Catatan tukang ikan

den

Sukabumi yang dijuluki sebagai kota santri, ternyata, berpotensi besar di perikanan tawar. Iklim yang sejuk dan aliran air dari pegunungan dimanfaatkan dengan cerdas oleh Deny Rusmawan untuk meraih mimpinya menjadi orang sukses di usia muda. Warga asli Sukabumi ini meraup keuntungan bersih puluhan juta.
Menyelusuri jalanan menuju kota Sukabumi, pemandangan yang terlihat di sepanjang jalan hanya rumah makan dan berbagai kuliner. Namun, bila di amati dengan seksama, tampak terselip papan kecil yang bertuliskan “Menjual Ikan Air Tawar” di beberapa tempat tersebut yang bernuansa kuliner khas sunda.
Sebelum sampai di kota Sukabumi, akan melewati Jalan Cibaraja Pasar Ikan. Di situ, kita akan melihat papan toko “Dejeefish” jelas dengan warna menyolok. Toko ini bisa disebut toko serba ada. Penyebabnya adalah ketika kita masuk ke dalam toko ini, pemandangan pertama akan tertuju pada berbagai kaos khas distro yang tertata rapi di sudut kanan dan kiri. Di samping itu, ada berbagai jenis abon ikan dengan berbagai rasa serta obat-obatan untuk ikan, terjejer secara rapih di sisi-sisi lemari baju.
Pemilik toko unik ini bernama Deny Rusmawan. Pria kelahiran 3 Juni 1974 ini, memulai usahanya sejak 6 tahun lalu, 2006. Berbekal pengalaman otodidak yang dipelajarinya, Deny berani menyeburkan dirinya memasuki dunia perikanan. Deny sendiri berlatar pendidikan diploma Informatika di Universitas Padjajaran, Bandung.
“Pas lulus kuliah, saya bekerja di Departemen Keuangan di Bandung. Itu hanya sebentar, saya tidak kerasan. Saya jadi manajer di restoran selama 2-3 tahun. Setelah itu, saya mulai gonta ganti kerjaan, sampai akhirnya memutuskan untuk berwirausaha.” Ungkap Deny yang juga berperan sebagai coordinator penyuluh swadaya di Sukabumi.
Menurutnya, kesuksesan ini tidak terlepas dari kejeliannya melihat peluang perikanan dengan berbasis internet. “Saya melihat kok disini pengelolaan usaha ikan tradisional. Saya berpikir bagaimana bila dibuat website sebagai media jualnya.” Sambungnya.
Ide bisnis yang dikembangkan Deny tersebut berjalan pelan-pelan, namun terkonsep dengan baik. Deny tidak mulai dengan membuat website, dia memanfaatkan situs transaksi jual beli yang gratis untuk memasarkan ikan-ikan air tawarnya. Ternyata, permintaan yang terus menerus datang ke Deny.
“Lalu, kami membuatkan website tersebut sesuai rencana awal. Alhamdulillah, makin banyak pemesan.” Ucapnya. Deny tidak ingin sukses sendirian. Dia membentuk kepengurusan usahanya. “Saya mulai mencari orang-orang untuk berbagai divisi.” Sambung Deny. Untuk itu, Deny mengajak keponakannya untuk mengurus website sesuai dengan idenya.
Deny pun berhasil memasarkan komoditi ikan air tawarnya seperti nila, gurame, patin, ikan mas serta berbagai ikan hias ke seluruh Indonesia. “Untuk pemasaran ikan hias yang saya punya ini (sambil menunjuk ikan koi), saya berhasil memasuki kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi.” Cerita Deny yang juga berhasil pasarannya tembus ke wilayah Asia Tenggara.
“Saya sebenarnya, lebih merasa untung menjualnya ke dalam negeri, sedikit pesaingnya, beda dengan pasaran luar negeri ya.” Celetuk Deny dengan logat Sundanya. Warga sekitaran Cibaraja, yang juga merupakan anggota kelompok binaan suluhnya, biasanya menjual hasil panennya ke Deny. Bagi mereka, Deny adalah mitra yang loyal. Deny sering membeli hasil benihan ikan per ekor, bukan per kilogram seperti yang transaksi yang biasa dilakukan.
“Saya membeli benihan mereka (petani ikan di Cibaraja) dikarenakan saya tahu kualitasnya seperti apa. Mereka mendapat indukan dari saya. Kalo di pasaran biasa kan tidak mementingkan kualitas, hanya kuantitas saja.” Tutur Deny yang memiliki kolam sekitar setengah hektar di Cibaraja.
Kecerdasan Deny tidak sampai di situ, manajemen yang dibuatnya dibentuk dengan pembagian kerja yang rapih dan baik. Jiwa leader yang berada pada dirinya, mampu membuat anak buahnya bekerja secara sistematis. Deny menambahkan, “Saya bentuk divisi sesuai dengan komoditi. Misalnya, manajer untuk ikan nila, manajer untuk ikan patin, pokoknya disesuaikan dengan jenis komoditi. Saya ada divisi transportasi danquality control yang berjalan sesuai dengan pembagian tugasnya.”
Ketika ditanyakan mengenai system transportasi yang dilakukannya, Deny dengan lugas menjelaskan bahwa ada pembagian tugas sesuai dengan domisili dari pelanggan. “Pengemasan dilakukan di sini (kolam), nantinya akan dikirimkan ke melalui bandara Soekarno Hatta. Di sana, ada petugas kami yang sudah siap. Kami menyewa gudang di bandara.” Ungkapnya.
Perlakuan yang berbeda Deny lakukan, bila pemesanan masih di sekitaran Jawa. Deny hanya menggunakan mobil yang dibelakangnya terdapat rak, desainnya berbeda dengan mobil pick up. Deny menuturkan, “Saya belajar sistem transportasi ini melalui pengalaman saja. Oh ya, Dejeefish ini juga bergerak di bidang cargo untuk komoditi perikanan.” Imbuh Deny yang melihat adanya peluang cargo dikarenakan perusahaan paket pengiriman biasa tidak mau melayani komoditi perikanan.
Deny bisa berbangga dengan jerih payahnya. Dia mendapat kepercayaan yang luar biasa dari para pelanggannya. Hal ini dapat terlihat, dari deringan telepon yang terus menghubunginya saat wawancara dengan Reporter Infomina. “Kelebihan di Dejeefish yang saya banggakan itu adalah sertifikasi CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) dan CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) yang dipunya Dejeefish. Total sertifikat kita ada 9 buah. Di tempat lain, tidak ada sebanyak kami.” Ucapnya sambil tersenyum.
Dejeefish, menurut Deny, saat ini mengembangkan bisnis lainnya seperti bidang fashion dan pengolahan yang dipegang oleh istrinya. Bisnis ini dibantu oleh karyawan wanita Dejeefish. “Kita punya alat-alat produksi untuk fashion, kayak sablonan dan mesin jahit. Bisa dilihat di toko, busana muslim dan kaos-kaos yang bernuansa motif ikan. Itu kami produksi sendiri.” Imbuh Deny.
Kesuksesan Deny, membawa para pembudidaya, mahasiswa perikanan, maupun masyarakat umum mengunjungi toko dan kolam-kolamnya baik pelatihan, magang atau study tour. “Ada aja yang datang tiap minggunya. Terutama untuk pelatihan dari daerah lain. Saat ini kita dipercaya memegang pelatihan untuk pengembangan perikanan air tawar di Cibinong kerjasama dinas perikanan dengan Bank Mandiri.” Jelasnya.

