Nila GESIT 2017

Nila GESIT atau Genetically Supermale Indonesian Tilapia merupakan Inovasi teknologi perbaikan Genetik untuk menghasilkan keturunan ikan nila yang bekelamin jantan melalui program Pengembangbiakan yang menggabungkan teknik Feminisasi dan uji Progeni untuk nila jantan yang mempunyai kromosom YY (YY genotypes). Ikan nila Jantan dengan kromosom YY apabila dikawinkan dengan nila betina normal (XX) akan menghasilkan keturunan yang hampir seluruhnya berkelamin jantan (XY) atau GMT (Genetically Male Tilapia).

deni rusmawanILA

Ikan nila GESIT dengan kromosom YY memiliki keunggulan yakni 80-90% turunannya berkelamin jantan, sedangkan keunggulan secara ekonomis yaitu nila GESIT memiliki pertumbuhan yang cepat, yakni lima hingga enam bulan untuk mencapai berat 600 gram. Ikan nila berkelamin jantan tumbuh lebih cepat dibanding betinanya. Dengan demikian, produksi ikan nila dapat diarahkan pada produksi ikan nila berkelamin jantan (monosex male) yang dapat tumbuh lebih cepat untuk meningkatkan efisiensi usaha guna memenuhi permintaan pasar lokal dan ekspor.

Ikan nila GESIT dihasilkan melalui serangkaian riset panjang yang diinisiasi oleh Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT yang kemudian bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institus Pertanian Bogor (IPB) dan Balai Besar Perikanan Budi Daya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi di bawah Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP)

Nila gesit telah diproduksi di Balai Besar Perikanan Budi Daya Air Tawar Sukabumi dan selanjutnya dapat dikembangkan oleh pihak pemerintah dan swasta.

Lihat di youtube mengenai Nila GESIT

 

Ikan Nila dari Masa ke Masa

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang sangat populer dibudidayakan di Indonesia. Ikan nila ini juga merupakan salah satu jenis yang paling sering diteliti dan direkayasa genetiknya. Oleh karena itu, wajar saja bila saat ini masyarakat (pembenih dan pembudidaya ikan) mengenal banyak “jenis” ikan nila dengan beragam keunggulan yang ditawarkan.

Bila ditelusuri asal-usulnya, ikan nila merupakan ikan asli dari perairan sungai Nil di Mesir. Dari Mesir ikan yang mudah berkembang biak dan memiliki sifat yang toleran terhadap perubahan lingkungan ini berkembang ke negara lain di benua Afrika. Dari benua Afrika, lantas menyebar ke berbagai negara di belahan benua lainnya. Ikan nila pertama kali dimasukkan ke Indonesia dari Lukang Research Station Taiwan, oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat (LPPD) Bogor pada tahun 1969 untuk diteliti.

Nila Hitam

Setelah beberapa tahun diteliti dan dikembangbiakkan, ikan ini akhirnya disebarluaskan ke masyarakat untuk memperkaya jenis ikan budidaya di tanah air. Masyarakat ternyata menyambut antusias kehadiran ikan nila yang memiliki warna kehitaman ini. Maklum saja, jenis ikan ini memang mudah berkembang biak, memiliki pertumbuhan cepat, sangat toleran terhadap perubahan lingkungan, relatif tahan terhadap serangan penyakit serta bisa menyantap berbagai jenis pakan yang ada dan diberikan di wadah budidaya. Ikan nila yang kali pertama disebarluaskan oleh LPPD Bogor tersebut, dipanggil dengan nama ikan Nila saja tanpa embel-embel apa pun. Baru setelah muncul ikan nila merah di awal tahun 1980-an, ikan Nila dari LPPD tersebut dipanggil dengan nama ikan nila hitam. Nama panggilan ini semata-mata untuk membedakan dengan ikan nila warna merah yang belakangan muncul.

Nila merah  

Selain nila warna hitam, sekitar awal tahun 1980-an masyrakat juga mulai mengenal ikan nila warna merah. Ikan nila merah yang didatangkan dari Filipina ini merupakan tetra hibrid yakni hasil persilangan dari empat spesies berbeda dari genus Oreochromis yaitu: O. mossambicus (mujair), O. niloticus (nila), O. hornorum dan O. aureus (aurea). Pada akhir tahun 1980-an juga muncul nila merah yang didatangkan dari Thailand yang dikenal dengan nama Nila Chitralada.

