu, Marzuki mendapatkan berbagai ilmu dalam mengembangkan usaha ikan khususnya ikan nila. Ilmu itu kemudian diaplikasikannya di Desa Aro, usahanya perlahan meningkat dari 31 unit menjadi 100 unit di tahun 2012.

“Kalau saat ini kerambah saya sudah lebih dari 100 unit, ini tidak lepas dari studi banding keluar negeri,” bebernya.

Usaha perikanan di luar negeri berbeda jauh dengan yang ada di dalam negeri. Petani ikan di luar negeri sangat memperhatikan aspek yang berhubungan dengan budidaya ikan, mulai dari kerambah, pakan dan pemasaran.

“Pokoknya jauh beda dengan yang ada di dalam negeri,” sebutnya.

Usaha budidaya ikan nila di bantaran Sungai Batanghari telah membuat ekonomi Marzuki jauh lebih baik dari sebelumnya. Bayangkan saja, dari satu unit kerambah saja, dia bisa mendapat keuntungan bersih dua juta rupiah. Kalau dikalikan 100 unit saja, Marzuki akan mendapat keuntungan dua ratus juta rupiah.

Saat ini, bapak tiga anak itu sedang membangun gudang yang nantinya akan diisi dengan pakan ikan. Gudang pakan itu didirikan Marzuki tepat di simpang tiga Pasar Aro. Pembangunan gudang pakan ikan beton itu menelan dana Rp 100 juta lebih.

Selain itu, Marzuki kini telah memiliki dua unit mobil. Mobil pertama yang dibelinya berjenis Honda CRV, kemudian mobil kedua berjenis Carry Pickup yang digunakan untuk mengangkut hasil panen ikan nila.

Selanjutnya, ikan nila hasil panen dari kerambah kemudian dibawa ke pasar Keramat Tinggi untuk dijual. Marzuki saat ini juga telah memiliki lapak ikan sendiri tempat pekerjanya berjualan.

Marzuki secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Provinsi Jambi yang telah memberikan bantuan kepada masyarakat Desa Aro berupa kerambah ikan. Kepada Pemkab Batanghari dia berharap diberikan bantuan modal berupa pinjaman untuk membangun pusat nila di Kabupaten Batanghari.

Tujuannya, agar para petani kerambah ikan mampu mengembangkan jumlah kerambah sekaligus untuk mengatasi angka pengangguran.

Sumber : Jambi Independent

20 Kotak Jaring Apung Ikan Nila Hasilkan 100 Juta Rupiah Sekali Panen

Selain dijadikan sebagai kawasan konservasi Mangrove Center (MC), peluang bisnis keramba jaring apung di teluk ini bisa bernilai ratusan juta rupiah. AGUS Bei, ketua Mangrove Center mengatakan, keramba jaring apung tersebut dikelola langsung oleh anggota yang tergabung dalam pengelola MC.

“Saat ini Mangrove Center, selain dijadikan sebagai kawasan konservasi, edukasi, dan ekowisata, juga kami manfaatkan dari segi ekonominya. Keuntungan yang diperoleh kami gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengelola MC serta untuk biaya pengembangan MC ke depan,” kata Agus, kepada Kaltim Post, Kamis (26/12).

Budi daya yang sedang dilakukan dan dikembangkan di keramba jaring apung tersebut adalah ikan nila. Kenapa ikan nila? Agus menjelaskan, sejauh ini hanya ikan nila yang bisa bertahan di air payau Teluk Balikpapan, dari beberapa ikan lainnya yang pernah dicoba.

“Kami pernah uji coba ikan kerapu, ikan gabus, tapi semua enggak bisa bertahan lama. Kadang ada yang mati, kadang karena faktor kandungan air. Makanya kami lebih memilih ikan nila, karena lebih bisa bertahan di air payau,” terangnya.

Keramba jaring apung MC, berjumlah 30 kotak. Namun dikatakan Agus yang bisa dipakai untuk budi daya ikan nila hanya sekitar 20 kotak. Sementara 10 lainnya terbatas karena tidak adanya jaring. “Harga jaring terlalu mahal, jadi untuk sekarang masih memakai 20 kotak saja,” paparnya.

Walaupun hanya 20 kotak, tak tanggung-tanggung, dalam sekali panen, ikan nila di keramba apung MC bisa mencapai tiga ton. Agus menuturkan, jika diuangkan hasilnya bisa mencapai Rp 100 juta dalam sekali panen di 20 kotak tersebut.

