Budidaya Patin

1.    Pendahuluan
Ikan patin adalah ikan yang saat ini banyak digemari, bukan hanya dari kelezatan dan proteinnya yang tinggi akan tetapi daging ikan patin tidak banyak duri seperti ikan mas atau ikan ikan lain. Selain untuk di konsumsi langsung ikan patin juga banyak terdapat di pemancingan pemancingan dimana untuk ikan ini tidak banyak membutuhkan kadar oksigen tinggi dalam air sehingga seperti di kota kota besar atau daerah yang sulit sumber mata air ikan ini sangat cocok untuk di pancingkan dan dijadikan sarana hiburan murah. Pada budidaya ikan patin tidak jauh beda dengan budidaya–budidaya ikan lain dimana pada budidaya ikan ini terbagi kedalam 3 fase budidaya yaitu pembenihan , pendederan dan pembesaran.
2.    Pembenihan
Pada pembenihan ikan patin indukan ikan patin haruslah diatas 2 kg dan berusia diatas 2 tahun dimana indukan harus terpisah antara jantan dan betina, ini memudahkan pengontrolan serta penyortiran (seleksi Induk siap pijah). Setelah kita mendapatkan induk betina yang telurnya dianggap matang yang ditandai dengan perut buncit dan bila dipegang perut lembek, Untuk pemijahan ikan patin biasa menggunakan hormone, baik itu Ovaprim maupun hipofisa dimana untuk dosis penyuntikan adalah 0,5-0,7  ml /kg ikan indukan. Penyuntikan ini dilakukan 2 kali, penyuntikan pertama 1/3 dan setelah 8 jam diilakukan penyuntikan ke 2 dilakukan dengan dosis 2/3 nya. Media tempat penyimpanan indukan yang telah disuntik haruslah ideal, dalam arti bak harus tertutup dan bak berbentuk bulat dengan ketinggian lebih dari 1 meter, ini bertujuan indukan yang telah disuntik tidak stress yang berakibat pada kualitas telur. Biasanya setelah 6 – 12 jam  setelah penyuntikan ke 2, ikan siap di striping telurnya untuk diaduk dengan sperma yang telah dia ampur NaCl.

Untuk budidaya fase pembenihan ini haruslah pada area/lokasi yang steril, sedangkan media untuk tebar telur bisa menggunakan akuarium, fiber atau bak tembok, dan ini disesuaikan dengan kondisi suhu dan kebiasaan si pembudidaya.
3.    Pendederan
Telur yang telah netes pada media akuarium, fiber ataupun bak haruslah di sipon atau dibersihkan dari kotoran yang berasal dari cangkang telur atau telur yang busuk dan tidak menetas. Ada hal yang harus diperhatikan yaitu ketika telur sudah menetas kita pun harus segera menyiapkan pakan, dimana pakan yang biasa diberikan adalah Artemia.
Artemia ditetaskan pada media fiber yang berbentuk kerucut atau bisa dibuat dari galon air minum, dalam proses penetesan artemia haruslah menggunakan air asin yang sebanding dengan kadar garam air laut, artemia akan menetes setelah 24 jam.
PH air pada media ikan haruslah berkisar antara 6-7 dan tidak mengandung kadar logam yang tinggi, sedangkan untuk suhu harus diatas 27 derajat.
Pada hari ke 2 sampai hari ke 7 pemberian pakan artemia haruslah teratur selama selang 1-2 jam. Setelah ikan berusia 8-10 hari maka ikan patin sudah siap diganti sumber makannya dengan cacing atau dapnia.
Pada masa pendederan ini biasa berusia 30-40 hari ke masa pemanenan dan berukuran kisaran 1.5 -2.5 cm dan ikan sudah siap dipanen untuk selanjutnya diseleksi untuk di pindah pada media yang lebih besar dalam hal ini ikan sudah masuk pada fase pendederan 2.
Pendederan 2 dilakukan selama 40-45 hari yang nantinya pada masa panen akan berukuran kisaran 2-2.5 inc.
4.    Pembesaran
Pembesaran ikan patin bisa dilakukan di bak tembok, kolam tanah, jaring terapung dan keramba disungai.
Pada dasarnya budidaya pembesaran ikan patin tidak jauh beda dengan ikan lele dimana media, suhu, kapasitas tebar dan pola makan hamper sama précis dengan budidaya pembesaran ikan lele. Pakan yang biasa digunakan adalah pellet apung yang ber kadar protein diatas 28%, namun untuk menekan biaya produksi maka untuk pakan bisa diganti dengan pakan buatan yang cara pembuatannya cukup sederhana yaitu:
1.    Ikan asin Bs
2.    Pungkil kelapa
3.    Singkong permentasi ( singkong yang telah direndam selama 4-6 hari)
4.    Dedak halus

Kesemua bahan diatas diaduk hingga halus, lalu sebagai pengental ditambahkan lagi dedak secukupnya.
Untuk kadar dan dosis bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan ukuran ikan. Sedangkan untuk standar pemberian pakan biasanya 3-4% dari bobot ikan.

Deny Rusmawan – DeJee Fish – Ketua APPG

Advertisements