Peranannya Sebagai Penyuluh Swadaya
Di tahun 2011, dimana pemerintah mengangkat penyuluh swadaya, Deny, juga ikut dalam pengangkatan tersebut. Di Sukabumi sendiri, ada 25 penyuluh swadaya. “Kelompok saya beranggotakan 30 orang.” Ucapnya.
Sistem suluh yang diterapkannya, menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kekeluargaan. “Mereka melihat saya bagaimana saya mulai dari nol hingga sampai sekarang, jadi saya mudah mendapatkan respek dari mereka.” Imbuhnya. “Lagi pula awal mulai  usaha, saya bermitra dengan mereka.” Sambung Deny yang  asli Sukabumi.
“Kami ada jadwal untuk pembagian komisi dari hasil mitraan kolam tiap bulan. Moment ini saya gunakan untuk berkumpul dengan mereka. Jadi, saya tahu perkembangan mereka sampai mana.” Imbuh Deny.
Deny mengakui, anggota kelompok binaannya mudah untuk diajak kumpul dan duduk bersama. Sehingga, saat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ataupun dinas pemerintah daerah Sukabumi ingin mengadakan pelatihan, kelompoknya selalu aktif berpartisipasi.
Bagi Deny, hal yang penting dalam bermitra dengan anggota kelompok adalah ketersediaan benih maupun ikan di saat CV Deejeefish membutuhkan stok. “Kalo mereka menjual dengan yang lain, terserah, yang penting kita minta, ada stoknya.” Ungkapnya. `
Penulis : @azzahraNisaa

Note :

Thank u for @azzahraNisaa

Dejeefish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s