Applifish, aplikasi perikanan untuk Android dan iOS

AppliFish, marine knowledge at the touch of a button

New app offers information of over 550 marine species

12 March 2013, Rome – You want to know more about the fish you are eating or going to buy? Is it maybe an endangered species? AppliFish will tell you. This free mobile application developed by the fisheries and biodiversity knowledge platform i-Marine makes aquatic-related information available to anyone, anytime, anywhere.

While human consumption of fish products has doubled in the last half century, policies for sustainable use of aquatic ecosystems must address the challenges facing global fish stocks.

Some 30 percent of the world’s marine fish stocks assessed in 2009 were overexploited, according to FAO’s State of World Fisheries and Aquaculture 2012.

“With AppliFish, consumers can choose fish that’s not endangered, helping ensure that there will be enough for future generations,” says FAO’s Marc Taconet, Senior Fishery Information Officer and chair of the iMarine board. “Consumers can also use the application to learn more about species, capture levels and habitats, as well as the level of threats faced by these species.”

small_AppScren190

Informed choices for policy-makers and consumers

iMarine is a global consortium of 13 research institutes, universities and international organizations from three continents with €5  million in funding by the European Union (EU).

Its new application AppliFish also has a web version that contains additional scientific information, which can help policy-makers, producers and consumers make informed decisions, and contribute to shape policies necessary for the responsible management of fisheries and conservation of aquatic resources, as underlined in the  principles laid out in FAO’s Code of Conduct for Responsible Fisheries.

AppliFish adds on to i-Marine’s applications for  managing, processing and visualizing scientific content to increase awareness of the challenges which aquatic ecosystems face.

These applications include the biodiversity mapping tool AquaMaps, the Vessel Transmitted Information Tool (VTI), reporting on vessel activity and environmental conditions for scientists working in fisheries, and the Integrated Capture Information System (ICIS), providing regional and global information on capture of aquatic species.

Over 550 species

AppliFish was awarded a prize at the 10th e-Infrastructure Concertation Meeting to discuss the present and future of the EU’s research and innovation policy, held in Brussels on 6-7 March.

The application is designed as a pocket book of marine knowledge at the touch of a button. It offers basic information of over 550 marine species, such as a common names and sizes, distribution maps, as well as maps featuring expected changes in species distribution caused by climate change.

AppliFish combines data from authoritative, international sources, including FAO-FishFinder, FAO statistics, WoRMS, Fishbase, SeaLifeBase, IUCN, AquaMaps and OBIS, bringing together a wealth of expertise to create a community of practice in support of the ecosystem approach to fisheries management and conservation of marine living resources.

AppliFish is available both for Android and for iOS

Advertisements

Daftar harga Obat Perikanan

 

No

NAMA

HARGA (Rupiah)

BERAT BERSIH

KETERANGAN

1

Ovaprim

Rp. 270.000

10 ml

Hormon Perangsang Ovulasi

2

Choluron

Rp. 120.000

5 ml

3

Nusim

Rp. 35.000

50 gr

Pembasmi Bakteri, Virus dan Jamur

4

Premium C Aquatic

Rp. 35.000

100 gr

Vitamin C untuk Ikan

5

Enrofish

Rp. 35.000

100 cc

Pencegahan Penyakit

6

Aqua Simba D

Rp. 50.000

1 liter

Probiotik cair

7

Tiger Bac

Rp. 100.000

500 gr

Pupuk Probiotik untuk media bak terpaldan bak tembok

8

Super Lele

Rp. 50.000

500 ml

Probiotik

9

Repture

Rp. 75.000

1 liter

Probiotik cair

10

Nutrifish

Rp. 75.000

1 liter

Nutrisi tambahan untuk ikan

11

Stabilizer

Rp. 100.000

120 ml

Obat bius untuk benih dan indukan ikan

12

Gold 100

Rp. 15.000

 

Obat anti biotik

13

Elbayu

Rp. 15.000

 

Obat stress ikan khusus untuk Packing

14

Tosim

Rp. 35.000

 

Obat anti jamur

15

Feeding Tub (kateter)

Rp.100.000

 

