Bangka Tengah Genjot Budidaya Ikan Air Tawar

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemkab Bangka Tengah terus mengembangkan budidaya ikan air tawar yang dinilai kian prospektif. Bupati Bangka Tengah Erzaldi Rosman meninjau pengembangan budidaya ikan air tawar Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Tengah di Balai Benih Ikan (BBI), Rabu (29/4/2015).

Dalam kunjungan tersebut, Bupati Erzaldi melihat langsung indukan ikan nila dan patin yang nantinya akan dijadikan indukan produksi bibit ikan untuk diberikan kepada masyarakat Bangka Tengah. Langkah ini diambil seiring kian meningkatnya konsumsi masyarakat setempat.

“Sekarang masyarakat sudah mulai terbiasa mengonsumsi ikan air tawar. Kini ikan air tawar memiliki prospek untuk dikembangkan ke depannya, terutama ikan nila dan patin, dengan indukan berkualitas yang dihasilkan Dinas Kelautan dan Perikanan yang diharapkan nantinya bisa menghasilkan bibit ikan yang bermutu,” kata Erzaldi.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Tengah, Dedy Muchdiyat menjelaskan produksi ikan air tawar terus meningkat setiap tahun seiring masyarakat yang kian giat menggalakkan pembudidayaan ikan air tawar.

Upaya untuk menambah produktivitas pembudidayaan ikan air tawar tersebut dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi Balai Benih Ikan (BBI) dan unit pembenihan rakyat.

“Dengan adanya panen indukan ikan nila dan patin ini diharapkan dapat meningkatkan produksi ikan air tawar di Bangka Tengah ke depannya. Pada prinsipnya kami terus mendorong masyarakat untuk menggalakkan pembudidayaan ikan air tawar dengan melakukan penyuluhan dan penyaluran bibit,” ujarnya.

Dedy menjelaskan, jenis ikan air tawar yang memiliki prospek untuk dikembangkan antara lain ikan patin, lele, nila, gurame, baung, dan bawal.

“Memang belum semua masyarakat yang gemar mengonsumsi ikan air tawar atau masih kalah dengan tingkat kebutuhan warga terhadap ikan laut. Namun ini bisa meningkat seiring banyaknya pembudidayaan ikan air tawar, terutama saat ini ikan jenis nila dan patin,” ujarnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi kelebihan stok ikan air tawar, masyarakat juga dibina untuk membuat industri rumahan pengolahan berbahan baku ikan air tawar. Saat ini, produk seperti abon ikan kian diminati konsumen. “Saya yakin pembudidayaan ikan air tawar bisa menjadi usaha alternatif bagi masyarakat untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” katanya.

 

Penulis: Dody
Editor: Hendra

UR Sebar Benih Baung Budidaya

Pekanbaru, (antarariau) – Fakultas Perikanan Universitas Riau  (Unri) menyebarkan 50 ribu bibit ikan baung ke masyarakat khususnya untuk memenuhi permintaan sentra-sentra budidaya ikan asli daerah itu.

“Tiap seekor bibit ikan dijual Rp1.000, dan permintaan terhadap bibit ikan baung tersebut cukup tinggi,” kata peneliti Unri, Usman M Tang, di Pekanbaru, Senin.

Ikan Baung masih kerabat dengan ikan lele, nama marganya Hemibagrus yang berasal dari bahasa latin Hemi yag berarti “setengah” atau “separuh” dan bagrus, yang diambil dari pelafalan Muzarab bagre atas perkataan Yunani pagros, yakni nama sejenis ikan laut.

Ikan baung yang menyebar luas di India, Cina selatan dan Asia Tenggara ini juga dikenal dengan banyak nama daerah seperti  ikan duri, baong, baon (Melayu), bawon (Betawi) senggal atau singgah (Sunda), tagih atau tageh (Jawa), niken, siken, tiken bato (Kalteng).