Ikan nila merah yang beredar di masyarakat selain keturunan dari kedua jenis nila merah tersebut di atas, boleh jadi merupakan hasil persilangan dari keduanya atau persilangan dengan nila hitam yang sudah ada sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari makin beragamnya jenis nila merah. Ada yang warnanya merah, putih (albino), kombinasi merah dan albino, kombinasi merah dan hitam atau kombinasi dari warna-warna tersebut.

Nila GIFT dan GET

Pada pertengahan tahun 1990-an, Indonesia juga mendatangkan nila  dari Filipina yang dikenal dengan nama nila GIFT (Genetic Improvement of Farmed Tilapia) hasil dari pengembangan International Center for Living Aquatic Resources Management (ICLARM) di Filipina. Berikutnya, pada awal tahun 2000-an, Indonesia juga kembali mendatangkan ikan nila dari Filipina. Ikan nila hasil rekayasa genetika ini dikenal dengan nama nila GET (Geneticaly Enhanched of Tilapia).
Jenis ikan nila GIFT dan GET yang didatangkan dari  Filipina tersebut merupakan jenis ikan unggul karena dapat tumbuh bongsor sekitar 500 gram dalam waktu relatif singkat ( 4 – 5 bulan). Melihat kelebihannya ini, masyarakat lalu beramai-ramai memelihara kedua jenis ikan nila unggul ini. Maklum saja, selain untuk pasar dalam negeri, ternyata pasar luar negeri juga terbuka lebar untuk daging nila.

Nila JICA

Ikan nila unggul lainnya yang dikenal  masyarakat adalah ikan nila Jica yang diperkenalkan oleh Balai Budi Daya Air Tawar (BBAT) Jambi. Nila jica merupakan hasil rekayasa genetika yang dilakukan sejak tahun 2002. Proyek ini sepenuhnya dibantu oleh JICA (Japan for International Cooperation Agency) sebuah lembaga donor Pemerintah Jepang, karena itu pula jenis nila ini dinamakan nila Jica. Jenis nila ini didapat dari hasil pengembangan lembaga riset Kagoshima Fisheries Research Station di Jepang. Kemudian, oleh BBAT Jambi, ikan ini dikembangkan lagi, hingga akhirnya muncul varietas nila Jica di tahun 2004. Nila Jica dikenal oleh masyarakat dengan sebutan nila JK (dibaca: Jeka).

Nila GESIT

Selain nila Jica, juga muncul ikan nila unggul lainnya yang dikenal dengan nama ikan nila GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia). Ikan nila gesit dihasilkan melalui serangkaian riset panjang yang diinisiasi oleh Pusat Teknologi Produksi Pertanian, Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi di bawah Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP).
Ikan nila GESIT adalah ikan nila jantan dengan kromosom sex YY. Yang dibuat dengan metode rekayasa kromosom sex ikan nila jantan normal (kromosom XY) dan betina (kromosom XX). Pemuliaan memerlukan waktu sekitar 6 tahun di Kolam Percobaan IPB Darmaga (2001–2004) dan di BBPBAT (2002–2006). Nila Gesit yang keturunannya berkelamin jantan ini, dikenal juga oleh para pembenih dan pembudidaya ikan dengan nama nila YY (dibaca: way-way)

Nila Nirwana

Berikutnya, pada akhir tahun 2006 juga mencull ikan nila unggul lainnya yang dikenal dengan nama nila Nirwana. Nama Nirwana sendiri merupakan kependekan dari Nila Ras Wanayasa. ikan nila Nirwana muncul dari hasil kerjasama antara Pemerintah Daerah Jawa Barat dan BPPT (Balai Pengembangan Benih Ikan) Wanayasa, Purwakarta.
Nila Nirwana merupakan hasil dari seleksi family terhadap 18 famili nila GIFT(Genetic Improvement Farm Tilapia) dan 24 famili nila GET (Genetically Enchanced Tilapia) dari Filipina. Seleksi dilakukan secara ketat terhadap benih-benih dari Nila GIFT dan nila GET.  Pemuliaan ikan nila Nirwana berlangsung selama 3 tahun (2003–2006) hasil seleksi famili dengan bahan dasar ikan nila GIFT  generasi ke enam dan nila GET. Dibandingkan generasi sebelumnya, pada generasi ke tiga (F3) pertumbuhan bobot ikan nila Nirwana mengalami peningkatan sekitar 45 persen. Oleh karena itu, untuk mendapatkan varietas ikan nila Nirwana yang semakin baik pertumbuhannya maka, seleksi lebih lanjut perlu terus dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian di BPBI Wanayasa, ikan Nila Nirwana layak dijadikan induk penjenis untuk menghasilkan benih nila yang bermutu. Ikan Nila Nirwana produksi BPBI Wanayasa tersebut saat ini dikenal dengan nama Nirwana 1. Istilah tersebut muncul karena saat ini BPBI Wanayasa sudah mengeluarkan Nirwana generasi kedua yang dikenal dengan nama Nirwana 2. Dibanding Nirwana 1 yang dikeluarkan sekitar tahun 2006 tersebut, Nirwana 2 yang dirilis Menteri Kelautan dan Perikanan  tahun 2012 ini memiliki beberapa keunggulan dibanding Nirwana 1 di antaranya adalah memiliki pertumbuhan 15 persen lebih tinggi, bentuk tubuh lebih lebar, kepala lebih pendek serta struktur dagng lebih tebal.