Selang Pemeriksaan Telur ikan

16

Artemia (pakan)

Rp. 400.000-

Rp. 600.000

 

Pakan alami untuk larva

 

P2MKP Dejeefish dalam Artikel di website BPSDM-KKP

Menteri Ajak Mahasiswa Wirausaha Perikanan

13 Maret 2013

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, mengajak para mahasiswa untuk menjadi pewirausaha baru di bidang perikanan. Ajakan tersebut disampaikan Sharif pada sambutannya saat pembukaan dan pembekalan Training Dasar Advokasi dan Kepemimpinan Nasional (TRIDAKNAS) Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI), Senin (11/3), di Universitas Djuanda, Bogor. Salah satu rangkaian pada kegiatan tersebut adalah pelatihan pembenihan ikan air tawar dan pembuatan pakan ikan bagi mahasiswa. Ajakan Menteri tersebut selain untuk mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan yang dicanangkan KKP, juga untuk mengurangi angka pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan tingkat pengangguran di Indonesia per Agustus 2012 turun menjadi 6,14% atau 7,24 juta orang dibandingkan pada Agustus 2011 sebesar 6,56%. Meski telah mengalami penurunan, pemerintah menargetkan angka pengangguran untuk dapat turun lagi menjadi 5,1% pada 2014 yang dilakukan melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan membangun kompetensi, pembangunan sistem pendidikan, memfasilitasi tumbuh dan berfungsinya mekanisme bursa kerja dan memprakarsai program pengembangan kewirausahaan. Dengan pelaksanaan program kewirausahaan diharapkan jumlah wirausaha dapat mencapai 1% dari populasi penduduk pada 2014.

Menurut catatan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM), proporsi wirausaha Indonesia baru sekitar 0,24% dari populasi. Padahal untuk membangun ekonomi bangsa yang maju menurut sosiolog, David Mc Cleiland, dibutuhkan minimal 2% atau 4,8 juta wirausaha dari populasi penduduk Indonesia saat ini. Sebagai perbandingan, Singapura memiliki wirausaha 7,2%; Malaysia 2,1%; Thailand 4,1%; Korea Selatan 4,0%; dan Amerika Serikat 11,5 % dari seluruh populasi penduduknya. Bagi Indonesia diperlukan waktu hingga tahun 2030 untuk memiliki jumlah wirausaha sebanyak 4,8 juta orang atau sekitar 2% dari total jumlah penduduknya saat ini. Karena itu diperlukan upaya-upaya percepatan penciptaan wirausaha baru untuk meningkatkan kesempatan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Salah satu langkah konkrit yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) adalah mendorong kepada mahasiswa dengan memberikan pembekalan kemampuan berwirausaha di bidang perikanan melalui pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang pada kesempatan tersebut dilakukan melalui pelatihan pembenihan ikan air tawar dan pembuatan pakan ikan. Pelatihan diberikan kepada 50 mahasiswa HIMAPIKANI, yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Mahasiswa diyakni merupakan komponen penting dan sangat strategis di masyakat yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak pembangunan kelautan dan perikanan.

