Menyiasati Margin Budidaya Lele

Beragam cara dilakukan pembudidaya untuk menambah margin usaha budidaya lele. Margin keuntungan pembudidaya lele masih belum optimal dari berbagai komponen, baik mata rantai tata niaga yang panjang maupun tingkat efisiensi budidayanya. Masing–masing pembudidaya lele memiliki cara sendiri untuk memperoleh margin keuntungan yang lebih baik.

Margin keuntungan yang diperoleh pembuddidaya lele, tidak lepas dari harga lele. Berdasarakan pengakuan pembudidaya lele di berbagai daerah, saat ini (April 2017) harga lele di pasar berkisar antara Rp 23 – 25 ribu per kg. Namun harga tersebut bukanlah harga lele yang diterima pembudidaya di kolam. Harga lele di kolam masih berkisar antara Rp 15.000 – Rp 16.000 per kg.

Jika dihitung, saat harga bagus seperti sekarang pun pembudidaya lele hanya bisa meraup keuntungan Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg. Terlebih jika harga lele dibawah Rp 15 ribu per kg, bisa-bisa pembudidaya hanya menikmati keuntungan Rp 1.000 – Rp 2.000 per kg atau bahkan kurang dari itu.

Dalam satusiklus budidaya antara 2-3 bulan, kebanyakan pembudidaya mengaku rata-ratamengantongi margin sekitar Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg saat harga bagus. Misalnya saja Suganda Pembudidaya Lele Asal CirebonJawa Barat, mengakui rata-rata margin yang ia dan plasmanya peroleh sekitar Rp 3.000 per kg.

”Saya paling dapat margin sekitar Rp 3.000 per kg kalau harga di kisaran Rp 15.00 per kg, dengan biaya produksi Rp 12.000 per kg, kalau bisa makin kecil biaya produksinya maka keuntunganya bisa lebih besar,” tutur Suganda. Ia menginformasikan saat ini (Akhir Maret) harga lele di kolam untuk wilayah Cirebon sekitar Rp 15.000 – Rp 15.500 per kg, harga ini sudah bertengger cukup lama dari pertengahan 2016 lalu.

Hal yang sama juga dialami Ridwan pembudidaya lele asal Parung, dengan biaya produksi sektar Rp 13.000 – Rp 14.000 per kg dan rata-rata harga di kolam sekitar Rp 16.000 per kg, ia mengantongi margin Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg. ”Kita disini rata-rata HPP sekitar Rp 13.000 per kg, udah hampir setahun harga lumayan bagus di kisaran Rp 16.000 per kg tapi ya keuntungan kami paling masih dikisaran Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg,” ujar Ridwan.

Muhammad Amir pembudidaya lele asal Pekalongan Jawa Tengah yang kini pindah ke Cibinong, menilai margin Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg dirasa belum adil. ”Ini kurang adil bagi pembudidaya, kalau tengkulak atau pedagang di pasar bisa dapat Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg juga padahal ngangkat waktunya satu hari saja, harusnya pembudidaya bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar karena sudah menunggu 2 – 3 bulan sampai panen,” ungkap Amir. Idealnya menurut Amir, pembudidaya bisa menikmati keuntungan Rp 4.000 – Rp 5.000 per kg, agar pembudidaya dapat lebih sejahtera.

Tata Niaga

Tata niaga digadangmenjadi biang keladi yangmemangkas margin keuntungan pembudidaya lele. Harus dicermati bagaimana rantai tata niaga lele yang masih harus melewati beberapa jalur. Diungkapkan Arvian Muhammad Technical Sales Fish Feed SPV  PT Central Pangan Pertiwi (CPP), rantai tata niaga lele saat ini beragam dan rata-rata sekitar 3-4 leveldari mulai pembudidaya sampai ke konsumen akhir.

Lebih jauh ia menjelaskan,rantai tata niaga lele kalau di Parung Bogor biasanya dari pembudidaya itu ke bandar yang bertindak sebagai inti juga merupakan pembudidaya besar, kemudian dari bandar akan diteruskan ke tengkulak atau pengepul. Setelah itu dari pengepul dibawa lagi ke pengecer/pedagang di pasar atau langsung ke pecel lele, dari pedagang dipasar baru dijual ke konsumen ibu rumah tangga atau tukang sayur.