Nila BEST

Nila BEST (Bogor Enhanched Strain Tilapia) awalnya dikenal dengan nama Nila Bogor. Namun setelah dilakukan serangkaian pemuliaan, Nila Bogor ini pada tanggal 02 Desember 2008 dinyatakan lulus dan memperoleh gelar baru sebagai Nila BEST. Keunggulan Nila BEST di antaranya adalah mampu menghasikan telur dan benih lebih banyak, ukuran larvanya besar, memiliki pertumbuhan tinggi, mampu hidup pada salinitas 15 promil dan relatif tahan terhadap penyakit streptococcus.
Ikan nila BEST merupakan ikan hasil pemuliaan menggunakan dengan karakter keunggulan dalam pertumbuhan. Ikan ini dihasilkan melalui suatu proses yang panjang selama 4 (empat) tahun penelitian yang dilakukan Tim Peneliti Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Setelah dinyatakan lulus, Nila BEST kemudian dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad pada tanggal 23 November 2009, bertempat di Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti – Klaten, Jateng.

Nila Salin

Ikan Nila varietas lainnya adalah Nila Salin yang dihasilkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT). Disebut Nila Salin, karena nila jenis ini tahan hidup pada air salinitas tinggi hingga 20 promil sehingga jenis ikan nila ini ideal dibudidayakan di tambak yang berair payau. Seleksi awal untuk menemukan Nila Salin ini memang melalui uji tantang, yakni mengganti air tawar dengan air laut secara bertahap. Ikan nila yang diuji tersebut merupakan hasil dari proses seleksi persilangan (dialling crossing) dari delapan varietas ikan nila.

Nila Srikandi

Nila Srikandi (Salinity Resistant Improvement from Sukamandi) juga merupakan varietas ikan nila yang tahan terhadap air salinitas tinggi sama seperti Nila Salin. Bila Nila Salin hasil dari rekayasa BPPT, Nila Srikandi dihasilkan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi. Ikan ini telah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (Sharif C. Sutardjo) pada 2012. Ikan nila Srikandi yang merupakan persilangan dari Oreochromis aureus x niloticus, menjadi solusi tepat untuk memanfaatkan lahan-lahan sub optimal di sepanjang pesisir pantai. Selain toleransi yang tinggi terhadap lingkungan bersalinitas hingga ≤ 30 ppt, nila Srikandi mampu tumbuh cepat di perairan payau dan relatif tahan terhadap penyakit.

Nila Sultana

Ikan Nila Sultana (Seleksi Unggul Selabintana) merupakan jenis ikan nila hasil seleksi family yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budi daya Air Tawar (BBPBAT) di Selabintana, Sukabumi. Setelah dilakukan seleksi family sejak tahun 2005 – 2010, pada tahun 2011 akhirnya ikan nila Sultana dinyatakan telah lulus uji.
Nila Sultana memiliki karakter reproduksi diameter telur sekitar 2,84 mm, rasio bobot gonad disbanding bobot tubuh sekitar 2,38 persen dan produksi larva sekitar 3.000 ekor / Kg bobot induk.

Nila Jantimbulan

Ikan nila jenis ini merupakan hasil perekayasaan yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Budidaya Air Tawar ( PBAT) Umbulan yang terletak di Pasuruan Jawa Timur. Keunggulan nila ini adalah pertumbuhannya yang lebih cepat dibandingkan dengan  nila biasa dan struktur dagingnya yang lebih kenyal.

Nila Larasati

Nila Larasati (Nila Merah Strain Janti)  merupakan nila hasil perekayasaan oleh PBIAT (Pusat Budidaya Ikan Air Tawar)  Janti, Klaten. Ikan ini merupakan persilangan antara nila hitam dengan nila merah. Keunggulan nila Larasati yaitu pertumbuhannya seperti nila merah sedangkan reaksi pakannya seperti nila hitam, pemeliharaan lebih cepat, dagingnya lebih banyak dan kelangsungan hidup tinggi.