Menurut dia, pola pertumbuhan ikan baung adalah allometrik yaitu pertambahan berat lebih cepat dari pertambahan panjang.  “Matang gonad” pada ikan baung betina diperkirakan pada berat lebih dari 100 gram.

Sedangkan budidaya ikan baung dilakukan dalam beberapa tahapan yakni pematangan gonad, dan pematangan di bak,

“Gonad ikan betina  dan ikan jantan terletak di rongga perut dibagian dorsal intestine. Pada ikan baung jantan lobang genital agak  memanjang,” katanya pada umumnya ikan membutuhkan 1 persen vitamin dari total komponen pakan.

Berbeda dengan hewan darat yang sangat tergantung  pada pasokan mineral  dari pakan.

Pada ikan mineral  dapat diperoleh  sebagian dari air  melalui insang, ginjal, lapisan mukosa di rongga mulut serta kulit dan sebagian lagi diperoleh dari makanannya.

“Untuk pemeliharaan ikan di kolam air tenang,  pakan diberikan  dekat pintu pengeluaran air, agar sisa-sisa pakan yang tidak habis termakan mudah terbuang bersama air  melalui pintu  air,” katanya.

Namun demikian pematangan gonad dan pemeliharaan larva ikan baung  merupakan faktor  utama dalam operasional dan keberlanjutan sebuah di balai atau hachery di bidang perikanan  air tawar.

Wanda Berhasil Tetaskan 10.000 Bibit Ikan Baung

BANGKAPOS.COM, BANGKA— Ikan baung sangat diminati. Walau harganya relatif mahal, namun sangat dicari oleh para konsumen. Sayang, populasi ikan ini sangat langka, hanya dapat dijumpai di sungai-sungai tertentu di pelosok pedesaan.

Inilah yang menjadi latar belakang, Suhada alias Wanda melakukan ujicoba perkawinan buatan pada ikan baung. Hasil uji coba perdana, ia berhasil memijahkan sekitar 10.000 benih yang siap dipasarkan dalam bentuk bibit siap tebar di kolam budidaya petani.

Berbekal sebidang tanah berbentuk kolong bekas penambangan timah (eks TI) di kawasan ujung Gang Mentawai Air Pengabis, Desa Karyamakmur, Kecamatan Pemali, Wanda meniti usahanya, 2010 silam. Lahan yang nyaris tak perpakai sekitar 0,5 hektare itu ia beli dari warga setempat dengan harga Rp 4 juta.

Awalnya, kolam itu ia tebar dengan berbagai jenis bibit ikan, lele, gurami, patin dan jenis lainnya. Lambat laut, tempat ini jadi kolam pemancingan, walau dengan prasarana seadanya. Seiring waktu, ternyata peminat ikan air tawar di Bangka semakin membludak.

Hingga suatu ketika, naluri bisnis Wanda kembali tergelitik. Apalagi banyak konsumen yang bertanya padanya soal ikan baung. Sementara faktanya, ikan baung hanya bisa didapat dari para pemacing lokal di sungai-sungai pelosok pedesaan, itupun dalam jumlah terbatas.

“Nah, sejak itulah saya berupaya untuk memijahkan ikan baung, membuat benih atau bibit ikan baung melalui perkawinan buatan,” katanya.

Ternyata usaha Wanda tak sia-sia. Ujicoba yang baru saja ia lakukan di kolamnya berhasil.

“Ngawin ikan baung, awal Januari 2015 ini, baru mulai belajar. Tapi hasilnya saya sudah berhasil menetaskan telur ikan baung menjadi bibit ikan sekitar sekitar sepuluh ribu ekor,” kata Wanda mengaku, mulai kebajiran pesanan bibit ikan baung dari konsumen.