Menurutnya,fungsi dari bandar yang kebanyakan juga merupakan inti dari pembudidayaplasmanya untuk memastikan ketersediaan stok ikannya. ”Kalau pasar kan maunya kontinu, jadi perlu ada yang memastikan stoknya di kolam, nah ini peran dari bandar, kalau pengepul atau tengkulak perannya lebih ke sortir, karena kan permintaan pasar beda-beda ukurannya, peran mereka membagi permintaan sesuai ukuran,” terang Arvian.

Sehingga jangan heran jika harga lele di konsumen akhir berkisar antara Rp 23 – 25 ribu per kg, padahal harga di kolam hanya Rp 15.000 – Rp 16.000 per kg. Selisih harga antara Rp 7.000 – Rp 9.000 per kg saat ini masih dinikmati oleh bandar, tengkulak/pengepul,dan pengecer (pedagang di pasar) yang rata-rata mengambil keuntungan Rp 1.000 – Rp 3.000 per kg. Alhasil yang bisa dinikmati pembudidaya hanya Rp 2.000 – Rp 3.000 per kg sebagai keuntungan bersih dari masa budidaya 2-3 bulan.

Lain lagi dengan Ibnu Subroto Ketua Umum Aplesi (Asosiasi Pembudidaya Lele Indonesia), menurutnya jika pembudidaya ingin memperoleh keuntungan yang bagus sebaiknya bisa langsung jual ke pasar. ”Tapi kebanyak gak telaten dan sudah capek produksi,sehingga dijual ke pengepul saja,” ujar Ibnu. Padahal ia yakin jika pembudidaya mau dan telaten bisa diusahakan untuk menjual langsung ke pasar meskipun dalam skala kecil asalkan kontinu.

Adalah Ridwan yang berkeinginan mencoba menjual langsung lelenya ke pasar, dengan membuka lapak di pasar. Namun niat ini belum bisa ia lakukan karena terkendala permintaan yang beragam ukurannya kalau langsung dijual ke pasar, sedangkan dari kolam biasanya ia jual ke pengepul/tengkulak dalam jumlah besar,dan semua ukuran.

’Bagi-bagi rezeki sekalian memang mereka bertugas untuk menyortir ikannya sesuai permintaan pasar, karena beda-beda ukurannya, kalau untuk pecel lele mereka biasanya minta di ukuran se kg isi 6-8 ekor, kalau untuk tukang sayur minta ukuran yang lebih kecil 1kg isi 10, kita punya kesimpulan akhirnya gak mudah juga mengaturnya kalau langsung jual ke pasar,” ujar Ridwan. Meskipun suatu hari nanti ia masih berharap bisa punya lapak di pasar untuk langsung lele hasil panen di kolamnya.

Terkait tata niaga lele, menurut Amir persoalannya ada pada middle man yang berada diantara pembudidaya dan end user. Amir mengungkapkan adanystengkulak atau middle man ini karena pola budidaya yang kurang sehat. ”Yang namanya kebutuhan dipasar kan rutin, pola pembayaran di pasar secara umum tidak cash, tinggal satu nota, kita kirim hari ini baru dibayar yang kemarin. Pasar menuntut jaminan kontuinitas mau bayar setelah ada kiriman lagi, nah masalahnya kan kalau pembudidaya yang punya 4,5 atau 10 kolam tidak bisa panen kontinu tiap hari, seandainya kita bisa panen secara rutin itu bisa memutus middle man,” tukas Amir.

Amir mencoba mengurai permasalahan ini, menurutnya salah satu strategi mengatasinya dengan menerapkan model kawasan. Lanjut dia, konsepnya pembudidaya berkumpul dalam satu kawasan/satu desa atau kampung dengan mengatur tanggal tebar benih agar waktu panennya bisa diatur, jadi setiap hari bisa kontinu panen,” ujar Amir.

