Tingkatkan Produksi Lele Di Lahan Terbatas, KKP Kembangkan Metode Bioflok

KKPNews, Bandungan – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong penyebaran teknologi bioflok untuk budidaya lele. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menjelaskan, teknologi bioflok telah terbukti meningkatkan produksi lele di lahan yang terbatas. Disamping itu, budidaya lele menjadi lebih ramah lingkungan, hemat dalam penggunaan air dan pakan serta dapat dilakukan di lahan yang terbatas.

“Ini adalah wujud dari keselarasan pembangunan perikanan budidaya dengan tiga pilar pembangunan yaitu meningkatkan kedaulatan dalam arti kemandirian pembudidaya, mendukung keberlanjutan dalam hal usaha budidaya dan lingkungan serta mampu meningkatkan kesejahteraan pembudidaya”, ungkap Slamet saat melakukan percontohan budidaya lele system bioflok di Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Karya Mina Sejahtera Bersama di Desa Duren, Kec. Bandungan, Kab. Semarang, Kamis (25/8).

Slamet menambahkan bahwa budidaya lele dengan sistem bioflok ini efektif dan mampu mendongkrak produktifitas lahan. Dengan lahan yang terbatas, produksi lele masih dapat di tingkatkan, disamping itu biaya produksi juga dapat di tekan dan waktu budidaya juga lebih singkat, jika dibandingkan dengan budidaya lele dengan cara konvensional.

“Sebagai gambaran, satu lubang atau satu kolam bioflok dengan kapasitas air 10 m3, dengan modal kurang lebih Rp. 5 juta rupiah, dapat di panen lele kurang lebih sebanyak 1 ton secara parsial selama kurun waktu 2,5 bulan. Apabila harga lele konsumsi adalah Rp. 15 ribu per kilogramnya, maka akan dapat diperoleh hasil kurang lebih Rp. 15 juta. Jadi pembudidaya akan mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 10 juta, selama kurun waktu 2,5 bulan untuk wadah satu lubang”, papar Slamet.

Produksi lele secara nasional dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2011 – 2015) mengalami peningkatan 21,31 % per tahun. Dari 337.577 ton pada tahun 2011, menjadi 722.623 ton pada 2015. “Peningkatan produksi lele per tahun yang mencapai 21,31 % ini merupakan kenaikan terbesar di bandingkan dengan komoditas air tawar lainnya seperti nila, mas, patin dan gurame. Ini juga menjadi bukti bahwa pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan serta efisien, mampu meningkatkan produksi ikan”, ungkap Slamet. (MD)

sumber : http://news.kkp.go.id/index.php/tingkatkan-produksi-lele-di-lahan-terbatas-kkp-kembangkan-metode-bioflok/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s