KKP Dorong Budidaya Berbasis One Region One Commodity

KKPNews, Banjarnegara – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan fokus pada klastersisasi kawasan budidaya. Hal ini dilakukan guna pengembangan potensi perikanan budidaya di daerah yang sangat beragam, dengan pengelolaan yang spesifik. Klasterisasi ini diharapkan akan memicu pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang berbasis perikanan budidaya. Tujuannya untuk mendorong pengembangan kawasan budidaya sesuai komoditas spesifik atau dengan istilah one region, one commodity.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengungkapkan, banyak daerah di Indonesia yang memiliki potensi pengembangan one region, one commodity. Misalnya Kabupaten Banjarnegara yang memiliki potensi pengembangan budidaya air tawar yang besar. Daerah ini juga memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap produksi perikanan budidaya di Provinsi Jawa Tengah. Tercatat, tahun 2015 produksi perikanan budidaya di Kabupaten Banjarnegara mencapai 17.874 ton atau memberikan share sebesar 4,3% terhadap total produksi perikanan budidaya Provinsi Jawa Tengah, yang mencapai 421.022 ton. Angka ini memiliki peluang untuk didorong, mengingat potensi pengembangan masih terbuka untuk digarap.

Menurut Slamet, Banjarnegara dapat dijadikan model pengembangan klaster ini, mengingat potensi pengembangan cukup banyak dan beragam, khususnya untuk sentral budidaya air tawar di kolam dan sentra pengembangan minapadi. “Kita akan bangun kawasan-kawasan yang terintegrasi sehingga lebih efektif dan efisien dalam pengelolaan, dan secara langsung akan menjamin kesinambungan siklus usahanya,” jelas Slamet.

Sentral-sentral kawasan perikanan budidaya  yang saat ini telah menjadi model tersebut, antara lain Kabupaten Sleman dengan unggulan minapadi; Kabupaten Boyolali dengan unggulan lele; Kabupaten Kampar dengan unggulan patin; dan daerah-daerah lain yang akan didorong melalui program kebijakan serupa. Untuk itu menurutnya, perlu adanya komitmen dan tanggung jawab dari berbagai pihak dalam mendukung berjalannya siklus bisnis pada setiap mata rantai mulai dari hulu hingga hilir.

Salah satu program strategis yang dikembangkan saat ini adalah minapadi. Konsep minapadi memberikan keuntungan ganda secara ekonomi. Di samping itu, konsep ini telah sejalan dengan prinsip pengelolaan perikanan budidaya berkelanjutan berbasis ekosistem. Indonesia tercatat sebagai pionir pengembangan minapadi di dunia, dan hingga kini telah menjadi rujukan model oleh negara lain khususnya di level Asia Pasifik.

Sejak tahun 2014, FAO telah menginisiasi kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui program FAO Regional Initiative “Sustainable Intensification of Aquaculture for Blue Growth on Asia-Pasifik”. Konsep minapadi memiliki peran penting terutama dalam menopang ketahanan pangan nasional, dan telah secara nyata mampu menggenjot produktivitas padi dan ikan yang dibudidayakan. Apalagi menurut Slamet, Indonesia memiliki potensi lahan sawah seluas 8 juta ha dengan potensi minapadi seluas 4,9 juta Ha.

Sebagai gambaran, dalam 1 (satu) Ha lahan minapadi dapat dihasilkan produksi padi sebanyak 7-8 ton per siklus, dan tambahan produksi ikan sebanyak 1,5-2 ton per siklus. Artinya masyarakat akan mampu meraup pendapatan setidaknya senilai Rp72 juta per tahun atau Rp6 juta per bulan. Dengan kata lain, petani akan mendapatkan nilai tambah pendapatan sebesar 50% dibanding sebelum menerapkan konsep minapadi. Jika potensi lahan minapadi dapat dioptimalkan, akan didapatkan paling tidak produksi padi sebanyak 68 juta ton per tahun dan produksi ikan sebanyak 9,8 juta ton per tahun. Angka ini tentunya akan mampu mendongkrak kebutuhan pangan dan gizi masyarakat secara nasional.

Inovasi teknologi lainnya yang tengah didorong yaitu budidaya lele sistem bioflok. Intensivikasi teknologi yang mengandalkan oksigen dan probiotik ini, mampu menggenjot produktivitas hingga 3 kali lipat dari teknologi konvensional. Secara ekonomi dari 1 unit usaha (25 lubang) mampu menghasilkan produksi lele siap konsumsi sebanyak 11,2 ton per siklus, atau dengan kata lain pembudidaya dapat meraup keuntungan bersih sekitar Rp650 juta per tahun atau sekitar Rp54 juta per bulan.

Slamet mengungkapkan, tahun 2017 ini, pengembangan lele bioflok akan diarahan untuk pemberdayaan masyarakat pesantren melalui program “bioflok masuk pesantren”. “Program ini sangat penting dalam rangka turut serta membangun ekonomi umat, apalagi kelembagaan pesantren menjadi media paling efektif untuk implementasi model one region, one commodity,” pungkas Slamet. (Humas DJPB/AFN).

Sumber : http://news.kkp.go.id/index.php/kkp-dorong-budidaya-berbasis-one-region-one-commodity/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s