 

Penulis: ferylaskari
Editor: Hendra

Salip Singapura, RI Jadi Pengekspor Ikan Hias Terbesar Dunia

Potensi perikanan Indonesia sangat besar. Potensi ini tidak hanya berupa ikan yang diperuntukkan untuk konsumsi, tetapi juga ikan hias

Anggota Tim Penyusun Roadmap Kelautan dan Perikanan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Suhana mengatakan saat ini Indonesia menjadi negara ke-3 terbesar pengekspor ikan hias di dunia.

“Saat Indonesia menjadi pengekspor terbesar ke-3 untuk ikan hias di dunia. Padahal dulu dilirik pun kita tidak pernah,” ujarnya dalam diskusi Bedah Roadmap Sektor Kelautan dan Perikanan Kadin untuk Pemerintah di Kantor Kadin, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (22/9/2014).

Dia menjelaskan Indonesia saat ini memasok sekitar 10,32 persen kebutuhan ikan hias dunia setelah Spanyol yang sebesar 16,62 persen dan Jepang sebesar 13,03 persen.

“Dulu padahal posisi ini milik Singapura, sekarang dia tidak lagi dan digantikan oleh Indonesia. Ini potensi untuk bisa meningkatkan devisa negara,” lanjutnya.

Selain ikan hias, potensi ikan konsumsi baik laut maupun air tawar juga sangat besar. Saat inj 31 persen masyarakat telah mengkonsumsi ikan air tawar dan 40 persen mengkonsumsi ikan laut.

“Yang banyak itu jenis ikan pelagis seperti ikan tongkol, kembung dan lain-lain. Jadi kita tidak perlu impor banyak ikan,” katanya.

Khusus untuk perikanan budidaya, para pembudidaya ikan Indonesia juga telah mengenal teknologi bioflok yang membuat kualitas ikan hasil budidaya jauh lebih baik dan lebih hemat pakan.

“Teknologi budidaya kita juga sudah maju dengan bioflok. Jadi ikan budidaya itu tidak bau lagi, hemat pakan bahkan bisa budidaya bisa dilakukan di dalam ruangan. Seperti lele yang bahkan bisa dibut sate. Ini sudah berkembang baik di Indonesia,” tandas dia. (Dny/Nrm)

Sumber :

Liputan6.com

Budidaya Ikan Lokal Mesti Jadi Penopang Ekonomi Daerah

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong budidaya ikan lokal sebagai penopang pangan dan kesejahteraan masyarakat daerah.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebajakto mengatakan saat ini kementerian melakukan pengembangan. Salah satunya lewat Unit Pelaksana Tugas (UPT) Balai Pengembangan Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin dengan komoditas ikan papuyu, haruan, kelabau.

Dia menambahkan selain untuk mendongkrak perekonomian, pengembangan ikan lokal ini untuk menjaga keberlangsungan ikan tersebut.

“Komoditas lokal perlu dikembangkan, karena hal ini akan mendukung perekonomian daerah dan juga melestarikan komoditas asli,” kata dia dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (24/2/2015).

Sebagai informasi, harga ikan papuyu ukuran konsumsi di pasar Banjarmasin mencapai Rp 50 ribu- Rp 60 ribu. Lebih dari itu, untuk harga tersebut hanya memakan waktu selama 7-8 bulan.

Budidaya ikan lokal selain akan meningkatkan perekonomian masyarakat juga akan meningkatkan konsumsi ikan di wilayah tersebut. Efek lainnya adalah peningkatan kebutuhan ikan yang mendorong perkembangan budidaya. Ini akan menyerap tenaga kerja dan kesejahteraan,” terangnya.

Sementara, Kepala BPBAT Mandiangin, Endang Mudjiutami mengatakan pengembangan ikan lokal saat ini, khususnya papuyu dalam proses pemeliharaan secara monosex.

“Saat ini diketahui bahwa ikan papuyu betina memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibanding ikan papuyu jantan, sehingga ke depan akan dikembangkan papuyu yang menghasilkan banyak ikan betina sehingga lama pemeliharaannya lebih cepat dan menguntungkan,” tandas dia.

Sumber :

Liputan6.com, Jakarta