“Iya, soalnya harga ikan nila di pasaran per kilonya dihargai Rp 35 ribu. Jadi, tinggal dikalikan aja,” kata Agus.

sumber: kaltimpost

Faktor Yang Mempengaruhi Immunitas / Kekebalan Tubuh Ikan

Budidaya ikan baik ikan air tawar, payau maupun laut sering mengalami hambatan berupa penyakit terutama penyakit infeksius yang disebabkan oleh patogen baik berupa parasit, cendawan, bakteri, dan virus. Salah satu langkah yang dipandang cukup efisien dalam mencegah terjadinya penyakit ini adalah melalui vaksinasi. Organisme yang divaksin termasuk ikan akan memberikan respons kekebalan setelah divaksin, respons kekebalan ini yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya infeksi patogen yang dapat menyebabkan ikan mengalami sakit.

sistem-kekebalan-tubuh-ikan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi respon kekebalan tubuh pada ikan antara lain: suhu, kondisi stress, keseimbangan nutrisi, pollutan, mikro-nutrien, dan unsur-unsur immunomodulator. sangat jelas bahwa kekebalan tubuh sangat beragam, dan beberapa diantaranya bersifat alamiah sehingga relatif sulit untuk dikendalikan.

Suhu

Ikan merupakan hewan poikilotermik. Proses fisiologi yang terjadi dalam tubuh ikan sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Sebagian besar mekanisme pertahanan tubuh adalah sangat bergantung pada suhu (temperature-dependent), dan berkembang lebih cepat pada suhu lingkungan yang optimal untuk organsime bersangkutan. Suhu rendah diketahui sebagai faktor pembatas dalam proses metabolisme organisme, termasuk proses induksi kekebalan tubuh. Namun demikian, suhu yang terlalu tinggi juga dapat menekan fungsi kekebalan tubuh (immunosupressive).

Proses reaksi antigen-antibodi yang dimulai dengan cellular co-operation antara sel makrofag dengan sel limfosit adalah sangat dipengaruhi oleh suhu (temperature-sensitive). Fungsi normal sel limfosit ikan sangat tergantung pada adaptasi homoviscous dari kondisi lipid membrane sel. Komposisi asam lemak dan suhu lingkungan merupakan faktor yang akan sangat berpengaruh terhadap “fluidity” dan permeabilitas membrane sel, dan juga terhadap aktivitas antara membrane-associated receptors dengan enzyme. Beberapa hasil kajian juga telah membuktikan bahwa respon kekebalan tubuh (CMI dan humoral) ikan berlangsung relative lambat pada suhu rendah.

Kondisi stress

Stress sangat berpengaruh terhadap status kesehatan ikan. Stress dapat disebabkan oleh faktor biologis, kimiawi maupun fisik. Imunodepresi diketahui sebagai faktor sekunder yang berpengaruh terhadap respon suatu organsime terhadap stress. Banyak hal dalam proses produksi ikan yang dapat mengakibatkan stress seperti transportasi, kepadatan, penanganan/sorting, dan kualitas air yang buruk dapat mengakibatkan respon stress terhadap ikan. Apabila terjadi stress, ikan akan bereaksi dengan mensekresi hormon stress (corticosteroids) dalam jumlah yang cukup tinggi, dan hormon tersebut diketahui sebagai unsur immunosuppresive. Hormon glukokortikoid menghambat kerja interleukin yang sangat berperan dalam proses pematangan sel B menjadi sel plasma penghasil antibodi. Respon stress akan diikuti dengan penurunan kadar limfosit dalam darah, dan juga di dalam organ-organ limfoid.

Beberapa respon (stress alarms) yang terjadi apabila ikan mengalami tekanan:

  1. Peningkatan gula darah akibat sekresi hormon dari kelenjar adrenalin. Persediaan gula, seperti glycogen dalam hati dimetabolisme sebagai persediaan energi untuk emergensi.
  2. Osmoregulasi kacau akibat perubahan metabolisme mineral. Pada kondisi tersebut, ikan air tawar cenderung mengabsorbsi air dari lingkungan (over-hydrate). Ikan air laut cenderung kehilangan air dari dalam tubuh (dehydrate). Kondisi ini perlu energi ekstra untuk memelihara keseimbangan osmoregulasi.
  3. Pernafasan meningkat, tensi darah meningkat, dan persediaan sel darah merah direlease ke sistem resirkulasi.
  4. Respon inflamasi ditekan oleh hormon yang dikeluarkan dari kelenjar adrenalin.

Dari beberapa respon fisiologis tersebut di atas, sehingga akan sangat jelas bahwa kondisi stress sangat berpengaruh terhadap respon kekebalan pada tubuh ikan, pengaruh langsung yang terjadi antara lain:

  1. Stress mengakibatkan perubahan kimiawi pada mukus yang berakibat menurunnya efektivitas pertahanan kimiawi terhadap infeksi patogen.
  2. Handling stress menyebabkan mukus terlepas dari tubuh ikan, sehingga menurunkan kemampuan proteksi kimiawi, fungsi osmoregulasi (pada saat yang sama sangat dibutuhkan), menurunkan potensi pelumasan sehingga ikan perlu energi lebih banyak untuk berenang, dan mengacaukan pertahanan fisik terhadap infeksi patogen.
  3. Chemical stress (i.e. Pengobatan penyakit ikan) sering merusak mukus yang berakibat hilangnya pertahanan kimiawi mukus, menurunnya fungsi osmoregulasi, fungsi pelumasan, dan pertahanan fisik mukus.

