KENALI GEJALA IKAN NILA YANG TERINFESKSI VIRUS TiLV(Tilapia Lake Virus) DAN CEGAH PENYEBARANNYA

Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu jenis ikan tawar yang saat ini banyak
dikembangkan pada usaha budidaya secara intensif. Ikan ini mudah pemeliharaannya, laju
perkembangbiakan dan pertumbuhan cepat, mudah beradaptasi terhadap kualitas air dan pH
pada lingkungan air tawar dan payau.
Saat ini dibeberapa negara penghasil Nila di dunia sedang mengalami wabah penyakit
Tilapia lake virus (TiLV) yang disebabkan oleh serangan Orthomyco-lake virus, genus baru family
Orthomyxoviridae . Virus ini hanya menyerang ikan Nila spesies Sarotherodon galilaeus, Tilapia
zilli, Oreochromis auratus, Tristamella simonies intermidia, persilangan Oreochromis nilotocus X
Oreochromis auratus.

Penyakit ini termasuk penyakit baru, belum banyak data mengenai pengobatan maupun
pengendaliannya, ikan yang bertahan dari mortalitas penyakit ini menjadi kebal terhadap infeksi
TiLV. Virus ini sangat ganas, ikan yang terserang penyakit ini hanya mampu bertahan 4 – 7 hari
setelah terinfeksi. Kematian terbesar biasanya ditemukan 1 (satu) bulan setelah dipindahkan
dari hactchery ke kolam pembesaran atau karamba. Air bisa merupakan media untuk
menyebaran Virus TiLV. Kematian tertinggi (20-90%) terjadi pada ikan Nila dengan berat
1-50 gr. Tsofack et al., 2016; Surachetpong et al., 2017
Penyakit TiLV pertama kali dilaporkan menyerang ikan jenis Tilapia yang ada di danau
Kinneret (sea of Galilee) dan ikan budidaya di Israel pada tahun 2009. Beberapa tahun kemudian
dilaporakan ikan Tilapia di Ekuador juga mengalami kematian massal dan diketahui bahwa ikan –
ikan tersebut juga telah terjangkit penyakit TiLV. Di Indonesia pada tahun 2016 di Pulau
Lombok terjadi kematian massal yang mengakibatkan penurunan produksi ikan Nila hasil
budidaya pembudidaya ikan, yang mana setelah dilakukan uji laboratorium terindikasi virus TiLV.
Penyakit ini disebabkan oleh serangan Orthomyxo-like virus. Di Israel virus ini diketahui
menyebabkan kerusakan otak dan sistem syaraf sedangkan di Ekuador menyebabkan kerusakan
hati ikan.

Adapun ciri-ciri ikan Nila yang terserang TiLV, yakni tubuh ikan seluruh atau sebagian
besar terlihat berwarna hitam, bola mata membengkak, kornea mata menyusut dan cekung ke
dalam dan berkabut/katarak, kulit mengalami erosi, dan jika dilihat pada bagian anatomi, rongga
perut terlihat membengkak, sumber. Eyngor et al, 2014. Ciri lain ikan Nila yang terserang TiLV
adalah latergi (keadaan lemah tidak ada dorongan untuk bergerak), anemia, nafsu makan
menurun, berenang dipermukaan (Kibengeedan Godoy, 2016, ; Bacharach et al., 2016).
Sedangkan ikan Nila yang sehat ciri-cirinya warna kulit cerah, mata jernih dan cerah, kulit
sedikit berlendir, dan bentuk perut mendatar. Cara penularan bisa melalui media air yang sudah
terkontaminasi virus TiLV dan kontak antar ikan yang sudah terjangkit.
Faktor pemicu virus TiLV adalah suhu air dan kepadatan yang tinggi menyebabkan wabah
terjadi diatas 25°C , tidak menyebabkan kematian dibawah 20°C, puncak kematian massal
terjadi pada suhu 30°C. Kematian ikan akan terjadi lebih sering dan lebih besar pada perairan
yang tertutup dibandingkan dengan perairan umum.
Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan ; Memperketat pemilihan calon
induk maupun ikan Tilapia dari Luar negeri, khususnya negara yang sudah terjangkit penyakit
TiLV. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BKIPM (Badan Karantina Ikan dan
Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) telah menerbitkan surat pemberitahuan atau
peringatan akan waspada nila dari negara terjangkit dengan menolak impor nila dan melakukan
pengecekan laboratorium pada nila impor. Para pembudidaya harus menerapkan prinsip-prinsip
cara pembenihan maupun cara budidaya yang baik dengan disiplin dan ketat, menjaga padat
penebaran dan kelayakan kualitas air. Untuk sementara waktu tidak melakukan kegiatan
penebaran benih Tilapia di perairan umum.
Menurut BKIPM, seperti dirangkum dari efishery, ada empat tahapan prosedur karantina
yang dapat dilakukan untuk mencegah wabah virus Tilapia ini, dan juga berbagai hama
penyakit ikan lainnya.

Pertama, pemeriksaan. Pada skala impor nasional, di tahap ini dilakukan pemeriksaan
administrasi, dalam artian memeriksa kelengkapan dokumen impor. Selain itu, pengecekan ikan
secara langsung juga dilakukan. Dalam hal TLV, dilihat apakah warna kulit gelap dan mata
bengkak. Pada ikan lain bisa diantisipasi adanya penampakan luka dan perilaku ikan yang kurang
aktif.
Kedua, pengamatan. Pengamatan adalah tindakan pemeriksaan lebih lanjut. Selain
melihat gejala visual yang lebih kecil (contohnya melihat adanya kutu air kecil pada insang atau
benjolan permukaan kulit), pengamatan menggunakan mikroskop juga perlu dilakukan.
Pengujian mikroskopis ini dapat dilakukan di laboratorium balai.
Ketiga, pengasingan. Pengasingan atau isolasi dilakukan untuk mengantisipasi
kemungkinan penyakit yang memerlukan waktu lama untuk sampai muncul gejala. Contohnya,
inkubasi Koi Herpes Virus (KHV) memakan waktu 3 hari setelah terjadi infeksi sampai gejalanya
dapat teramati. Isolasi membantu agar penyakit tidak menyebar ke ikan yang sehat. Jika
terbukti sehat, ikan boleh dilepas ke media budidaya, jika tidak maka ikan harus dimusnahkan.
Keempat, pemusnahan. Tujuan dari pemusnahan adalah memutus rantai penyebaran
penyakit. Hal ini mungkin dilihat sebagai tindakan yang merugikan tapi jika tidak dilakukan maka
akan menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Ikan yang dimusnahkan termasuk ikan hidup
(segar atau beku) dan ikan mati.
Dengan semakin berkembangnya jenis-jenis penyakit ikan karantina di luar negeri, serta
dalam rangka pelaksanaan pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit ikan karantina,
Menteri Kelautan dan Perikanan telah membuat Keputusan Menteri sebagai regulasi yang
ditetapkan dan akan menjadi dasar atau acuan yang ditetapkan. Keputusan Menteri itu tertuang
dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia NOMOR 91/KEPMENKP/2018 tentang Penetapan Jenis-jenis Penyakit Ikan Karantina, Golongan, dan Media Pembawanya

Penulis (NUR’AINI MUSLIMAH,S.Pi)
Analis Laboratorium Balai KIPM Banjarmasin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s