Pelatih yang didatangkan untuk membantu peningkatan kapasitas mahasiswa merupakan para pelaku usaha pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Dejefish Sukabumi dan P2MKP Koperasi Budidaya Air Tawar (KABITA) Bogor. Menurut Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP), Suseno, dalam paparannya pada kegiatan pelatihan tersebut, P2MKP adalah lembaga pelatihan/permagangan yang didirikan, dimiliki, dan dikelola oleh pelaku utama/usaha secara swadaya, baik perorangan maupun kelompok. P2MKP merupakan Diklat yang tumbuh di masyarakat yang secara sukarela membantu masyarakat terutama di wilayah sekitarnya untuk dapat berusaha mengikuti kegiatan usaha yang dilakukan oleh P2MKP tersebut. “Latar belakang pendirian P2MKP adalah untuk memberikan dukungan pada Eselon I Teknis KKP dalam rangka peningkatan kualitas SDM KP melalui pelatihan; meningkatkan akses masyarakat KP untuk memperoleh pelatihan dan permodalan; tersedianya sumber pembiayaan di luar APBN-BPSDMKP yang dapat dimanfaatkan; perlunya membangun jaringan bisnis di antara para pelaku usaha dan utama; serta perlunya pembinaan sesuai standar-standar yang berlaku di mana para pelaku usaha telah melakukan pelatihan, magang, praktek kerja, dan lain-lain” ujar Suseno. P2MKP Dejeefish berawal dari kegiatan produksi benih ikan gurame sederhana pada tahun 2006 yang kini telah menjadi perusahaan perikanan air tawar yang terintegrasi. Mulai dari pembenihan, pendederan, pembesaran, jasa pengiriman ikan domestik dan internasional sampai jasa pelatihan budidaya perikanan air tawar. Dengan SDM yang mumpuni dan team work yang kuat, fasilitas yang memadai serta bimbingan dari instansi perikanan, Dejeefish telah mampu memproduksi benih ikan air tawar dalam jumlah jutaan ekor per tahun. Beberapa jenis ikan yang diproduksinya adalah gurame, patin, lele, nila, baung, mas, bawal dan berbagai jenis ikan hias. Sistem Produksi yang dijalankan Dejeefish telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah, hal ini dibuktikan dengan diberikannya 4 sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dari Dirjen Perikanan Budidaya KKP, yaitu Sertifikat benih gurame (sangat baik), patin (sangat baik), lele (sangat baik) dan nila (cukup).

Sementara itu, P2MKP KABITA Bogor merupakan unit usaha yang bergerak pada usaha pembenihan dan budidaya ikan tawar, terutama komoditas ikan lele. Kemampuan para pelatih P2MKP yang merupakan pelaku utama diharapkan dalam memotivasi mahasiswa untuk terjun sebagai pewirausaha baru dengan melihat keberhasilan para pengelola P2MKP. Saat ini P2MKP merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam membantu meningkatkan sasaran masyarakat yang dibantu peningkatan kapasitasnya dalam meningkatkan usaha dan pendapatannya.

HIMAPIKANI sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang bertujuan menggalang persatuan dan kerja sama untuk meningkatkan profesionalisme dalam rangka meningkatkan masyarakat yang berkeadilan dan berkemakmuran guna menunjang pelaksanaan pembangunan nasional yang berbasis kerakyatan, diharapkan dapat memanfaatkan peluang baik ini agar mereka dapat mempersiapkan diri mereka sebagai calon  pemimpin masa depan yang memiliki visior. Diawali dengan pelaksanaan jangka pendek, membantu mempercepat kebijakan “ekonomi biru” yang diusung oleh KKP melalui rangkaian kegiatan di dalamnya, sebagai mahasiswa yang dikenal sebagai “agent of change” seyogya mengawal kebijakan pemerintah serta membangun SDM yang kontributif dalam pembangunan perikanan di Indonesia. Melalui kegiatan pelatihan perikanan bagi mahasiswa ini, diharapkan dapat dilahirkan para trainer/pelatih yang akan menularkan kemampuan dan keberhasilan mereka sebagai pewirausaha baru. Sebagai pewirausaha baru para mahasiwa  diharapkan menjadi seseorang yang percaya diri, mampu memanfaatkan sumber daya menjadi peluang, dan dengan kreativitasnya mampu mengubah sesuatu menjadi lebih bermanfaat sekaligus meningkatkan kesejahteraan diri, masyarakat, dan lingkungannya.

Humas BPSDM KP

http://www.bpsdmkp.kkp.go.id/home.php/detail_artikel/menteri_ajak_mahasiswa_wirausaha_perikanan

SILVOFISHERY, BUDIDAYA BERDASARKAN PRINSIP KESEIMBANGAN

SILVOFISHERY, BUDIDAYA BERDASARKAN PRINSIP KESEIMBANGAN

Prinsip keseimbangan (Principle of harmony) menjadi dasar bagi terwujudnnya budidaya berkelanjutan (sustainable aquaculture). Kesimbangan yang dimaksud adalah bahwa pengelolaan perikanan budidaya harus mampu menjamin berjalannya siklus dan interaksi yang saling menguntungkan dalam sebuah ekosistem.