Polutan dan logam berat

Unsur-unsur polutan dan logam berat diketahui memiliki potensi yang besar terhadap sistem kekebalan tubuh, dengan akibat yang sangat variatif tergantung pada jenis (kualitas) dan kuantitas dari polutan atau logam berat tersebut. Obat-obatan atau bahan kimia/antibiotik juga dapat berperan sebagai unsur immunosupressive.

Jenis bahan kimia tertentu (pestisida, insektisida, pollutan limbah industri, limbah rumah tangga, dll.) dapat menyebabkan ikan sakit dengan berbagai kondisi. Kolam-kolam ikan di daerah dataran rendah, umumnya memperoleh sumber air dari aliran sungai yang melewati daerah pemukiman, daerah industri atau pertanian. Sebelum masuk ke kolam budidaya, air tersebut membawa segala limbah eksternal yang terkandung di dalamnya. Limbah tersebut dapat berupa padatan terlarut hasil pengikisan/erosi tanah permukaan akibat pengelolaan lahan yang kurang baik atau unsur-unsur kimia yang berbahaya bagi kehidupan ikan, terutama logam berat.

Logam berat yang cukup berbahaya bagi kehidupan ikan karena sifat toksisitasnya, berturut-turut antara lain meliputi: Hg, Cd, Cu, Zn, Ni, Pb, Cr, Al dan Co. Sifat racun dari masing-masing logam berat tersebut dapat meningkat apabila komposisi ion-ion di dalam air terdiri dari jenis-jenis ion yang sinergetik, dan sebaliknya melemah apabila kandungan ion-ion tersebut bersifat antagonistik. Nilai pH air juga berpengaruh pada tingkat kelarutan ion-ion logam, umumnya tingkat kelarutan dan aktivitas ion logam akan meningkat pada pH air yang rendah. Sebagai gambaran, pengaruh unsur Hg terhadap ikan dapat meracuni sistem syaraf ikan; dan unsur Cd bersifat cyto-toksikan terhadap jaringan insang ikan.

Kontaminasi ringan unsur logam berat di lingkungan perairan akan dideposit oleh ikan-ikan induk kemudian dikonsentrasikan dalam minyak yang tersimpan dalam telur-telur mereka. Kontaminasi demikian pada akhirnya akan mematikan telur-telur tersebut pada saat berkembang sebelum menjadi larva, dan lain-lain.

Selain limbah ekternal, limbah internal yang berasal dari aktivitas budidaya juga merupakan agen kemikal yang sering menjadi sumber masalah, seperti CO2, NH3, H2S, dll. Pada level konsentrasi tertentu, unsur-unsur tersebut akan menjadi pemicu stress; dan apabila terus meningkat dapat mengakibatkan kematian ikan. Keseluruhan dari unsur polutan dan logam berat tersebut akan berpengaruh terhadap efektivitas sistem kekebalan tubuh ikan.

Keseimbangan nutrisi

Kecukupan pakan (kualitas dan kuantitas) sesuai dengan kebutuhan optimal ikan sangat berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh ikan. Kondisi ini juga sangat nyata terhadap optimalisasi pertumbuhan serta menjamin kualitas pangan asal ikan bagi kebutuhan konsumsi manusia.

Mikro nutrien

Anti oksidan seperti vitamin C dan E vitamin E (a-tocopherol) dan unsur imunostimulan lainnya seperti Glukan, Lipopolisakarida, dll.; dimana materi biologis tersebut telah terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan terutama sistem pertahanan non-spesifik (cellular immunity). Unsur-unsur imunostimulan tersebut telah terbukti sangat potensial sebagai unsur yang memiliki pengaruh sangat baik (immunomodulatory) terhadap sistem kekebalan tubuh ikan apabila diberikan pada dosis yang tepat dan berkelanjutan. Kandungan unsur karotin dalam diet pakan ikan juga menunjukkan pengaruh yang baik terhadap status kesehatan ikan, terutama ikan-ikan berpigmen.

Immunomodulators

Adjuvant merupakan unsur yang apabila dicampur dengan antigen untuk keperluan vaksinasi akan meningkatkan efektivitas vaksin (meningkatkan level respon kekebalan spesifik), dan juga dapat melipatgandakan produksi sel-sel fungsional yang berperan dalam sistem kekebalan non-spesifik. Umumnya unsur adjuvant berperan sebagai materi yang dapat memperlambat proses pelepasan antigen, sehingga antigen akan kontak lebih lama dengan sel makrofag dan limfosit; sehingga akan meningkatkan kualitas respon kekebalan spesifik (antibodi) yang dihasilkannya. Prinsip pemberian unsur adjuvan ke dalam vaksin adalah untuk tujuan tersebut.

