Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan (rGH) part 1

“Sebuah Harapan Baru Untuk Perikanan Indonesia”

Pertumbuhan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha budidaya perikanan. Pertumbuhan yang lambat akan menyebabkan lamanya waktu pemeliharaan dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan, lamanya waktu pemeliharaan juga akan meningkatkan resiko-resiko dalam pemeliharaan, seperti terserang penyakit, kematian massal, dan sebagainya.

Berbagai upaya penelitian telah dilakukan untuk meningkatan laju pertumbuhan ikan budidaya, khususnya ikan-ikan yang pertumbuhannya lambat, seperti rekayasa lingkungan budidaya dan rekayasa pemberian pakan  atau dengan meningkatkan kandungan protein pakan. Namun kandungan protein pakan yang tinggi dapat meningkatkan kadar amoniak dalam perairan, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan budidaya

Metode transgenesis juga sudah banyak dikembangkan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang molekuler. Kajian-kajian rekayasa genetika dalam bidang akuakultur sudah banyak diaplikasikan sejak tahun 1980-an dengan produk ikan transgenik yang pertama kali dilaporkan di Cina pada tahun 1985 . Kemudian hingga saat ini teknologi transgenesis terus berkembang dengan memberikan banyak keuntungan dan kelebihan, di antaranya adalah gen yang diintroduksi dapat terintegrasi dengan genom resipien dan selanjutnya dapat ditransmisikan ke keturunannya

Selain memberikan banyak keuntungan dan kelebihan yaitu salah satunya dapat meningkatkan laju pertumbuhan ikan 30 kali lebih cepat dari ikan normal, seperti yang dilakukan oleh Nam et al. (2001) dengan mengintroduksi gen penyandi hormon pertumbuhan (GH) ke ikan mud loach (Misgurnus mizolepis). Namun demikian, saat ini teknologi transgenesis masih menimbulkan kontroversi dan kekhawatiran akan keamanan dalam mengkonsumsi organisme transgenik tersebut (foodsafety) atau disebut juga dengan GMO (Genetically Modified Organism), sehingga perlu ada cara lain untuk mengatasi masalah tersebut.

Penggunaan Protein Rekombinan Hormon Pertumbuhan (rGH) ikan diduga sebagai salah satu metode alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan ikan budidaya, penggunaan protein rGH ikan dalam meningkatkan produktivitas atau pertumbuhan ikan budidaya dilakukan dengan prosedur yang aman (Willard 2006 dalam Acosta et al. 2007), sehingga ikan yang diberikan rGH bukan merupakan organisme GMO (Acosta et al. 2007) dan rGH tersebut tidak ditransmisikan ke keturunannya.

Pada ikan, seperti juga pada hewan-hewan vertebrata lainnya, pertumbuhan sel somatik diatur oleh adanya poros pertumbuhan, pituitari sebagai tempat penghasil hormon pertumbuhan (GH) merupakan suatu komponen pengatur yang penting dalam poros ini (Reinecke et al. 2005). GH memainkan peranan yang penting dalam mengatur banyak aspek fisiologi, termasuk pertumbuhan (Cavri et al. 1993), metabolisme (Rousseau and Dufour. 2007), osmoregulasi (Sakamoto et al. 1997), fungsi kekebalan tubuh (Yada et al. 1999) dan reproduksi (McLean et al. 1993). Penggunaan hormon pertumbuhan dalam berbagai aplikasi sudah banyak dilakukan, namun prosedur yang ada untuk mendapatkan hormon tersebut sangatlah rumit, selain itu hanya diperoleh dalam jumlah yang sedikit (Kawauchi et al. 1986; Yasuda et al. 1992). Hal ini disebabkan karena konsentrasi hormon pertumbuhan yang dihasilkan secara biologi oleh sel khusus pada kelenjer pituitari sangat kecil. Oleh sebab itu perlu dikembangkan metode yang efisien untuk menghasilkan hormon ini dalam jumlah besar melalui teknologi protein rekombinan.

Sumber : http://lppm.ipb.ac.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s