Silvofishery sejalan dengan prinsip blue economy

Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini tengah serius mewujudkan prinsip Blue Economy dalam pengelolaan suumberdaya kelautan dan perikanan. Prinsip utama dari blue economy tersebut diantaranya adalah : 1) kepedulian terhadap lingkungan (pro-enviroment) karena memastikan bahwa pengelolaannya bersifat zero waste; 2) menjamin keberlanjutan (sustainable); 3) menjamin adanya social inclusiveness; 4) terciptanya pengembangan inovasi bisnis yang beragam ( multiple cash flow).

 

Silvofishery sebagai sebuah konsep usaha terpadu antara hutan mangrove dan perikanan budidaya yaitu budidaya di tambak menjadi alternatif usaha yang prospektif dan sejalan dengan prinsip blue economy. Pendekatan terpadu terhadap konservasi dan pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove memberikan kesempatan untuk mempertahankan kondisi kawasan hutan tetap baik, disamping itu budidaya perairan payau dapat menghasilkan keuntungan ekonomi. Hal yang paling penting adalah bahwa konsep ini menawarkan alternatif teknologi yang aplikatif berdasarkan prinsip keberlanjutan (sustainable)

 

Pengelolaan terpadu mangrove-tambak diwujudkan dalam bentuk sistem budidaya perikanan yang memasukkan pohon mangrove sebagai bagian dari sistem budidaya yang dikenal dengan sebutan wanamina (silvofishery). Silvofishery pada dasarnya ialah perlindungan terhadap kawasan mangrove dengan cara membuat tambak yang berbentuk saluran yang keduanya mampu bersimbiosis sehingga diperoleh kuntungan ekologis dan ekonomis karena mempertimbangkan kepedulian terhadap ekologi (ecologycal awareness)

 

Fungsi mangrove sebagai nursery ground sering dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan perikanan. Keuntungan ganda telah diperoleh dari simbiosis ini, selain memperoleh hasil perikanan yang lumayan, biaya pemeliharaannya pun murah, karena tanpa harus memberikan makanan setiap hari. Hal ini disebabkan karena produksi fitoplankton sebagai energi utama perairan telah mampu memenuhi kebutuhan untuk usaha budidaya tambak, berarti disini terwujud efesiensi.

 

Pengelolaan budidaya ikan/udang di tambak melalui konsep silvofishery, disamping sangat efisien juga mampu menghasilkan produktivitas yang cukup baik dengan hasil produk yang terjamin keamanannya karena merupakan produk organik (non-cemical). Bukan hanya itu konsep ini juga mampu mengintegrasikan potensi yang ada sehingga menghasilkan multiple cash flow atau bisnis turunan antara lain adalah bisnis wisata alam (eco-taurism business) yang sangat prospektif, pengembangan UMKM pengolahan produk makanan dari buah mangrove, disamping bisnis turunan lainnya.

 

 

Beberapa Model Silvofishery

Secara umum terdapat tiga model tambak silvofishery, yaitu; model empang parit, komplangan, dan jalur. Selain itu terdapat pula tambak sistem tanggul yang berkembang di masyarakat. Pada tambak silvofishery model empang parit, lahan untuk hutan mangrove dan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air. Pada tambak silvofishery model komplangan, lahan untuk hutan mangrove dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan mangrove dan empang (Bengen, 2003). Tambak silvofishery model jalur merupakan hasil modifikasi dari tambak silvofishery model empang parit. Pada tambak model ini terjadi penambahan saluran-saluran di bagian tengah yang berfungsi sebagai empang. Sedangkan tambak model tanggul, hutan mangrove hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak jenis ini yang berkembang di Kelurahan Gresik dan Kariangau Kodya Balikpapan. Berdasarkan 3 pola silvofishery dan pola yang berkembang di masyarakat, direkomendasikan pola silvofishery kombinasi empat parit dan tanggul. Pemilihan pola ini didasarkan atas pertimbangan:

  1. Penanaman mangrove di tanggul bertujuan untuk memperkuat tanggul dari longsor, sehingga biaya perbaikan tanggul dapat ditekan dan untuk produksi serasah.
  2. Penanaman mangrove di tengah bertujuan untuk menjaga keseimbangan perubahan kualitas air dan meningkatkan kesuburan di areal pertambakan.