Memberi Probiotik Agar ikan cepat besar

Pertumbuhan Ikan Budi Daya yang cepat tidak hanya membuat hati senang tetapi juga menekan pengeluaran untuk pakan, mempercepat masa panen dan ikan bisa dipanen dalam ukuran yang seimbang. Banyak pengalaman petani budi daya ikan harus melakukan panen secara bertahap karena ukuran ikan saat ditebar sama tetapi mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda. Karena itu beberapa rekayasa dan upaya dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan ikan dan ukuran yang seragam dengan demikian efisiensi produksi budi daya ikan menjadi cukup baik. Beberapa petani ikan menempuh cara dengan memberikan makanan berprotein tinggi dan memberikan makanan alami seperti keong, bekicot dan lain-lain. Akan tetapi pemberian pakan alami terkendala karena tidak praktis. Pada beberapa budi daya ikan seperti budi daya ikan guramih, Ikan Lele, Ikan Nila, Ikan mas dan lain sebagainya, pemberian probiotik telah dirasakan manfatnya dalam mempercepat pertumbuhan dalam budidaya ikan.

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang sangat bermanfaat bagi makhluk hidup. Mikroorganisme yang terkandung pada Probiotik mampu membantu pencernakan makanan pada tuhuh hewan dan manusia sehingga makanan yang mengandung probiotik akan mampu dicerna dan diserap tubuh dengan baik. Selain itu probiotik mampu meningkatkan kekebalan tubuh dari serangan penyakit.

Pada Budi Daya Ikan probiotik diberikan sebagai campuran makanan dan ada yang ditaburkan pada kolam pemeliharaan. Untuk Probiotik yang dicampur pakan, bisa dicampurkan dengan pakan buatan pabrik (pelet) maupun pakan alami seperti daun-daunan. Penebaran probiotik pada kolam akan membantu tumbuhnya plankton-plankton dan mikroorganisme lainnya dalam air kolam sebagai makanan alami ikan. Probiotik jenis ini akan menggemburkan dasar kolam sekaligus memelihara kualitas air seperti Nature atau Super Plankton. Probiotik ini cukup diguyurkan ke air kolam pada pagi hari setiap dua minggu sekali supaya air selalu sehat, tidak blooming dan penuh dengan plankton sebagai pakan alami.

Pengalaman dari Himawas Atasasih, pemilik HMPS di Jl Sutijap 23 Wates, Kulonprogo, Para petani Ikan Guramih Kulonprogo sudah terbiasa memakai probiotik dicampur pakan. Misalnya, probiotik RajaGrameh, RajaLele, MasterFish, SPF atau Nature yang mudah diperoleh di toko pakan ternak atau toko pertanian. Dengan campuran probiotik dan pelet membuat metabolisme dan pencernaan ikan sempurna. Sebagian besar, 90% pakan yang masuk ke tubuh akan menjadi daging ikan.

Pengalaman Pak Jumadi, petani gurami dari Desa Ceme, Srigading, Sanden, Bantul membenarkan pemberian probiotik sangat membantu pertumbuhan ikan. Saat melihat di kolamnya banyak gurami stres dan mengambang bahkan beberapa mati, dia secepatnya mengguyurkan sebotol probiotik Nature campur segenggam gula pasir ke kolam. Keesokan harinya air kembali hijau jernih dan semua guraminya sehat kembali.

Pengalaman para petani ikan Gurami di Desa Jambidan, Bantul Yogyakarta telah meninggalkan cara konvensional budi daya guramih dan beralih ke cara modern dengan memanfaatkan probiotik. Budi Daya ikan dengan cara konvensional 30 kg pelet hanya menjadi 22 kg daging ikan, dengan sistem Guba (Gugus Simba) bisa menjadi 28-30 kg atau konversinya 1:1. Artinya, ikan lebih berbobot karena penambahan probiotik akan menjadikan 90% pakan menjadi daging dan hanya 10% yang dibuang sebagai amoniak.

Menurut Wiwied Usman, Sekjen PerMina sekaligus pembudi daya Ikan Gurami, Kelebihan lain penerapan sistem Guba, pertumbuhan lebih cepat sehingga waktu pemeliharaan lebih pendek. Bila dengan sistem konvensional untuk mencapai berat 1 kg butuh waktu dua tahun, dengan sistem Guba hanya butuh waktu satu tahun. Pengalaman mereka untuk mencapai 8-9 ons dari ukuran silet cukup dalam waktu 9 bulan dengan kombinasi pakan daun sekali sehari. Cara konvensional tanpa penambahan probiotik pada pakan, setahun baru mencapai berat 6-7 ons.