Seperti halnya mikro-nutrient, beberapa unsur yang bersifat immunostimulator seperti vitamin C dan E vitamin E (a-tocopherol) dan unsur imunostimulan lainnya seperti Glukan, Lipopolisakarida, muramil peptida, lipopolisakarida, dll. juga telah terbukti sangat bermanfaat sebagai unsur imunomodulator; terutama sistem pertahanan non-spesifik.

Sumber: Materi Pelatihan Vaksinator Ikan, BBPBAP Jepara 17-20 September 2012

Jenis-jenis Ikan Baung

Secara biogeografi, marga Hemibagrus diketahui menyebar luas di sebelah timur lembah Sungai Gangga – Brahmaputra dan di selatan aliran Sungai Yangtze. Ragam jenis yang tertinggi berkembang di wilayah Paparan Sunda.

Berikut ini adalah tabel spesies anggota marga Hemibagrus menurut daftar yang disusun Ferraris (2007)

Spesies Author Penyebaran Nama umum
Hemibagrus baramensis (Regan, 1906). Endemik di Sungai Baram, Serawak.
H. bongan (Popta, 1904) Endemik di aliran sungai-sungai Kapuas, Rajang dan Baram, Kalimantan bagian barat.
H. caveatus Ng, Wirjoatmodjo & Hadiaty, 2001 Endemik di sekitar lembah Sungai Alas, Aceh
H. centralus Mai, 1978 Vietnam bagian utara
H. chrysops Ng & Dodson, 1999 Terbatas di aliran sungai-sungai Sadong dan Rajang, Serawak.
H. filamentus (Fang & Chaux, 1949) Lembah sungai Mekong bagian tengah dan hilir
H. fortis (Popta, 1904) Kalimantan
H. furcatus Ng, Martin-Smith & Ng, 2000 Lembah sungai Segama, Sabah
H. gracilis Ng & Ng, 1995 Wilayah Endau-Rompin, Semenanjung Malaya
H. guttatus (La Cepède, 1803) Cina selatan dan Laos
H. hainanensis (Tchang, 1835) Hainan
H. hoevenii (Bleeker, 1846) Sungai-sungai Kapuas dan Baram (Kalimantan bagian barat), Musi dan Batanghari (Sumatra bagian timur), serta lembah sungai Muar, Semenanjung Malaya.
H. hongus Mai, 1978 Vietnam bagian utara
H. imbrifer Ng & Ferraris, 2000 Lembah sungai Salween, Thailand
H. johorensis (Herre, 1940) Semenanjung Malaya dan Sumatra
H. macropterus Bleeker, 1870 Cina selatan
H. major Roberts & Jumnongthai, 1999 Phetchabun, Thailand.
H. maydelli (Rössel, 1964) Sungai Khrisna, India
H. menoda (Hamilton, 1822) Sungai-sungai Gangga, Brahmaputra, Mahanadi dan Godawari di India dan Bangladesh
H. microphthalmus (Day, 1877) Sungai-sungai Manipur (India), Irawadi dan Sittang (Burma), serta Salween (Thailand)
H. nemurus (Valenciennes, 1840) Jawa,Riau (Sungai Siak, Sungai Kampar) dan kemungkinan pula wilayah-wilayah di sekitarnya. Baung putih, Baung Sungai, Baung tikus, baung Murai
H. olyroides (Roberts, 1989) Endemik di aliran Sungai Kapuas, Kalbar
H. peguensis (Boulenger, 1894) Sungai-sungai Irawadi, Sittang dan Pegu (Burma),
H. planiceps (Valenciennes, 1840) Terbatas di Jawa Baung kuning
H. pluriradiatus (Vaillant, 1892) Cina selatan dan Laos
H. punctatus (Jerdon, 1849) Tamil Nadu dan Mysore, India
H. sabanus (Inger & Chin, 1959) Terbatas di sekitar Sungai Kinabatangan, Sabah
H. spilopterus Ng & Rainboth, 1999 Lembah sungai Mekong bagian hilir.
H. variegatus Ng & Ferraris, 2000 Lembah sungai Tenasserim, Burma
H. velox Tan & Ng, 2000 Sungai-sungai di Sumatra tengah
H. vietnamicus Mai, 1978 Laos dan Vietnam bagian utara
H. wyckii (Bleeker, 1858) Lembah sungai Mekong dan Chao Phraya, serta di wilayah Paparan Sunda Baung kunyit
H. wyckioides (Fang & Chaux, 1949) Kamboja, Laos, Thailand dan Cina selatan

Sumber ; https://id.wikipedia.org/wiki