Luas permukaan air di dalam tambak budidaya jenis mang-rove yang biasanya ditanam di tanggul adalah Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp. Sedangkan untuk di tengah/pelataran tambak adalah Rhizophora sp. Jarak tanam mangrove di pelataran umumnya 1m x 2m pada saat mangrove masih kecil. Setelah tumbuh membesar (4-5 tahun) mangrove harus dijarangkan. Tujuan penjarangan ini untuk memberi ruang gerak yang lebih luas bagi komoditas budidaya. Selain itu sinar matahari dapat lebih banyak masuk ke dalam tambak dan menyentuh dasar pelataran, untuk meningkatkan kesuburan tambak.

 

Kabupaten Subang sebagai model pengembangan silvofishery

Pemanfaatan mangrove untuk silvofishery di Kabupaten Subang saat ini mengalami perkembangan yang pesat, karena system ini telah terbukti mendatangkan keuntungan secara ekonomis bagi pembudidaya dan nelayan. Adalah Syamsuddin (45 th) yang saat ini menggawangi Koperasi Langgeng Jaya di Ds. Langen Sari Kecamatan Blanakan Kab. Subang yang kemudian menginisiasi pengembangan silvofishery di Subang khususnya di Desa Langen sari. Menurutnya, sejak tahun 1990 sebenarnya Silvofishery telah mulai dikenalkan dan dikembangkan di Kabupaten Subang atas inisasi dari Perhutani yang kemudian mereka sebut dengan konsep Wanamina. Awalnya mereka sangat prihatin dengan terjadinya kerusakan hutan mangrove akibat ulah yang tidak bertanggungjawab sehingga fungsi barrier dan ekologis sudah tidak ada lagi, akibatnya secara langsung berdampak pada menurunnya daya dukung tambak udang, yang berujung pada kegagalan produksi udang windu yang dibudidayakan.

Alhasil , saat ini melalui kelembagaan koperasi yang ia pimpin telah mampu menginisiasi dan mendorong pengelolan budidaya bandeng dan udang dengan konsep wanamina tersebut. Menurut Syamsuddin, ada beberapa keuntungan ganda yang pembudidaya dapatkan dari penerapan konsep wanamina ini : Pertama : jika dibanding teknologi intensif, maka budidaya dg konsep ini lebih terjamin keberlanjutannya walaupun produktivitas jauh lbh kecil; kedua : daya dukung lahan lebih terjaga karena memegang prinsip ramah lingkungan; ketiga : produk yang dihasilkan lebih aman karena tidak menggunakan pakan dan obat-obat kimiawi (organik); keempat : mampu menghasilan usaha turunan, antara lain eco-wisata (wisata wanamina), dan UMKM untuk pengolahan makanan dari buah mangrove (kripik dan sirup).

Saat ini menurut Syamsuddin luas lahan tambak silvofishery yang ada di Desa Langensari saja telah mencapai lebih dari 265 ha. “Kalau di total secara kesluruhan lahan silvofishery di Kabupaten Subang angkanya bisa mencapai lebih dari 2.000 ha”, imbuhnya. Pengembangan silvofishery ini sempat menarik perhatian dari para kalangan ilmuan. Menurutnya, ilmuwan dari Jepang bersama para peneliti dari IPB sempat berkunjung untuk  melihat secara langsung konsep yang dikembangkan, dan mereka menyatakan tertarik untuk melakukan kajian lebih lanjut sebagai model bagi kawasan lain. “Kami mengharapkan dukungan Pemerintah, untuk terus mendorong berkembangnya konsep silvofishery khususnya di Kabupaten Subang, karena konsep inilah yang menurut kami mampu menjamin keberlanjutan usaha budidaya karena secara langsung memegang prinsip dan nilai-nilai kearifan lokal”, jelas Syamsuddin.
[Sumber : Cocon, S.Pi]

http://www.djpb.kkp.go.id