Pakar gurami dari Jurusan Perikanan UGM Ir Gandung Hardaningsih menguraikan, dari berbagai riset, probiotik memang terbukti bagus untuk pemeliharaan air kolam dan pemacu pertumbuhan ikan. Karena ada introduksi mikroba positif maka kolam menjadi lebih sehat dan ikan juga lebih kuat terhadap stres dan penyakit. Yang pasti, pertumbuhan ikan bisa sangat pesat karena probiotik juga merangsang nafsu makan.

“Saya kira probiotik akan menjadi andalan para petani ikan di masa depan karena manfaatnya sangat besar pada pertumbuhan ikan sehingga cukup berarti dengan keuntungan yang didapat,’’ tandasnya. Probiotik ibarat benteng pertahanan diri, sebaiknya diberikan sejak dini. Begitu bibit mau masuk kolam, tiga hari sebelumnya air kolam harus diguyur probiotik Nature atau SPF lebih dahulu agar kondisi air cepat matang dan tumbuh banyak plankton. Selanjutnya, pemberian probiotik untuk pemeliharaan air cukup dua minggu sekali atau ketika kondisi air menurun kualitasnya.
Perbandingan Hasil Budi Daya Ikan Gurami dengan Cara Konvensional dan Penambahan Probiotik

Biaya 1.000 ekor bibit gurami ukuran silet/korek dengan harga Rp 1.000,-/ekor , membutuhkan pakan 30 sak (harga Rp 210.000).
Total modal sekitar Rp 7,5 juta. Cara konvensional akan menghasilkan ikan sekitar 7 kuintal. Dengan harga panen Rp 20.000 /kg pendapatan petani sekitar Rp 14 juta.
Keuntungan sekitar Rp 6 jutaan.

Sistem Guba memberikan terobosan pada berat ikan. Dengan penambahan probiotik seperti RajaGrameh, RajaLele, Nutrisi Simba, ditambah SPF yang dicampurkan pada pakan maka hasil panen bisa mencapai 9 kuintal. Berarti pendapatan petani mencapai Rp 18 juta. Jadi, ada selisih 2 kuintal, senilai Rp 4 juta, jauh lebih untung dibanding cara biasa.

Biaya tambahan untuk membeli probiotikpun tidaklah mahal, dua tutup RajaGrameh ditambah 1 tutup SPF untuk mencampur 5 kg pakan pelet, terbukti hasilnya luar biasa. Padahal untuk 30 sak pakan hanya dibutuhkan biaya tambahan untuk pembelian probiotik Rp 400 ribu saja. Yakni, untuk pemacu tumbuh Rp 200 ribu, untuk penambah bobot Rp 100 ribu, dan untuk pengobatan Rp 100 ribu. Jadi, penambahan biaya Rp 400 ribu, tambahan keuntungannya Rp 4 juta.

Sumber:
1. http://www.suaramerdeka.com. http://galeriukm.web.id
3. Harian Kedaulatan Rakyat

Cara Agar Ikan Nila Cepat Besar Dan Panen

Budiaya ikan nila yang cepat besar sangat menguntungkan para pembudidaya. Banyak pembudidaya yang menginginkan cara agar ikan nila panen dalam waktu 3-4 bulan.

Sebenarnya cara itu bisa dilakukan. Mengingat banyak kemajuan dibidang peternakan. Maka hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan.

Namun cara yang baik budidaya ikan nila menjadi sarat mutlak agar ikan nila cepat besar yaitu dengan sistem pemeliharaan Monosex

Istilah monosex adalah pemeliharaan ikan hanya dengan satu jenis kelamin jantan saja. Dan bertujuan untuk mempercepat atau memperbesar keberhasilan budidaya ikan nila.

Untuk ikan nila, jenis kelamin yang banyak dipakai dalam sistem monosex adalah ikan yang berjenis kelamin jantan.
Hal ini dikarenakan ikan nila jantan lebih cepat pertumbuhannnya dibanding dengan ikan betina karena ikan nila jantan lebih berfokus pada pertumbuhan bukan pada perkembangbiak-kan seperti ikan nila betina.

Namun untuk masalah pakan tetap sama saja. Tidak ada yang membedakan. Tetap seperti rumus awal yaitu 10% dari berat bobot ikan.

Dengan teknik monosex maka ikan nila dapat dipanen hanya dalam waktu 3-4 bulan saja. Dengan kisaran bobot mencapai 400 sampai 550 gram per ekor.
Tentu dengan hasil seperti itu akan menambah keuntungan bagi para pembudidaya