Ia menganjurkan menerapkan close sirkuit farming yakni dalam satu kawasan terdapat usaha pembenihan, pendederan, dan pembesaran, bahkan olahan. Dengan sistem ini diharapkan terbentuk satu pola tata niaga yang berpihak pada pelaku usaha budidaya lele serta menaikan posisi tawar pembudidaya terhadap pasar.

Menekan HPP

Tak hanya tata niaga saja yang harus diperbaiki, tugas pembudidaya juga untuk menekan biaya produksi jika ingin memperoleh margin yang lebih baik. Jika ngin menekan biaya produksi tentu harus dilakukan efisinesi atau strategi tertentu.

Misalnya saja Suganda bersama dengan plsamanya, yang kini bisa panen sekitar 1,5 ton per hari membuat strategi untuk menghasilkan HPP lele yang rendah agar dapat bersaing sekaligus memperoleh margin keuntungan lebih besar. ”Strategi kami disini dengan menggunakan benih ukuran kecil sekitar 2 cm yang harganya murah sekitar Rp 20 – 25 per ekor, walaupun masa budidayanya jadi lebih panjang harusnya kalau benih besar bisa 2 bulan ini kita baru panen sekitar 2,5 sampai 3 bulan,” ungkap Suganda.

Jurusnya dan kelompok menggunakan benih lele ukuran kecil dia percaya efektif menurunkan biaya produksi. Suganda merinci, jika kita pakai benur ukuran besar misalnya 10 -12 cm yang harganya Rp 300 per ekor, untuk benur kita sudah keluarkan uang Rp 3.000 per kg (kalau mau panen ukuran 1 kg isi 10).

Belum lagi untuk pakan, menurutnya rata-rata FCR(konversi pakan)sekitar 1 – 1,1 kalau harga pakan sekitar Rp 9.000 per kg, pakan dan benur saja sudah hampir Rp 12.000 per kg, belum lagi probiotik, obat-obatan, ongkos tenaga kerja, dan lainnya. ”Kita bisa hitunglah pakan Rp 9.000, benih Rp 3.000, obat-obatan, sama tenaga kerja biaya produksi bisa Rp 13.000 – Rp 14.000 per kg, karena kita disini pakai benih kecil yang harganya murah makanya kita bisa HPP di Rp 11.500 – Rp 12.000 per kg,” ungkap Suganda.

Kalau Suganda mampu mencetak lele dengan biaya produksi Rp 11.500 – Rp 12.000 per kg, lain lagi dengan Ridwan pembudidaya Lele asal Parung. Ia menggunakan benur ukuran besar seperti yang disebutkan Suganda, dengan ukuran benur 9-10 cm atau 11-12 cm. ”Saya mengejar agar perputarannya cepat, kita bisa 2 bulan panen, kalau pakai benur ukuran kecil waktunya lebih lama dan risiko kematiannya juga lebih tinggi apalagi untuk di Parung kami gak bisa menggunakan benur kecil karena lingkungannya gak mendukung, kalau dipaksakan bisa banyak yang mati dan malah gagal budidayanya,” tutur Ridwan.

Starteginya di Parung untuk menekan HPP dengan mengkombinasikan pakan pabrikan dan pakan limbah. ”Kalau kita pakai full pelet biaya produksinya bisa sekitar Rp 13.500 – Rp 14.000 per kg, kalau kita campur dengan pakai pakan limbah HPP-nya bisa Rp 13.000 per kg,” ujar Ridwan.

Menambahkan Ridwan, Amir mengakui kalau HPP lele dipengaruhi berbagai faktor terutama pakan yang memegang komponen biaya terbesar. ”Kalau FCR pembudidaya bisa 0,8 – 0,85 maka HPP nya kita bisa Rp 11.000 – Rp 11.500 per kg, tapi kalau FCR-nya sekitar 1,1 HPP nya sekitar Rp 13.800 per kg itu sudah dihitung biaya penyusutan kolam, dekat rata-rata tingkat kelangsungan hidup (SR) 80%,” ujar Amir.

Sumber : http://www.trobos.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s