Benih Lele Masih Kurang Pasokan

Pembenihan lele di Indonesia kebanyakan masih dalam skala UPR, perlu ditingkatkan skala dan kualitasnya. Kalau pakan memegang komponen biaya terbesar, lain lagi dengan benih meski bukan biaya terbesar dalam budidaya namun merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya. ”Kalau kita dengerin cerita di lele banyak kegagalan baik konvensional maupun bioflok khususnya pemain baru yang gagal, yang paling utama kegagalan itu karena faktor benih,” ujar Muhammad Amir pembudidaya lele asal PekalonganJawa Tengah yang kini pindah ke Cibinong.

Menurutnya, rata-rata benih yang beredar di pembudidaya diperoleh dari pemijah/breeding lokal yang tidak mempunyai manajemen broodstock, dan akar masalahnya salah stunya pada ketersediaan induk yang qualified (memiliki kualifikasi baik) yang masih terbatas. “Di Indonesia produsen induk terbatas di 3 Balai, yakni Sukabumi, Sukamandi, dan Lombok, dari tiga produsen induk tidak bisa mengcover kebutuhan pembudidaya,” ujar Amir.

Diakui Imza Hermawan salah satu pembenih lele asal Bogor, yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), bahwa saat ini walaupun sudah ada indukan lele sangkuriang 2, lele mutiara, dan lainnya tapi itu masih belum cukup. Ia berharap agar pemerintah harus lebih meningkatkan lagi kualitas indukan (Grand Parent Stock) lele yang lebih unggul untuk mendukung benih yang dihasilkan pembudidaya juga memiliki kualitas yang baik. “Saya berharap pemerintah punya program induk unggul yang terus menerus dan massif,” kata Imza berkeinginan.

Ia juga menginformasikan, saat ini untuk pembenihan lele di Indonesia kebanyakan masih dalam skala UPR (Usaha Pembenihan Rakyat) dengan skala rata-rata pembenih produksinya sekitar 100 ribu ekor per siklus. Padahal kebutuhan benih lele jumlahnya sangat besar seiring dengan peningkatan permintaan lele dan tren budidayanya.

Menambahkan Imza, Cecilia Eny Indriastuti Bendahara APCI membenarkan bahwa permintaan benih lele saat ini sangat tinggi. Dari hitung-hitungannya, jika pembudidaya di Parung produksinya total sekitar 60 ton per hari, paling tidak mereka memerlukan benih sekitar 1.250.000 ekor setiap harinya untuk wilayah Parung dan sekitarnya saja.

Padahal diketahui produksi benih masih mengandalkan pembenih UPR yang skala produksinya kecil, sekalipun ada juga perusahaan pakan yang juga memproduksi benih tetap saja masih kurang. ”Banyak benih lele masuk dari daerah lain seperti Boyolali dan Jawa Timur untuk memasok kebutuhan benih di Jawa Barat,” ujar Eny.

Sumber : http://www.trobos.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s